-->

Lainnya Toggle

Gus Dur dan Buku yang Dibacanya

Oleh: Hernadi Tanzil

Jika menengok para tokoh pemimpin bangsa ini, akan terlihat bahwa dalam perjalanan hidup mereka, buku tak lepas dari keseharian mereka, salah satunya adalah Gus Dur. Mantan presiden RI pascareformasi ini waktu kecil pernah ditegur ibunya soal hobi membaca, seperti terungkap dalam buku Beyond the Symbols: Jejak Antropologis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur. “Jangan terlalu banyak membaca, nanti matamu rusak,” begitu kata sang bunda seraya membolak-balik halaman novel sastra putranya yang baru berumur 10 tahun.

Pada usia itu Gus Dur memang sudah akrab dengan buku-buku yang agak serius. Dari filsafat, cerita silat, sejarah, hingga sastra. “Saya ini enggak punya pacar. Teman main saya cuma buku dan bola,” celoteh Gus Dur mengingat masa itu.

Sejak di SMEP Gus Dur sudah menguasai bahasa Inggris. Ketika menjadi siswa sekolah lanjutan pertama tersebut, hobi membacanya semakin mendapatkan tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh gurunya untuk menguasai Bahasa Inggris, sehingga dalam waktu satu-dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris. Di antara buku-buku yang pernah dibacanya adalah Das Kapital karya Karl Marx, buku filsafat Plato, Thalles, novel William Bochner, Romantisme Revolusioner karangan Lenin Vladimir llych.

Karya Sastra yang dibacanya antara lain karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Di samping itu, ia juga membaca sampai tuntas beberapa karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa karya penulis Rusia, seperti: Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap habis beberapa karya Wiill Durant yang berjudul ‘The Story of Civilazation’. Yang paling berat karya Faulkner,” kenang Gus Dur.

Setamat dari SMEP Gus Dur melanjutkan belajarnya di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh K.H. Chudhari, sosok kyai yang humanis, saleh dan guru dicinta. Pada saat masuk ke pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi buku-bukunya, yang membuat santri-santri lain terheran-heran.

Ketika menjadi mahasiswa Universitas Al Azhar, hatinya malah tak terpuaskan. Untuk menghabiskan rasa bosan, Gus Dur menghabiskan waktu di salah satu perpustakaan yang terlengkap di Kairo, termasuk American University Library, serta toko-toko buku.

Pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, sebuah negara modern yang memiliki peradaban Islam yang cukup maju. Di kota seribu satu malam ini Gus Dur mendapatkan rangsangan intelektual yang tidak didapatkan di Mesir. Pada waktu yang sama ia kembali bersentuhan dengan buku-buku besar karya sarjana orientalis Barat. Ia kembali menekuni hobinya secara intensif dengan membaca hampir semua buku yang ada di Universitas.

Hobi membaca Gus Dur tampaknya tak pernah padam, walau kondisi fisiknya dan penglihatannya sudah melemah ia masih membaca buku baik itu dibacakan oleh asistennya maupun melalui audio book. Bahkan ketika dirawat di RS beberapa hari yang lalu menjelang wafatnya, putrinya, Yenny Wahid menuturkan pada para wartawan bahwa,”Saat ini (25/12/2009) Gus Dur sedang tiduran sambil baca buku dengan mendengarkan dari Audio Book,” jelasnya.

Dengan hobi membacanya itu tak heran sepanjang hidupnya Gus Dur tampak meyakinkan sebagai seorang pemikir, intelektual, budayawan, dan agamawan. Gus Dur mencurahkan sepenuh perhatiannya pada pengembangan pemikiran serta pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia. Jika menelusuri jejak Gus Dur sejak berkiprah menjadi ketua umum PBNU hingga menjadi presiden RI, tampak sejajar dengan apa yang dikatakan Henry Kissinger, “A great leader must be an educator, bridging the gap between the vision and the familiar. But he must also be willing to walk alone to enable his society to follow the path he has selected….”

* Hernadi Tanzil, pembaca buku. Tulisan ini dikutip dari berbagai sumber di Internet

6 Comments

Pustakawan - 31. Des, 2009 -

Dalam acara “Pram dan Kita”, tahun 2003, yang mana Gus Dur menjadi salah satu pembicara selain Mansour Fakih, Gadis Arivia, dan bersama Pramoedya tentunya. Gus Dur bercerita tentang pertemuannya dengan pemimpin Rusia, Putin, dalam rangka negosiasi pembelian peralatan militer. Dengan ringan Gus Dur bilang ke Putin bahwa ia sudah membaca karya-karya penulis Rusia seperti Tolstoy, Dostoevsky, dll. Namun Putin menanggapi dingin cerita Gus Dur. Lantas, Yenny Wahid yang menyertainya segera berbisik, yang kira-kira bilang begini, “Iki wong mung pingin bakulan, gak ruh dijak omong sastra.”

Hahaha…

Untunglah Gus Dur hanya bercerita tentang penulis-penulis tenar Rusia, dan tidak bilang bahwa dia pernah menulis pengantar untuk buku berjudul “Mati Ketawa Gaya Rusia” itu.

Tabik, Gus

Faruk Amrullah - 02. Jan, 2010 -

Sebuah teladan yang wajib di tiru oleh generasi bangsa ini…”budayakan membaca”,….selamat jalan gus,semoga Engkau berbahagia di alam sana.amin

wahid - 03. Jan, 2010 -

luar biasa!

badrun Jaman - 05. Jan, 2010 -

setuju…

badrun Jaman - 05. Jan, 2010 -

hade pisaaaaannnnn.. coba renungkan hai orang-org yang sngat benci kepda beliau.. mampu kah kamu memiliki edukasi seperti Gusdur???

Syaifuddin Gani - 12. Feb, 2010 -

Bacalah!

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan