-->

Resensi Toggle

Gie: Mati Sunyi si Pohon Oak

Gie_poster-WEBGie (2005)
Sutradara: Riri Reza
Pemain: Jonathan Mulia, Nicholas Saputra, Sinta Nursanti, Lukman Sardi
Film ini merupakan tafsir atas diari Soe Hok Gie berjudul Catatan Harian Seorang Demonstran

Oleh: Muhidin M Dahlan

”Saya mau menulis karena saya tahu saya anak penulis.”
(Gie)

Filsuf Friedrich Nietzsche menulis aforisma ini: ”Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua dilahirkan tapi mati muda. Dan yang paling sial adalah berumur tua.”

Gie menyimpan sebaik-baiknya bait aforisma yang diambil dari adegan percakapan antara Midas dan Silenus itu dalam buku hariannya. Sekaligus kata-kata itu menjadi kompas yang menuntun satu putaran hidupnya.

Ya, jalan yang digariskan aforisma itu dibayarnya tunai: mati muda pada usia 27 tahun. Di puncak kesunyian Mahameru.

Film ini menafsir potongan-potongan fragmen dunia Gie, sejak 17 Desember 1942 hingga 16 Desember 1969. Usia yang sangat sebentar. Tapi di sana kita menyaksikan sisi-sisi hidup Gie: seorang penulis catatan harian yang tekun, pembaca buku yang lahap, penonton film yang rakus, pencinta alam yang gigih, dan aktivis idealis di tengah pragmatisme politik yang menyesakkan kalbu.

Posisi Gie memang sulit. Ia lahir dan besar dari keluarga peranakan yang kerap menjadi sasaran ejekan lantaran sejarah kalangan ini di masa lalu sebagai middle class dalam pengertiannya yang negatif: money complex alias maniak ekonomi.

Tapi keluarga Gie adalah keluarga penulis. Cina kere. Jauh dari bayangan peranakan sukses secara finansial. Keluarga yang mempercayakan nasib berdiri kukuh di atas trisula: buku, kesederhanaan hidup, dan kemanusiaan.

Gie menyerap secara baik-baik nilai itu. Sejak kecil ia bergulat dengan buku-buku. Hampir setiap hari ia membaca buku-buku berat. Ke mana-mana buku dikepitnya. Soekarno, Tagore, Steinbeck, Gandhi, Nietzsche, Tolstoy, Lenin, Marx, Sartre, dan Camus.

Asupan bacaan yang begitu banyak itulah yang membangun struktur berpikirnya yang lugas, kritis, dan melawan arus. Watak itu yang mengantarnya menjadi seorang pesimis. Tapi pesimisme Gie adalah pesimisme yang turut serta terjun dalam aksi-aksi. Karena nilai tak akan kokoh dan liat kalau tak diuji dalam medan sejarah.

Dan Gie ambil bagian dalam arus sejarah itu dengan satu prinsip yang ia pundaki sampai mati: ”Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menantang angin.”

Ketika badai politik menyapu seluruh sudut kampus dan mahasiswa terfaksi-faksi oleh kelompok dan afiliasi partai, Gie dengan caranya sendiri mengambil posisi ”netral”. Yang ia tahu hanyalah bahwa aktivis harus membela kebenaran tanpa pretensi apa pun. Kebenaran itu seksi, maka diperlukan cara-cara terseksi untuk memperjuangkannya.

Salah satu cara terseksi menegakkan kebenaran adalah menulis dan berdemonstrasi.

Gie turut ambil bagian turun ke jalan-jalan melawan kekuasaan Soekarno bersama aktivis-aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Hingga kekuasaan itu rubuh ke tanah.

Tapi ia lantas masygul bahwa militer yang diusungnya untuk menghabisi kekuasaan Soekarno tak lebih dari rezim pembunuh. Di peralihan rezim itu, teman-temannya aktivis bergerombol-gerombol ambil bagian dan menjadi pembesar.

Mestinya Gie bisa memperbaiki nasibnya dengan mengambil sekerat roti dari ingar-bingar peralihan itu. Tak ada salahnya jalan itu. Wajar saja sebagai imbalan setelah mereka sukses mencongkel golongan-golongan tua dari tahta kekuasaan.

Tapi Gie punya wajah lain. Sikap lain. Sukses itu tak boleh lantas membuat kita menepuk-nepuk dada kesombongan dan berhak mengambil secuil keuntungan untuk perbaikan nasib. Jika itu dilakukan, tulis Gie, seorang intelektual telah mengkhianati perannya.

Bagi Gie, seorang intelektual adalah mirip sikap seorang kalangwan yang didefinisikan Zoetmulder, yakni sejenis cendekiawan ”religio poetae”. Sikap askese itu kita temukan dari selarik kalimat Gie yang menyentuh: ”Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita takkan pernah kehilangan apa-apa…”

Karena tak memiliki kepentingan atas kekuasaan itulah Gie bebas melakukan kritik atas kebobrokan politik ditebar kekuasaan dalam semua wajahnya. Bahkan kepada kekuasaan di mana dia turut andil mengangkatnya.

Gie dikenal pembenci Soekarno dan PKI. Tapi tidak karena itu kemudian membenarkan seorang pembenci untuk membantai yang dibencinya secara barbar dan biadab. Apalagi diembel-embeli mendapat “restu” dari Tuhan.

Maka ditulisnya sebuah artikel yang kemudian menjadi artikel pertama yang ditulis cendekiawan Indonesia ihwal aksi pembantaian yang tiada taranya di era modern ini: ”Di sekitar pembunuhan besar-besaran di pulau Bali”.

Artikel itu—juga artikel-artikel kritis lainnya—yang melempar Gie di pojok sepi sejarah. Seorang diri dengan jalan menulis menantang arus pragmatisme yang menohok-nohok akal sehat cendekiawan setelah revolusi padam. Seperti pohon oak, ia melangkah lurus dengan idealisme yang memberontak. Sendiri tanpa massa dan pasukan. Ia hanya berkawan dengan mesin tik, buku-buku, juga nalar yang sehat dan bersih.

Dengan pilihan jalan seperti itu, bukan hanya teman-temannya yang segaris meninggalkannya, tapi juga selingkungannya dalam kampus. Gie sungguh sadar dengan itu. Tapi baginya ia lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan seperti yang tercetak di catatan hariannya pada 30 Juli 1968.

Dan pohon oak yang pemberani itu tak cukup hanya (di)asing(kan). Ia, di tengah jiwa yang sesak dan melankoli, tersungkur di keharibaan sunyi. Di atas puncak Mahameru, ia berjumpa takdirnya: mati muda.

* Esai ini dimuat dalam Penggila Buku: 100 Catatan di Balik Buku (IBOEKOE/DBUKU, 2009)

John Maxwell juga pernah menulis biografi Soe Hok Gie, yang barangkali menjadi satu-satunya buku terlengkap yang mebahas sosok Gie. Resensi buku itu bisa disimak di sini.

1 Comment

Aya katarai - 16. Des, 2009 -

The eagle flies alone…..(riswanda himawan)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan