-->

Kronik Toggle

Dari Catatan Harian Jadi Buku

”Sripta manent, verba volant…”
(Yang tertulis akan terus mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin)
Tak berlebihan jika ungkapan tersebut menjadi cambuk bagi penulis buku Para Penggila Buku: 100 Catatan Dibalik Buku Muhidin M Dahlan dan Diana AV Sasa untuk semakin giat berkarya. Lewat tulisan seseorang dapat secara bebas menampilkan detail pengalaman hidup yang belum tentu keesokan pagi akan berulang.


Banyak orang yang mengaku kesulitan untuk membuat karya tulis, dan mengungkapkan pengalaman dalam bentuk tulisan. Menurut Sasa, hal tersebut lazim terjadi karena seseorang tersebut tidak memiliki kebiasaan untuk menulis. Padahal, dengan lihai merangkai dan mencurahkan pikiran dalam lewat kata-kata di catatan harian mereka dapat menjadi penulis dan penggagas yang andal.


”Tidak peduli apapun profesi seseorang tersebut, kegiatan menulis dapat dilakukan siapa saja tanpa terkecuali,” jelasnya pada saat bedah buku di Ruang Sidang FKIP UNS, Rabu (9/12).


Berbagai cara untuk mengabadikan kejadian, dapat dilakukan dengan cara merekam lewat video, memotret maupun menulis. Berawal dari menuliskan detail kejadian, mengamati gerak-gerik dan melukiskan kejadian, sebuah tulisan akan menjadi hidup. Runtutnya tulisan, sambung dia, dapat membuat pembaca seperti ikut ambil bagian dari peristiwa itu.


”Orang terkadang menganggap peristiwa yang dilalui itu sesuatu yang biasa, tetapi bagi orang lain hal itu dapat menjadi pengetahuan bahkan inspirasi,” paparnya.


Dalam buku tersebut, Muhidin membagi delapan bab besar yang di antaranya kisah buku, revolusi buku, rumah buku dan guru buku. – Oleh : Dina Ananti Sawitri Setyani


*) Dikronik dari harian Solo Pos edisi 10 Desember 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan