-->

Kronik Toggle

Ciri Khas Penerbit DIY Bergeser

Yogyakarta — Penerbit buku di DIY dikenal memiliki ciri khas dan keunggulan khusus dalam menerbitkan buku-buku bertema sosial, politik, dan budaya yang bermutu. Namun, ciri khas dan keunggulan itu kini semakin memudar.

“Dulu kita sangat menjunjung tinggi idealisme dengan menerbitkan buku-buku ‘berat’ namun kini cenderung bergeser pada buku-buku praktis yang sesuai dengan tuntunan pasar,” kata Sholeh UG, Sekretaris Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DIY, dalam diskusi “Persepsi Media terhadap Dunia Buku dan Dunia Penerbitan serta Peranan Ikapi DIY”, Sabtu (12/12) di Yogyakarta.

Ia mengakui, perubahan karakter buku-buku yang diterbitkan ini didorong perubahan permintaan pasar. Selera pasar kini telah berubah dibandingkan dengan 10 tahun lalu setelah reformasi yang didominasi buku bertema sosial, politik, dan budaya. “Kini permintaan pasar lebih banyak pada buku-buku praktis, sastra populer, dan buku-buku terjemahan. Sekarang cenderung yang penting buku laku dijual,” ujarnya.

Sholeh mengemukakan, era tahun 2000-2003 penerbitan buku DIY dibanjiri buku-buku bertema sosial, politik, dan budaya. Bahkan, buku-buku yang semula dilarang diterbitkan saat Orde Baru banyak diterbitkan oleh penerbit DIY. Ia tidak menampik hal itu didorong oleh eforia reformasi 1998.

Meskipun begitu, sejak awal penerbit DIY tetap lebih berani dan menjunjung idealisme dibandingkan dengan penerbitan dari daerah lain. Saat penerbit di luar DIY menerbitkan buku-buku “aman”, banyak penerbit DIY menerbitkan buku-buku “perlawanan”. Sholeh mengemukakan, ada kegelisahan internal Ikapi DIY terhadap perubahan arah penerbitan buku DIY itu.

Namun, untuk terus bertahan menerbitkan buku “serius”, penerbit menghadapi tantangan besar melawan selera pasar. Salah satu kendala yang dihadapi adalah bila buku dititipkan di toko buku, dalam waktu tiga bulan tidak laku maka akan dikembalikan. Optimistis

Ketua Ikapi DIY R Syarif Tholib menuturkan, Ikapi DIY optimistis menyambut tahun 2010. Optimisme ini didorong semakin membaiknya perekonomian nasional. Ikapi DIY memprediksi akan ada kenaikan 20-30 persen terbitan buku baru. Setiap bulan diperkirakan diterbitkan rata-rata 350 judul buku baru.

* Dikronik dari Harian Kompas Jogja, 14 Desember 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan