-->

Tokoh Toggle

Hernadi Tanzil:Resensor dari Balik Pabrik Kertas

tanzil Sekalipun ia sudah mengetahui esensi sebuah buku sebelum membaca tuntas hingga halaman akhir, pantang baginya untuk membuat resensi buku sebelum berhasil tamat membacanya. Komitmennya adalah meresensi semua buku yang telah dibaca, bukan berapa kali atau berapa banyak ia meresensi buku. Dan Hernadi Tanzil  telah menamatkan membaca 33 buku selama kurun waktu satu tahun (2009). Dari 33 itu, 32 buku telah ia tuliskan resensinya.

Kegemaran Tanzil meresensi bermula saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran kesukaannya. Ketika mendapat tugas menulis rangkuman buku “Layar Terkembang” (Sutan Takdir Alisyahbana) ia pun girang. Bagi Tanzil, itu adalah tugas yang menyenangkan. Dan ia mendapat komentar ‘sangat memuaskan’ dari sang guru. Semangatnya untuk menulis resensi buku pun terletup di titik itu.

Tanzil merasa terfasilitasi gairahnya menulis resensi ketika mengenal internet di tahun 2000-an. Ia mulai mengikuti milis pasarbuku dan rajin mengirimkan resensi buku yang dibacanya. Tanzil menemukan kebahagiaan manakala mendapati komentar rekan-rekan milis-nya yang merasa terbantu untuk memilih buku dengan adanya resensi itu. Karena sesungguhnya, tujuan Tanzil meresensi buku adalah ingin membagi pengalamannya ketika membaca buku.

Ketekunan menulis resensi di milis itu menarik perhatian majalah lifestyle bulanan, Djakarta!Magazine. Tanzil kemudian diminta mengisi rubrik resensi buku secara tetap. Buku pertama yang diresensinya yaitu Siddharta (Herman Hesse). Sejak saat itu, Tanzil mulai rutin meresensi buku-buku yang dibacanya.

Biasanya Tanzil meresensi di rumah, pada malam hari sepulang ia bekerja. Tapi karena kesibukannya sebagai akuntan di sebuah perusahaan kertas, ia tak pernah menulis sekali jadi. Terkadang butuh berhari-hari untuk menyelesaikan sebuah resensi. Tanzil mengerjaknnya di sela-sela waktunya bekerja di kantor. Misalnya pagi hari sebelum jam kerja dimulai, ia sempatkan untuk menulis. Demikian pula saat isitirahat jam kerja, meski hanya beberapa paragraf, Tanzil menyempatkan untuk menulis. Resensinya pun mulai bertebaran di Koran Tempo, Media Indonesia, Surabaya Post, Batam Post, Matabaca, Djkarta!Magazine, dan majalah sastra ‘Aksara’.

Ketika blog mulai popular di internet, Tanzil pun membangun rumah bukunya di www.bukuygkubaca.blogspot.com. Tak sia-sia, berkat komitmen dan ketekunannya membaca dan meresensi buku, portal berita online detik.com memasukkannya dalam daftar pemenang blog award minggu pertama bulan Juni 2009.

Tanzil membaca segala macam buku. Baginya, tak ada buku yang buruk. “Seburuk-buruknya sebuah buku pasti ada sesuatu yang bisa diperoleh dari buku yang buruk tersebut”, tutur Tanzil pada i:boekoe. “Buku adalah benda yang tak dapat dipisahkan dariku. Aku membutuhkun buku selayaknya membutuhkan pakaian. Bagiku buku adalah kebutuhan utama agar aku bisa mengisi setiap sel dalam otakku dengan berbagai imajinasi dan pengetahuan. Buku adalah  adalah sebuah sumber segala pengetahuan, saya meyakini dalam sebuah buku ada sebuah mutiara kehidupan yang harus kita cari dan peroleh dengan cara membacanya. Jika buku adalah tempat  memperoleh berbagai mutiara kehidupan, maka membaca adalah cara untuk mendapatkannya”.

Saking cintanya pada buku, rumahnya pun dipenuhi oleh buku. Ketika rak besar yang ia sediakan tak mampu lagi menampung buku-bukunya, ia pun menitipkan di meja belajar anaknya,  rak TV, ruang makan, lemari mainan anak, hingga mengungsikannya ke meja kantor. Tanzil berkeinginan kelak dapat memiliki perpustakaan pribadi yang berisi ribuan buku.

Buku-buku itu ia kumpulkan sejak ia SMP. Buku-buku trend semasa mudanya adalah semacam Agatha Christie dan Trio Detektif. Namun Tanzil kecil tak menemukan banyak buku di rumahnya. Yang sempat ia ingat adalah komik Petruk Gareng dan komik HC Andersen. Orang yang berjasa mengenalkannya pada buku adalah kakaknya dan pamannya. Sang kakak berlangganan majalah BOBO, dan Tanzil ingin sekali membacanya namun karena belum lancar membaca, ia meminta bantuan kakak untuk membacakannya.

Sementara sang paman adalah penyedia istana buku bagi Tanzil kecil. Sekolah Tanzil berdekatan dengan rumah paman, maka setiap pulang sekolah ia pasti mampir ke rumah paman sambil menunggu jemputan atau diantar pulang. Di rumah paman itulah Tanzil mulai bergaul dengan buku. Ada banyak buku disana mulai dari buku-buku berambar Disney, komik-komik lokal (Si Buta dari  Goa Hantu, Si Pitung, dll), buku-buku fotografi, hingga buku-buku ensiklopedi.

Ketika libur sekolah tiba, Tanzil kecil menemukan tempat berlibur yang juga menjadi istana bukunya. Salah satu kerabatnya meminta keluarga Tanzil menjaga rumahnya ketika mereka  pergi berlibur ke luar negeri. Di rumah itu ada banyak sekali buku-buku seri Lima Sekawan, Trio Detektif, Hardi Boys, dan sebagainya. Liburan pun menjadi menyenangkan bagi Tanzil, “Ketika membaca buku, saya seperti sedang menaiki mesin waktu yang bisa membawa saya kemana saja, ke berbagai masa dan tempat”

Menggumuli demikian banyak buku, Tanzil memiliki kecenderungan untuk menyukai 3 jenis buku. Pertama adalah buku rohani karena dengan membaca buku rohani Tanzil mengaku imannya semakin kuat dan bertumbuh sehingga ia memiliki bekal dan landasan dalam menjalani kehidupan. Kedua buku-buku sejarah dan budaya karena melalui buku-buku ini ia bisa memahami akar budaya dan sejarah Indonesia. Kemudian yang ketiga adalah novel-novel sastra. Melalui novel-novel sastra ia belajar mengenal dan memahami  berbagai realita yang ada dalam kehidupan manusia.

Diantara semua buku-buku yang telah dibacanya itu, Tanzil menyebut lima buku yang mengesankannya:

1. Alkitab, karena dalam Alkitab akan ditemukan apa sebenarnya karya Allah bagi manusia, dan bagaimana seharusnya bertindak sebagai mahluk ciptaanNya. Alkitab adalah buku terfavorit yang selalu Tanzil baca setiap hari.

2. Tetralogi Pulau Buru (Pramoedya Ananta Toer) Melalui Tetralogi ini Tanzil belajar sejarah jejak-jejak nasionalisme Indonesia. Selain itu buku ini juga membuatnya belajar bagaimana harus menentukan sikap terhadap ketidakadilan terhadap kemanusiaan.

Meski ketekunannya meresensi telah mendatangkan buku-buku gratis dari penerbit ke pangkuannya, Tanzil masih menyimpan dua buku impiannya, yaitu (1) buku yang membahas tentang perpustakaan-perpustakaan hebat yang ada di dunia lengkap dengan foto-foto, sejarah perpustakaan, profil pustakawan, dan pernik-perniknya, serta (2) buku yang membahas tentang resensi buku secara lengkap: sejarah resensi buku (kapan pertama kali ada resensi buku), tokoh-tokoh resensor terkenal di dunia, jenis-jenis resensi buku, dan sebagainya. (Diana AV Sasa)

Profil:

Nama                                      : Hernadi Tanzil

Alamat                                   : Taman Kopo Indah 1 / D- 89 – Bandung

Tanggal lahir                       : 5 November 1970

Istri                                        : Evy Triana Tedja Lestari

Anak                                      : Sherine Analicia Tanzil ( 8thn)

Stevan Adrien Tanzil  ( 1,5 thn)

1 Comment

wahid - 03. Jan, 2010 -

saya termasuk orang yang sangat mengagumi beliau. semenjak tahun 2007, saya rutin mampir ke blognya, walopun sekedar lewat. hehe…
at least, ada banyak manfaat yang saya dapat dari membaca blog beliau yang sederhana itu… tetap semangat ya mas. tularkan semangat membaca Anda ke semua orang yang ada di kolong langit ini… terima kasih infonya 🙂

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan