-->

Kronik Toggle

Yessy Gusman: Jangan Bergantung pada Komputer

BANTAENG-SULSEL – Duta Baca Indonesia Hj Yessy Gusman mengingatkan para pelajar dan generasi muda pada umumnya untuk tidak bergantung pada pesatnya perkembangan teknologi komputer.

Teknologi memang merupakan bagian dari proses perkembangan budaya yang tidak bisa dihindari, tapi kita tak boleh bergantung kepada teknologi ini, katanya ketika berbicara pada talk show Gerakan Sayang Buku dan Ibu Suka Membaca yang berlangsung di halaman Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Minggu.

Artis layar lebar yang banyak membintangi film remaja era 1980/1990-an yang tampil bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantaeng Hj Lies F Nurdin itu mengatakan, dibanding buku, komputer masih banyak memiliki kekurangan.

“Kalau kita hanya mengandalkan computer, kita bisa saja kehilangan data, tapi buku kita bisa membawanya kemana saja kita mau. Kita bisa membaca di bawah pohon, di tengah sawah dan tempat-tempat santai lainnya, sementara computer, selain harganya masih mahal, juga sulit dibawa kemana-mana,” terangnya.

Selain belum semua orang bisa menjangkau harganya, juga belum semua orang bisa mengoperasikannya, tapi buku, asal sudah bisa membaca. Kita sudah bisa membawanya. Karena itu, ia menganjurkan kepada para siswa agar lebih mencintai buku.

Khusus kepada ibu-ibu yang sudah berusia, Duta Baca Indonesia itu menganjurkan membaca buku-buku yang memang disukai.

“Mungkin karena faktor usia, jadi kalau membaca, tak perlu lama. Yang penting bisa rutin,” urainya.

Ia kemudian memuji Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah dan Ny Hj Lies F Nurdin yang memiliki disiplin ilmu berbeda namun sesuai dengan kondisi alam di Kabupaten Bantaeng.

Perpaduan dua ilmu (pertanian dan perikanan) pak Bupati dan istrinya sangat membantu daerah ini. Menyinggung kiat membaca bagi ibu-ibu, pasangan Rano Karno dalam setiap film layar lebar itu mengatakan, tak perlu risau bila ibu-ibu menghadapi banyak kegiatan arisan.

Justru pada tempat perkumpulan seperti itu bisa memecahkan masalah bila ada buku mahal. Silahkan ibu-ibu patungan membeli buku dan dibaca bergantian. Setelah dibaca simpan di perpustakaan.

Di tempat lain, termasuk rumah sakit juga perlu dibuat pojok buku yang bisa memberi ilmu kepada penjaga pasien. Tentu saja buku-buku yang ditampilkan adalah masalah kesehatan, urainya.

Bila kesadaran membaca sudah tumbuh, ia berharap akan disertai keinginan untuk menulis. Ungkapkan dengan bahasa sederhana pengalaman yang ada agar muncul tulisan yang menampilkan budaya, kesenian dan sejenisnya sebab masalah ini tentu berbeda antara daerah yang satu dengan daerah lainya serta pengalaman orang yang juga berbeda-beda.

Melalui tulisan, orang lain yang membaca akan mengetahui kondisi dan adat-istiadat kebiasaan kita, tandasnya.(*)

*)Dikronik dari Antaranews 15 November 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan