-->

Kronik Toggle

JJ Rizal, Direktur Penerbit KoBam Dipukuli

JAKARTA—Tindakan main hakim sendiri kembali dilakukan oknum Polisi. Celakanya, tindakan ini dilakukan pada seorang korban salah tangkap. Korban adalah JJ Rizal (35), seorang Sejarawan dari Universitas Indonesia.

Kejadian berawal saat lima anggota Polsek Beji sedang memburu pelaku tindakan kriminal di depan pusat perbelanjaan Depok Town Square (Detos), Depok, Sabtu (5/11). Tanpa alasan yang jelas, lima oknum polisi berpakaian preman menyergap Rizal. Peristiwa ini berlangsung pada pukul 23.45 WIB. “Saya saat itu baru turun dari stasiun Pondok Cina. Kebetulan saya lewat di depan Detos. Tanpa alasan yang jelas lima orang yang tidak saya kenal langsung menyergap saya,” jelas Rizal.

Kedatangan lima pria yang tidak dikenal ini kontan mengejutkan Rizal. Merasa dirinya terancam, Rizal pun berterik meminta pertolongan. Teriakan Rizal ternyata tidak digubris lima oknum Polisi ini. Justru tindakan kekerasan dilakukan oleh para pria bertubuh tegap tersebut.

“Lima orang itu langsung memukuli saya bertubi-tubi. Mereka juga sempat menodongkan pistol ke arah saya,” ujarnya, menjelaskan kronologi pristiwa.

Menurut ahli Seajarah Betawi ini, tindakan main hakim sendiri yang dilakukan aparat kepolisian ini berlangsung selama lima belas menit. Menurut pengakuannya, saat peristiwa terjadi, lokasi peristiwa sedang dipadati masyarakat yang sedang menyaksikan konser musik.

“Saya sempat berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang menolong. Saya sempat teriak mana Polisi..mana Polisi..Nah saat saya teriak itu, seorang petugas menunjukkan identitasnya. Saat itulah saya baru tahu kalo lima orang itu adalah oknum polisi” tambahnya. Setelah babak belur, Rizal Kemudian dibawa ke kantor Polsek Beji. Di kantor Polsek Beji, Rizal sempat diintroagasi petugas.

“Saat proses introgasi ini barulah Polisi mengetahui jika saya korban salah tangkap. Kapolsek Beji sempat minta maaf. Dia juga sempat bilang ke saya ; Seharusnya anda tidak melawan, karena melawan anda disikat,” ujar Rizal sembari menirukan perkataan dari Kapolsek Beji.

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Penerbit Komunitas Bambu ini kemudian melaporkan peristiwa yang ia alami ke petugas Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya, Ahad (6/11). Ia turut di dampingi oleh tim kuasa hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta.

Menurut pengakuan Rizal, dirinya sempat ditawari jalan damai oleh pihak Polsek Beji, namun dirinya menolak tawaran itu. “Menurut saya ini bukan perkara damai atau tidak. Ini berkaitan dengan sistem. Kalau sistemnya begini terus banyak orang yang tidak bersalah bisa menjadi korban,” jelasnya sesaat setelah melapor ke petugas SPK.

Dalam laporan resminya bernomor 3517/K/XII/2009/SPk Unit III, Rizal mengadukan pihak-pihak yang melakukan tindakan pengeroyokan. “Kami mengadukan pihak-pihak yang terlibat dalam tindak pengeroyokan,” ujar Ivan Wibowo, kuasa hukum dari LBH Jakarta. Peristiwa yang dialami Rizal, mengingatkan pada peristiwa pengkapan sopir angkot, Suabagyo (33) di Depok, Selasa (17/11) silam. Saat itu Subagyo ditembak mati polisi akibat bermain judi receh. Tindakan Polisi ini sempat menuai kecaman dari masyarakat luas.

Ironisnya, dalam tempo kurang dari satu bulan, tindakan kesalahan prosedur oknum polisi kembali terjadi, kali ini terhadap Rizal. Lokasi peristiwanya pun masih di seputaran Depok. Kondisi inimenjadi sebuah peringatan bagi jajaran Polda Metro Jaya tepat di hari jadinya ke 60. Sebagai korban dari tindakan oknum Polisi, Rizal berpendapat, tujuan polisi untuk mengayomi dan melindungi masyarakat masih sangat jauh dari harapan.

“Kata-kata mengayomi dan melindungi masyarakat seperti yang selama ini diucapkan dan dijanjikan oleh polisi tidak saya rasakan. Polisi harusnya memiliki tata krama dalam menangani orang yang dicurigai,” ujar Rizal. Kepada Polisi, Rizal berharap agar peristiwa ini menjadi pelajaran bagi Polisi untuk membenahi sistem yang ada selama ini. “Ini seperti blessing in disguise (rahmat yang tersembunyi) bagi Polda Metro Jaya untuk berbenah terutama di hari jadinya ke 60,” pungkasnya. c02/pur

*) Dikronik dari Republika online edisi 6 Desember 2009 dengan judul “Salah Tangkap, Sejarawan UI Dipukul Polisi

1 Comment

Petrie - 08. Des, 2009 -

wah polisi kok gini ya?
Apa mungkin dulu Schout Hine yang nangkap Pitung juga maen salah tangkap juga? padahal Pitung belum tentu punya Foto.
Untung JJ Rizal bukan Pitung, kalo gak tuh Polisi sok jago itu bisa babak belur dihajar si Otong van Rawa Belong ini….
Kelima polisi itu mungkin dulu masuk POLRI nyogok???
Mungkin banyak orang menganggap Polisi bukan mencari kebenaran tapi membuat pembenaran atas semua aksinya

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan