-->

Lainnya Toggle

Jejak Debat Ihwal Tirto Adhi Soerjo Jelang 7 Desember

Tirto-Adhi-Soerjo-Poster-WE

[REDAKSI: Indonesia Buku, sejak 18 November 2006 hingga 7 Desember 2007 melakukan riset intensif dunia pers Indonesia. Dalam riset itu, Indonesia Buku melakukan dua hal: (1) mematok Medan Prijaji sebagai tonggak Pers Nasional yang patut diberikan tempat yang layak; (2) Menjadikan hari wafatnya Tirto Adhi Soerjo yang pedih sebagai Hari Jurnalistik Indonesia. Selain riset ini menghasilkan tiga buku (Seabad Pers Kebangsaan: 1907-2007; Seabad Pers Perempuan: 1908-2008; Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia; dan Karya-Karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo), 400 desain terbaru sampul-sampul pers sejak 1744-2007, juga melahirkan polemik dan kritik dari mereka yang melihat telah terjadi kekeliruan besar dalam riset ini, terutama sekali ketika mengambil Tirto Adhi Soerjo dan Medan Prijaji sebagai tonggak pers kebangsaan. Untuk memperingati Hari Jurnalistik Indonesia (HaJI), maka seluruh jejak perdebatan itu akan diturunkan di sini jejaringnya. Semoga bermanfaat.]

ARTIKEL I

Pertanyaan soal metodologi Indexpress (7 Juni 2007)

Oleh: Andreas Harsono

Dear Agung,

Terima kasih untuk emailnya. Kami senang Pantau masuk kategori organisasi yang diperhitungkan dalam proyek “Seabad Pers Indonesia” buatan Indexpress. Ini suatu penghargaan buat Pantau mengingat dalam 100 tahun terakhir ini ada ribuan, bila tidak puluhan ribu, organisasi media di kepulauan yang kini disebut “Indonesia.”

Ada beberapa rekan saya, termasuk Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, menganjurkan saya melihat dulu konsep dan metodologi seleksi ini sebelum menjawab pertanyaan Anda. Mereka alumni sekolah sejarah. Mereka juga pernah menerbitkan buku kumpulan pidato Soekarno Revolusi Belum Selesai. Mereka berpendapat setiap penulisan sejarah harus diketahui konsep dan metodologinya. Mengapa Pantau dan Flores Pos yang masuk kategori Indexpress? Mengapa bukan mingguan Modus? Suara Perempuan Papua? Harian Borneo Tribune?

Anda menyebut Bataviasche Nouvelles yang terbit 1744-1746. Mengapa patokannya bukan 1744? Mengapa bukan Tjahaja Sijang yang terbit di Minahasa sejak 1868? Atau Soerat Chabar Betawie di Batavia (1858)? Mengapa patokannya Medan Prijaji?

Saya merujuk data-data tadi dari tiga buku: (1) Abdurrachman Surjomihardjo (ed), Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia, Penerbit Buku Kompas, 2002; (2) David Henley, Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indie, Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Leiden, 1996; (3) Claudine Salmon, Literature in Malay by the Chinese of Indonesia: A Provisional Annonated Bibliography, Association Archipel, Paris, 1981.

Selengkapnya klik di sini

ARTIKEL II

Menjawab Agung Dwi Hartanto dari Indexpress (13 Juni 2007)
Oleh: Andreas Harsono

Dengan hormat,

Saya minta masukan beberapa rekan saya sebelum menjawab permintaan wawancara dari Indexpress untuk proyek “Seabad Pers Kebangsaan” atau “Seabad Pers Indonesia.” Kami dengan senang hati menjawab pertanyaan Anda. Kami juga membaca beberapa laporan Indexpress di harian Jurnal Nasional. Rasanya elok juga organisasi Pantau dipilih masuk dalam 365 media yang diberi label “kebangsaan” ini.

Namun kami perlu mengungkapkan keraguan kami terhadap metodologi kerja Indexpress maupun pemilihan tahun 1907. Anda menjelaskan kepada saya, “Medan Prijaji sebagaimana diketahui adalah pers yang sejak pertama terbit diawaki pribumi. Tirto Adhi Soerjo juga yang mendirikan NV Medan Prijaji.”

Tjahaja Siang, kalau kami tak keliru, sebelum diawaki pribumi menjadi milik zending Belanda. Demikian juga dengan Soerat Chabar Betawi. Koran ini bukan milik pribumi. Tirto juga mengadvokasi rakyat Hindia Belanda, meskipun dirinya keturunan Jawa. Terutama sepak terjangnya mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah. Hingga akhirnya organ ini tersebar di pelbagai daerah di Hindia Belanda. Sebelum akhirnya tanah dan air itu disebut Indonesia.”

Selengkapnya klik di sini

ARTIKEL III

Nama Saya: Tirtoadhisoerjo! (2 Juli 2007)
Oleh: Zen Rachmat Sugito

:: Tanggapan buat Andreas Harsono dari Yayasan Pantau (Jilid I)

“Quid Rides, Tirtoadhisoerjo?
Mutato nomine, de te fabulla narratur!”

Saya senang bukan main Anda memberi sejumlah komentar pada project “Seabad Pers Kebangsaan” yang sedang digarap oleh lembaga tempat saya bekerja. Komentar-komentar Anda dengan sangat senang hati saya cermati sebagai masukan, terutama, bagi diri saya sendiri.

Sebagai sebentuk kritik, komentar-komentar Anda tentu saja adalah berkah. Menjadi berkah karena mereka yang menggarap project ini tak perlu repot-repot meminta Anda membaca dan memberi komentar, seperti juga mereka tidak perlu repot-repot mengalokasikan “budget” untuk kritik-kritik yang Anda berikan –seperti yang sering Anda bilang: “Kritik adalah konsultasi gratis”.

Lagipula, komentar-komentar Anda menunjukkan satu hal penting: hasil project ini ternyata tak hanya dibaca, tetapi bahkan juga diapresiasi dengan serius, sampai-sampai Anda merasa perlu berkonsultasi dengan sejumlah rekan Anda sebelum menanggapi jawaban rekan saya, Agung Dwi Hartanto.

Tidak ada yang lebih membahagiakan seorang penulis selain tulisan-tulisannya ada yang membaca dan mengapresiasi. Rasanya elok juga menyadari salah satu yang “mengapresiasi dan memberi perhatian memadai” pada project yang digarap anak-anak muda yang tiga perempatnya masih berusia di bawah 25 tahun adalah orang sekaliber Anda.

Terus terang, saya tak ikut menggarap project tersebut, baik dalam tahapan kuratorial, riset, penulisan, dan penyuntingan. Tetapi, tentu saja, saya “satu atap” dengan orang-orang yang menggarap project itu.

Sebagai “orang dalam”, yang tak terlibat langsung tapi intens mengikuti perjalanan project ini, saya punya sejumlah umpan balik yang ingin saya ajukan pada Anda, terutama berkait dengan jawaban yang anda berikan pada rekan saya, Agung Dwi Hartanto.

Tentu saja ini bukan sebuah “jawaban resmi”, melainkan sekadar sebentuk diskusi pribadi antara saya dengan Anda. Dan saya pun tak merepotkan diri dengan berkonsultasi lebih dulu dengan rekan-rekan saya.

Soal pribumi dan non-pri yang anda khawatirkan.

Selengkapnya di sini.

ARTIKEL IV

Sahaja adalah Orang dari Bangsa jang Terprentah! (14 Juli 2007)
Oleh: Zen Rachmat Sugito
:: Tanggapan untuk Andreas Harsono dari Yayasan Pantau (Jilid II)

Menurut Anda, apa lawan kata “inlander” pada masa kolonial?

Jawaban atas pertanyaan ini, seperti yang akan coba saya tunjukkan, bisa menjelaskan salah satu alasan memilih Tirtoadisoerjo sebagai Sang Pemula!

Sekiranya pertanyaan itu diajukan beberapa tahun silam, saya akan menjawab: Nederlander (orang Belanda). Jawaban ini pula yang akan diberikan oleh orang-orang yang tidak cukup teliti membaca kompleksitas sejarah kolonial di Hindia Belanda. Orang dengan mudah menunjuk Nederlander sebagai “lawan kata” dari inlander karena sebutan “inlander” memang muncul dari mulut orang-orang Belanda, katakan saja, pemerintah kolonial.

Selengkapnya di sini

ARTIKEL V
Sejarah Pers Sumbar Dialih Orang Lalu (16 September 2007)
Oleh Nasrul Azwar

Harian Jurnal Nasional yang terbit di Jakarta, semenjak tanggal 1 Januari dan rencananya hingga 31 Desember 2007 setiap hari menerbitkan semacam kilas balik perjalanan sejarah pers nasional. Tulisan tentang pers itu hadir berkaitan dengan peringatan seabad pers nasional yang jatuh pada tahun 2007 ini. Dalam pengantar yang ditulis Taufik Rahzen disebutkan, tarikh ini dihitung sejak Medan Prijaji terbit pertama kali pada Januari 1907. Medan Prijaji adalah tapal dan sekaligus penanda pemula dan utama bagaimana semangat menyebarkan rasa mardika disemayamkan dalam dua tradisi sekaligus: pemberitaan dan advokasi. Dan dua kegiatan itu menjadi gong yang ditalu dengan nyaring oleh hoofdredacteur-nya yang paling gemilang di kurun itu: Raden Mas Tirto Adhi Surjo.

“Pada 1973, pemerintah mengukuhkan Raden Mas Tirto Adhi Surjo sebagai Bapak Pers Nasional. Sementara pada 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyempurnakan gelar itu menjadi Pahlawan Nasional atas jasanya menggerakkan kesadaran merdeka lewat jalan organisasi modern dan pergerakan nasional,” tulis Jurnal Nasional. Namun, dalam pengantar itu tidak dijelaskan alasan mengambil tarikh tersebut, yakni Januari 1907 sebagai awal terbitnya surat kabar Medan Prijaji dan titik awal mengukur usia kehadiran pers di negeri ini.

Sepanjang pembacaan saya terhadap sejarah pers (dan pers juga identik dengan penerbitan), dan juga hasil bacaan saya terhadap disertasi Sudarmoko yang dipertahankannya di Universitas Leiden, Belanda (2005) dan beberapa artikel Suryadi yang juga mengajar di Universitas Leiden, mengesankan, semenjak abad-19, pertumbuhan surat kabar dan dunia penerbitan di Minangkabau (Sumatra Barat) sangat signifikans.

Selengkapnya klik di sini

ARTIKEL VI

Pers, Sejarah dan Rasialisme (12 Oktober 2007)
Oleh Andreas Harsono

KALAU Anda memperhatikan harian Jurnal Nasional di Jakarta, Anda takkan sulit melihat sebuah logo “Seabad Pers Nasional” di halaman depan. Di dalamnya, Anda akan menemukan logo serupa dan sebuah kolom. Ia setiap hari menyajikan satu sosok organisasi media. Proyek ini diasuh oleh Taufik Rahzen, seorang penasehat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, redaktur senior Jurnal Nasional, sekaligus pemimpin Indexpress, organisasi yang menaungi kolom ini.

Menurut Rahzen, tahun 2007 adalah seabad pers nasional. Tarikh ini dihitung sejak Medan Prijaji terbit pertama kali pada Januari 1907. Medan Prijaji adalah “tapal dan sekaligus penanda pemula dan utama bagaimana semangat menyebarkan rasa mardika disemayamkan dalam dua tradisi sekaligus: pemberitaan dan advokasi.” Dua kegiatan itu dilakukan oleh hoofdredacteur-nya Tirto Adhi Surjo. Jurnal Nasional menghadirkan 365 koran, yang mereka anggap ikut membangun nasionalisme Indonesia. Hitungannya, antara 1 Januari hingga 31 Desember 2007, ada 365 hari. Jadinya, 365 media dalam 365 kolom.

Saya berpendapat ada 150 tahun sejarah sebelum Medan Prijaji, yang harus diperhitungkan oleh siapa pun yang hendak bikin ulasan sejarah media di Hindia Belanda. Kalau mau mencari data siapa yang terbit lebih awal, Abdurrachman Surjomihardjo dalam Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia menyebut suratkabar Bataviasche Nouvelles, yang terbit 1744-1746, atau sekitar 150 tahun sebelum Medan Prijaji, sebagai penerbitan pertama di Batavia.

Mengapa patokan Taufik Rahzen bukan 1744? Mungkinkah karena Bataviasche Nouvelles diterbitkan dalam bahasa Belanda? Kalau patokannya bahasa Melayu, Claudine Salmon dalam Literature in Malay by the Chinese of Indonesia, menyebut suratkabar-suratkabar berbahasa Melayu, antara lain milik orang Tionghoa, misalnya Soerat Chabar Betawie (1858), terbit sekitar 50 tahun sebelum Medan Prijaji? Salmon membuktikan bahwa suratkabar-suratkabar Tionghoa Melayu ini berperan dalam penyebaran bahasa Melayu di seluruh Asia Tenggara, termasuk Hindia Belanda.

Selengkapnya klik di sini

ARTIKEL VII

Taufik Rahzen: “Tak soal bila ada yang tak sepakat dengan patok ini” (26 November 2007)

Membaca keseluruhan kritik Andreas Harsono (untuk selanjutnya disebut si pengkritik) atas projek Seabad Pers Kebangsaan, terkesan begitu takutnya ia dengan kata “Pribumi”. Ia begitu alergi dengan kata itu dan, gilanya lagi, justru konsisten dalam salah kaprah pemakaiannya untuk semua waktu. Seakan-akan memakai kata “pribumi” sudah berarti rasial. Ah, jika seorang yang memakai kata “pribumi” adalah seorang yang rasialis, maka seluruh aktor pergerakan akan menjadi seorang rasialis. Karena pada masanya, kata itu adalah kosakata sehari-hari di medan komunikasi.

Saya tak perlu membahas tulisan si pengkritik itu. Yang ingin disampaikan di sini adalah apa sih persisnya “metodologi” yang dipakai memilih Tirto. Karena menyangkut soal metodologi, maka saya menghubungi saja penanggung jawab projek pematokan Seabad Pers Kebangsaan di mana namanya turut disebut-sebut si pengkritik (3 kali) dan sekaligus menyebutnya rasis. Wow, tuduhan yang menyakitkan. Iya kalau disertai dengan struktur berpikir yang benar, kalau tidak, kan bisa menjadi senjata makan tuan.

Ini dia hasil pancingan saya di kolam pemancingan di Dusun Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul.

Muhidin M Dahlan (MMD): Apa pentingnya Pak Taufik berpayah-payah menggali agar pers ini punya tokoh yang jadi rujukan nilai?

Taufik Rahzen (TR): Sama halnya kamu nanya apa pentingnya Nabi Muhammad bagi umat Islam. Dan Yesus buat Kristen. Dan apa pentingnya seorang presiden bagi sebuah negara.

Selengkapnya klik di sini

ARTIKEL VIII

“Ngobrol” dengan Mas Tirto dan Pramoedya (27 November 2007)

Oleh: Zen Rachmat Sugito

:: tanggapan terakhir untuk andreas harsono dari yayasan pantau

Tadi malam saya menggelar ritus jelangkung. Saya merapal mantra dalam sebuah genisa al-kitabiah: “Jelangkung jalangse… datang tak dijemput pulang tak diantar. Hwarkadalah Hoooo…..”

Dengan kemurahan hati, mereka kini mau keluar dari pendiangan mereka masing-masing. Ada tiga yang segera meloncat di meja bulat-tidak persegi-juga-tidak setelah namanya saya sebut tiga kali: “Mas Tirto” (Tirtoadisoerjo), Bung Pram (Pramoedya Ananta Toer) dan Gus Durrahman (Abdurrachman Surjomihardjo).

Saya pun langsung keluarkan secarik surat terakhir dari Andreas Harsono (selanjutnya ditulis “Kritikus Kita”): “Pers, Sejarah dan Rasialisme by Andreas Harsono”.

“Mas Tirto, Bung Pram, Gus Durrahman kenal penulisnya?” tanya saya. Mas Tirto melihat kertas itu dan menggeleng. Bung Pram hanya merogoh kantong dan menyalakan sebatang kretek. Adapun Gus Durrahman malah mendongakkan kepala.

“Kalau saya, apakah Anda semua kenal juga?” Ketiganya serempak tertawa dan bilang berbareng: “Tidakkkkkkkkk!” (Sambil mengucapkan itu, Mas Tirto menempelkan jari-jarinya di bibir bawah, Bung Pram menempelkan dua telapak tangannya di pipi dan Gus Durrahman cengir-cengir sambil garuk-garuk kepala)

Tapi lupakan kenal-mengenal sepihak itu. Mari kita bahas tuduhan yang penting-penting saja. Saya mulai saja dari Gus Durrahman yang namanya dikutip di pragraf ketiga oleh Kritikus Kita itu.

Selengkapnya klik di sini

3 Comments

Saut Situmorang - 07. Des, 2009 -

soal istilah “Indonesia” yang begitu banyak dipakai di atas, ini masukan dari saya. Bangsa Batak itu baru dikalahkan secara formal historis oleh kekuatan kolonial pemerintah Hindia Belanda yang berpusat di Batavia setelah tentara kolonial berhasil membunuh Raja Si Singamangaraja XII pada bulan Juni 1907. jadi, “Indonesia” yang kalian maksudkan itu definisi teoritisnya apa? mematok “Sejarah” dari “Indonesia” itu pada realitas kolonisasi atas Jawa adalah sebuah definisi yang sangat goyah secara historis. kita memerlukan sebuah “Sejarah Indonesia” yang lebih fair dan adil agar “Sejarah Indonesia” itu tidak lagi diartikan cumak sebagai “Sejarah Kolonialisme Belanda atas Jawa”!!! cheers!

kristina - 29. Apr, 2011 -

mengenai buku tentang tirto adhi soerjo, bisa kah anda memberikan informasi tentang sumber lain yang bisa saya dapatkan.buku yang berjudul tirto adhi soerjo, seabad pers kebangsaan, seratus jejak pers indonesia telah saya miliki. kalau ada informasi buku baru tentang tirto adhi soerjo tolong kabari saya

Gus Muh - 01. Mei, 2011 -

Karya Tirto Adhi Soerjo di Perpustakaan Gelaran Ibuku adalah:

Karya-Karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo: http://indonesiabuku.com/?p=735

Sang Pemula
http://ucs.jogjalib.net/index.php?p=show_detail&id=88509

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan