-->

Kronik Toggle

Ini Kata Mereka Soal Pelarangan Buku

u/sweeping buku seperti buku Prof. Magnis tidak selayaknya terjadi (Budi Darma-sastrawan)
Saya sudah membeli dan membaca salah satu bukunya yaitu Lekra Tak Membakar Buku. Saya tak melihat dimana terjadi pelanggaran terhadap ketertiban umumnya. Buku ini justru mencerahkan dan menginspirasi. Kita bisa mendapat informasi secara berimbang. Tidak melulu info sepihak dari Rezim Orba. Ini benar-benar tragedi akhir tahun bagi bangsa ini.(Yordan M Batara Goa-PDIP Jatim)
Cara-cara pembredelan/pembakaran oleh siapapun baik kelompok/lembaga /institusi adalah cara usang, tidak intelek. Cara terbaik adalah melaui peradilan. Pengarang/penerbit harus bertanggungjawab. Cegah cara-cara orba. (Sabrot D Maliobro-Ketua Dewan Kesenian Surabaya)
Demokrasi memberi keberhasilan bagi setiap orang untuk berpendapat dan berekspresi. Buku merupakan salah satu bentuk ekspresi dan pendapat individu. jika ada data dan opini yang dianggap merugikan, mestinya pihak yang merasa dirugikan menggugat ke pengadilan, bukan menggunakan instrumen kekuasaan tanpa pembuktian. Apabila hal itu terjadi, Waspadalah, bayi demokrasi itu akan dipaksa mati muda (Ahmad Suhawi- Ketua PENA Indonesia)
Pembredelan buku itu primitif. Mereka hanya mungkin memberangus penerbitan, tetapi tidak akan mungkin memberangus fakta dan pemikiran (Agus Pramono ‘Ambon’-Pusham UNAIR)
Pembakaran buku/sweeping buku seperti buku Prof. Magnis tidak selayaknya terjadi (Budi Darma-sastrawan)
Lawan terus. Pelarangan itu mesti dikutuk. Bangsa yang beradab tak pernah melarang atau membredel buku (Halim HD-Budayawan)
Pelarangan buku merupakan tabiat rezim-rezim otoriter. Rakyat tidak bebas menentukan pilihan dan penilaiannya sendiri terhadap kandungan / muatan suatu buku. Dalam kedunguan rezim otoriter, substansi suatu buku dapat dianggap menggoyahkan kekuasaannya (Andreanaline Katarsis-Aktivis Bandung)

Redaksi portal www.indonesiabuku.com yang merupakan saudara kandung Merakesumba mendapat beberapa sms dan pesan di facebook yang menyatakan penolakan atas pelarangan buku Lekra Tak Membakar Buku bersama 4 buku lainnya oleh Kejaksaan Agung. Berikut ini rekamannya:

Saya sudah membeli dan membaca salah satu bukunya yaitu Lekra Tak Membakar Buku. Saya tak melihat dimana terjadi pelanggaran terhadap ketertiban umumnya. Buku ini justru mencerahkan dan menginspirasi. Kita bisa mendapat informasi secara berimbang. Tidak melulu info sepihak dari Rezim Orba. Ini benar-benar tragedi akhir tahun bagi bangsa ini. (Yordan M Batara Goa-Mahasiswa Pasca Sarjana UGM, tinggal di Surabaya)

Cara-cara pembredelan/pembakaran oleh siapapun baik kelompok/lembaga /institusi adalah cara usang, tidak intelek. Cara terbaik adalah melaui peradilan. Pengarang/penerbit harus bertanggungjawab. Cegah cara-cara orba. (Sabrot D Maliobro, Ketua Dewan Kesenian Surabaya)

Demokrasi memberi keberhasilan bagi setiap orang untuk berpendapat dan berekspresi. Buku merupakan salah satu bentuk ekspresi dan pendapat individu. jika ada data dan opini yang dianggap merugikan, mestinya pihak yang merasa dirugikan menggugat ke pengadilan, bukan menggunakan instrumen kekuasaan tanpa pembuktian. Apabila hal itu terjadi, Waspadalah, bayi demokrasi itu akan dipaksa mati muda. (Ahmad Suhawi, Ketua PENA Indonesia)

Pembredelan buku itu primitif. Mereka hanya mungkin memberangus penerbitan, tetapi tidak akan mungkin memberangus fakta dan pemikiran. (Agus Pramono ‘Ambon’, Pusham UNAIR)

Pembakaran buku/sweeping buku seperti buku Prof. Magnis tidak selayaknya terjadi. (Budi Darma, Sastrawan, Surabaya)

Lawan terus. Pelarangan itu mesti dikutuk. Bangsa yang beradab tak pernah melarang atau membredel buku (Halim HD, Budayawan, Solo)

Pelarangan buku merupakan tabiat rezim-rezim otoriter. Rakyat tidak bebas menentukan pilihan dan penilaiannya sendiri terhadap kandungan / muatan suatu buku. Dalam kedunguan rezim otoriter, substansi suatu buku dapat dianggap menggoyahkan kekuasaannya (Andreanaline Katarsis, Aktivis Bandung)

1 Comment

Azmi - 26. Des, 2009 -

Pelarangan buku jelas mengerdilkan peran penulis yang ingin mengabarkan kebenaran. Membuat buku-phobia menjadi fenomena yang membuat orang bertanya-tanya: apa yang sebenarnya ditakuti dari sebuah buku?
Akankah bangsa ini menjadi buta baca dan lumpuh menulis…?

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan