-->

Suplemen Toggle

Agus ‘Baqul’: ISI Membuat Saya Begal

Agus-Baqul-Purnomo-WEBKendal, 19 Agustus 1975

Inilah cerita saya. Sejak SMA nyaris setiap hari saya ke perpustakaan. Membaca buku-buku umum dan terutama sekali kisah-kisah tokoh karena saya ingin sekali menjadi penemu seperti tokoh-tokoh itu: Faraday, Watt, Bell, Einstein, Eddison, Bonaparte, Gadjah Mada, dan sebagainya. Buku-buku agama juga saya baca dengan baik. Maksudnya dibaca tuntas.

Namun semuanya berubah saat masuk Institut Seni Indonesia (ISI) di Jogjakarta. Saat sekolah di ISI itu ke perpustakaan tinggal sesekali. Itu pun hanya melihat gambar-gambar buku. Warna-warnanya. Pasalnya, bukunya pakai bahasa Inggris semua. Tebal-tebal lagi.

Mesti diakui ISI memang memberi saya rumah besar setelah jatuh bangun melukis. Tapi ISI juga merenggut kebiasaan membaca buku saya yang dulunya tekun. Ini sudah pasti karena pengaruh lingkungan mahasiswa ISI yang memang bukan lingkungan pembaca buku.

Yang lebih parah lagi, setelah lulus dari ISI minat ke perpustakaan sudah tamat. Ke toko buku pun untung-untungan saja. Dua bulan sekali sudah bagus. Itu pun kalau toko bukunya ada di mall saja.

Bukan hanya soal kebiasaan membaca buku yang hilang, fakta yang lebih dalam lagi, ISI itu juga membuat saya menjadi manusia begal. Padahal dulunya saya itu masuk gerakan anti Pancasila dan memiliki cita-cita mulia mendirikan Negara Islam di Indonesia. Taat hukum Allah. Perempuannya harus berjilbab besar. Mesti salat lima waktu. Tahajud jangan lupa. Pejuang Islam yang kaffah. ISI ini yang ”memurtadkan” semuanya.

Dari hidup di ”zaman edan” di ISI itu pengertian ihwal membaca itu ikut-ikutan jadi simpel. Membaca itu bukan lagi sekadar baca buku dan memahami teori-teori. Dengar radio, nonton tivi tetangga, melihat gejala-gejala selingkungan, mendengar teman-teman bicara sana teriak sini, atau kasir yang menghitung dan utak-atik angka, itu adalah praktik membaca.

Dengan praktik membaca seperti itulah saya memahami seni kontemporer yang susungguhnya saya sendiri bingung merumuskannya. Seni kontemporer itu ya mungkin seperti tempe. Hadir di depan langsung. Sikat saat itu juga karena kalau tidak tempe akan basi. Mungkin begitu pengertiannya. Saya juga bingung. Tapi saya yakin begitu. Seperti tempe(rer).

Makanya membaca majalah itu adalah praktik dari kontemporer itu. Karena dari majalah-majalah itu, saya mendapatkan kebaruan-kebaruan. Terutama dalam desain dan warna. Dulu sewaktu kuliah, buku-buku dari perpustakaan dan matakuliah di ISI kita disuguhkan warna-warna pelukis masa lalu yang sudah pudar-pudar. Majalah-majalah kontemporer membuat warna lebih bersih dan menarik.

Merespons situasi yang bergejolak dalam masyarakat juga adalah praktik dari kontemporer itu. Saya masih ingat sepanjang tahun 1999-2000 bagaimana seniman Jogja merespons gedebuk perubahan sosial politik itu dengan menggambar tubuh-tubuh yang bergejolak. Termasuk saya melukis Dangerously Day.

Dari kebiasaan belanja di mall—yang kemudian saya sebut ”Akhir Bulan yang Bodoh”—lalu muncul seri lukisan “Vortex 8”. Mall itu wajah kontemporer dan menjadi pusat refleksi dan pusat frustasi saya atas kekuasaan angka-angka. Di mall, semuanya diukur dari angka dan digit. Hukum mall: makin besar angka yang punyai, makin terhormat Anda. Makin sedikit jumlah angka Anda, makin sudra tingkat sosial Anda. (Muhidin M Dahlan)

Tiga Buku yang Mempengaruhi Hidup Saya

(1)  Cindy Adams, Penyambung Lidah Rakyat (1966)

(2)  Onghokham, Soekarno dan Perjuangan Indonesia.

(3)  Danarto, Godlob (1975)

KATAKATA

Faktanya, bukan fuck ya, ISI membuatku tak bisa lagi membaca buku secara intens, bahkan jarang dengar radio dan nonton televisi karena rumahku memang tak ada dua benda itu. Praktek beragama pun sudah pudar. Tapi insya Allah saya suka jalan dan belanja ke mall. (Agus ’Baqul’ Purnomo)

Agus berbagi pengalaman memabukkan dalam pameran Pusaran 8 (Vortex). Perwujudan 8 di sini merujuk pada lambang tak berhingga yang dirotasi sembilanpuluh derajat, menagakkan kenyataan tentang potensi tak terbatas yang hadir dalam seni untuk memproses pengalaman baik maupun buruk menjadi daya kreasi. Karya-karyanya menawarkan jendela presepsi pada dunia. Elemen visual direduksi menjadi angka-angka dasar, namun keutuhannya mewujudkan mikrokosmos abstrak nan cantik yang merayu kita untuk mereka-reka ulang dan menelisik kembali makrokosmos tempat kita hadir. (Kadek Krishna Adidharma)

DATA HIDUP

Nama: Agus Purnomo

Ttl: Kendal, 19 Agustus 1975

Sekolah: Institut Seni Indonesia Jogjakarta, 2005

Penghargaan

1999 Finalis Nokia Art Award

Pameran Tunggal

2008 ”Vortex 8”, Tembi Contemporary, Yogyakarta

2001 ””Ruang Tanpa Ruang”, Gelaran Budaya, Yogyakarta

5 Comments

rain rose - 01. Des, 2009 -

weladalah!!!!

wahyu nugroho - 06. Des, 2009 -

Cukup mengejutkan tulisan orang sekelas Agus ‘Baqul’ di atas, yg bisa jadi semacam testimoni. Ternyata tdk jauh berbeda dg di kampus seni rupa saya dulu. Ceritanya nyaris sama. Dari kasus di atas dan juga ‘tradisi’ di kampus saya dulu, untuk sementara bisa diambil kesimpulan, bahwa sebagian besar mahasiswa seni rupa minat bacanya kurang. Mereka lebih tertarik dengan melihat gambar, daripada membaca tulisan (buku). Lebih tertarik pada teknis daripada teori.

Harapan saya, semoga tulisan ini dibaca oleh para pengelola kampus seni rupa, agar diciptakan suasana yang mendukung minat baca. Dan minat baca ini tidak hanya seputar pada buku-buku seni rupa saja, juga pada buku-buku yang lain.
Semoga……

Mbentoyong - 08. Des, 2009 -

Satu lagi penganut mbentoyongisme.

IBOEKOE - 08. Des, 2009 -

Yang mana yg mbentoyong, mas/mbak. Penulis artikel itu, agus baqul yg diwawancarai, atau wahyu nugroho yg komentar, atau rain rosidi yg terheran-heran main-main… hehehehehe

binda - 27. Des, 2009 -

Sebuah tulisan yang segar, jujur, menarik, lucu sekaligus ironis dan tragis. Bukannya seorang seniman tetap harus banyak baca sebagaimana profesi lain? Dari membaca ini mereka akan memperoleh kedalaman , shg ketika berkarya akan lebih apa ya kedalaman lagi. Karya dan senimannya akan lebih bermutu jika byk membaca, barangkali begitu.
Saya juga menyesalkan mengapa seni harus menjauhkan senimannya dari agama? Ada contoh seniman yang tetap agamis Bapak Alm Amri Yahya. Karya beliau diakui di dunia seni dan beliau tetap seorang yg religius.
Semoga kampus seni tidak menjauhkankan penghuninya dari buku dan Tuhan !

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan