-->

Kronik Toggle

Acep Syahril Luncurkan Buku "Negri Yatim"

AKARTA, KOMPAS.com – Penyair Acep Syahril (46), penyair yang selama puluhan tahun menjajakan puisi yang dia tulis sebagai media publikasi karya-karyanya di berbagai tempat di Indonesia, Senin (7/12) di Sanggar Mulya Bhakti Tambi, Indramaju, meluncurkan buku kumpulan puisi Negri Yatim.

Peluncuran akan ditandai dengan pembacaan puisi oleh Direktur Radhar Cirebon Yanto S Utomo dan dialog dengan narasumber penyair Afrizal Malna. Kepenyairan Acep yang gemar berdialog ke sekolah-sekolah untuk memasyarakatkan karya sastra khusus puisi itu, diulas tuntas oleh Afrizal Malna, pekerja seni terkemuka di Tanah Air, kata Acep Syahril, Sabtu (5/12) kepada Kompas.com di Jakarta.

Buku Negri Yatim adalah kumpulan puisi Acep yang kedua setelah kumpulan puisi pertamanya Ketika Indonesia Berlari (1995). Kumpulan puisi Negri Yatim merangkum 40 puisi Acep Syahril setebal 86 halaman, yang kesemuanya mengangkat tema-tema kritik sosial dengan pengantar Afrizal Malna bertajuk Kamera Politik yang Menghapus Titik dan Koma.

Salah satu puisinya Acep silakan nikmati satu-dua bait sajak negara bingung :

aku bingung istriku bingung anakku/

bingung mertua dan tetanggaku /

ikut-ikutan bingung seperti penyakit/

menular dari ketua rt rw sampai kepala/

desaku jadi orang bingung bahkan/

seluruh masyarakatnya pun jadi bingung/

akhirnya desaku berubah nama/

jadi desa bingung/

suatu hari untuk kesekian kali/

desa bingung dapat bantuan dana bergulir/

konon akan dibagikan ke masyarakat/

miskin lumayan buat bayar hutang/

nambah modal dagang serabi dan/

sisanya bisa buat beli obat gatal-gatal/

atau alergi tapi dasar desa bingung orang-orang kaya di desaku memohon /

kepada kepala desa agar namanya/

dimasukkan dalam daftar warga/

miskin lainnya/

cipratan dana bantuan pemerintah/

yang lumayan kecil itu kemudian/

dibagi rata kaya miskin tak beda yang/

berbeda hanya mentalnya saja yang kaya bisa berpenampilan miskin /

karena tak pernah puas dengan /

yang diperolehnya/

sedangkan yang miskin hanya puas/

pada kata-kata /

Menurut Afrizal, hampir seluruh puisi dalam kumpulan ini, lahir dari jalanan dan penderitaan rakyat kecil. Penyairnya, Acep Syahril, bagian dari dunia ini. “Dunia yang memiliki kebahagiaan, kegembiraan, kesederhanaan dan tragiknya sendiri. Dunia yang sepanjang waktu mereka, habis untuk bekerja, ” ujarnya .

Tetapi, dia melanjutkan, semua waktu, pikiran dan tenaga yang telah mereka keluarkan, tidak mengubah kemiskinan mereka. Kemiskinan dalam hal ini seakan-akan bukan lagi sebuah kondisi sosial-ekonomi yang bisa berubah. Melainkan ada di seki tar kita sebagai status yang permanen. Dan kita menyebut kondisi seperti ini sebagai produk penindasan struktural terhadap rakyat kecil. Sistem ekonomi yang tidak memberikan ruang kepada kemiskinan untuk bisa mengubah standart hidup menjadi lebih baik.

Apakah kemiskinan itu? Dalam salah satu puisi Acep (Ketika Kemiskinan Jadi Primadona) hal. 58, menggambarkan kemiskinan seperti ini: orang-orang di desaku tidak hanya beternak ayam kambing dan sapi tapi juga beternak orang dengan memilih pejantan subur yang b isa melahirkan anak-anak perempuan lalu mereka memupuk dan menunggunya hingga baligh lalu mereka menumpukan cita-cita dan harapan di pundak putri-putrinya dengan mendaftarkan mereka menjadi tenaga kerja indonesia di luar negeri sana dari arab cina jepang k orea taiwan sampai malaysia uang datang seperti diterbangkan angin dan memasuki kantong-kantong hidup mereka lalu istriku pun demam ketika menyaksikan istri tetanggaku datang dari pasar membawa belanjaan hasil uang kiriman anaknya di jepang lalu istri tet a nggaku yang lain cemburuan melihat bangunan rumah tetangganya berubah lalu istri-istri tetanggku yang lain pun berharap bisa melahirkan anak-anak perempuan lalu mereka mengirimnya ke luar negri dengan harapan bisa merubah nasib dan kehidupan mereka yang a kan datang ketika kemiskinan sudah jadi primadona.

Menurut Afrizal, kemiskinan sudah menjadi multi dimensi, tidak hanya sebagai korban dari sistem yang tidak menghitung adanya ruang perubahan politik-ekonomi atas keberadaan mereka. Sementara p ersoalan sosial yang diangkat dari jalanan dan penderitaan rakyat kecil ini, meliputi seluruh persoalan yang terjadi dan berlangsung di masyarakat kita. Dari mulai persoalan politik, PSK, ketimpangan sosial, koru psi, pendidikan dan persoalan hukum yang tidak pernah berpihak pada rakyat kecil. Semua mengalir seperti gaya penulisan Acep yang juga mengalir tanpa titik dan koma.

*) Dikronik dari OASE Kompas, 5 Desember 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan