-->

Kronik Toggle

Jualan Skripsi: Dari SD Hingga S3 Lakukan Kecurangan

Jakarta – “Siapa Lagi Yang Mau Lulus Skripsi Dalam 1 Hari? Kami Sediakan Untuk Anda”. Begitu bunyi iklan salah satu penjual skripsi lewat situsnya Jepstudio.com. Si penyedia jasa menawarkan setidaknya 1.500 judul skripsi yang sudah jadi.

Untuk mendapatkan 1.500 karya skripsi dari berbagai jurusan ilmu tersebut, penjual mematok harga Rp 75 ribu. Harga tersebut sudah termasuk ongkos kirim untuk seluruh Indonesia.

Bagi peminat yang akan memesan, cukup mengisi form yang ada di situs tersebut, berikut alamat pengiriman. Setelah mengklik pemesanan, pembeli langsung mendapat pesan singkat untuk untuk mengirimkan uang ke rekening Bank Mandiri atau BCA atas nama Jovan Esa Putra.

Selanjutnya, begitu uang sudah terkirim maka paket “Mega Skripsi” langsung diantar ke alamat pembeli. Itulah salah satu cara yang dilakukan para penjual skripsi.

Sejak 2008, bisnis penjualan skripsi via internet semakin marak. Arief Rahman, pengamat pendidikan mengatakan, bisnis semacam ini marak karena banyak mahasiswa sekarang yang tidak mau capai menyusun skripsi. Mereka cukup mengeluarkan uang ratusan ribu sudah beres dan tinggal menunggu wisuda.

“Sudah sejak lama budaya luhur di bidang pendidikan sudah luntur. Masyarakat lebih mengagungkan otak dibanding watak, serta lebih mementingkan nilai dibanding ilmu itu
sendiri,” jelas Arief.

Karena perilaku semacam ini, tambah Arief, banyak orang yang silau dengan titel. Sekalipun titel tersebut didapat dengan cara tidak jujur. Parahnya lagi, kata Arief, kecurangan atau plagiat itu dilakukan oleh murid-murid SD sampai mahasiswa S3. “Ini kebobrokan yang menyeluruh. Dari tingak SD sampai S3 kecurangan semacam itu terjadi,” jelasnya.

Fenomena semacam ini menurutnya, disebabkan para pelajar maupun mahasiswa lebih memilih kelulusan dibanding kejujuran. Padahal nilai terpenting dalam belajar adalah kejujuran itu sendiri.

Selain faktor kemalasan dan kecurangan mahasiswa, salah satu penyebab jual beli skripsi ini lantaran dosen pembimbing tidak cermat dalam memeriksa hasil skripsi dari para mahasiswa.

“Pengawasan dosen pembimbing sangat penting untuk mencegah terjadinya plagiat dalam penyusunan skripsi,” jelas Rektor Institut Teknologi Bandung Prof. Djoko Santoso
kepada detikcom.

Menurut Djoko, sebenarnya untuk melihat apakah skripsi yang dibuat mahasiswa apakah original atau tidak sangat mudah. Hal tersebut bisa dilihat dari eksperimennya atau
hasil penelitian di lapangan.

“Dari uji hasil eksperimen tersebut bisa terlihat apakah mahasiswa tersebut benar-benar membuat skripsinya sendiri atau tidak,” jelasnya.

Djoko kemudian memastikan kecurangan atau plagiat skripsi tidak terjadi di kampus ITB. Alasannya proses bimbingan skripsi dilakukan dengan sangat ketat. Lagipula, katanya, mahasiswa ITB banyak yang berusaha sungguh-sungguh.

Namun keterangan pengamat pendidikan Arief Rahman lain lagi. Menurutnya, kecurangan atau plagiat yang dilakukan mahasiswa kemungkinan terjadi di seluruh lembaga pendidikan  Indonesia tidak terkecuali ITB.

* Diunduh dari “Laporan Khusus” detik.com edisi 30 November 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan