-->

Lainnya Toggle

Wajah Offset

[REDAKSI: Artikel ini diambil dari lipatan suplemen majalah Tempo edisi 36/04, 9 November 1974, sebagai sebuah laporan pameran mesin cetak yang dipakai untuk penerbitan-penerbitan semasa di Hotel Indonesia. Selain mesin cetak, pameran itu juga menghadirkan perlengkapan pembuatan blok, mesin penjilid, mesin composing, dan sebagainya. Kini, suplemen itu kami ketik ulang sebagai arsip sejarah dunia perbukuan di Indonesia]

Salah satu macam alat penerangan lainnya — sekalipun bukan listrik — adalah yang bernama offset: sebuah kata yang ramai dibicarakan dunia penerbitan di Indonesia sekitar enam tahun lalu. Kini, nyaris semua penerbitan terkemuka dan dunia cetak-mencetak di sini gemar menggunakan itu mesin offset.

Rotary web offset misalnya, telah merubah wajah produksi suratkabar dan majalah. Sementara foto grafika termasuk bagian penting dan paling baik untuk menghasilkan warna yang jelas dengan mempergunakan bahan-bahan yang relatif murah. Sekali pun waktu yang diperlukan untuk mempersiapkan silinder-silinder membatasi penggunaannya dalam produksi suratkabar, hal tersebut kiranya tidak mengganggu atau malah lebih sesuai dengan proyeksi oplaag dan jumlah halaman berbagai harian dan majalah di Indonesia.

Di samping urusan cetak-mencetak-baik gravure, webb offset maupun letter press yang juga menarik adalah proses pencetakan yang ada hubungannya dengan kata kat2, gambar-gambar dan berbagai diagram, Juga dipamerkan perlengkapan pembuaan blok, mesin penjilid, mesin composing, mesin slotting, perlengkapan yang disebut type founry dan mesin-mesin pembungkus. Begitu pula dipamerkan rupa-rupa alat penghitung untuk menghitung tumpukan kertas dan karton dari berbagai tipe dan ukuran.

Pendek kata, alat-alat penghitung yang dipamerkan itu amat tepat untuk digunakan dalam pekerjaan yang sifatnya berulang-ulang. Sebuah perusahaan yang cukup terkenal akan mendemonstrasikan dua mesin penghitung kertas yang samasekali baru bagi Indonesia, sekalipun produk-produk lainnya dari perusahaan tersebut sudah terjual di sini. Yang tampaknya paling menarik adalah selectomat counter: sebuah mesin yang dirancang khusus untuk perusahaan percetakan kecil dan tidak mahal harganya. Perusahaan itu juga sudah tak asing lagi dengan produksi mesin cetaknya yang terjamin keamanannya (security printers). Dan 75% dari mesin-mesin penghitung tersebut sudah dipakai untuk menghitung uang kertas di banyak negeri termasuk uang Indonesia.

Masih banyak lagi hasil-hasil produksi Inggeris yang modern dan cocok untuk negara-negara berkembang bisa d isebutkan di sini.

Sekalipun dalam pameran kali ini baru sebagian kecil saja perusahaan-perusahaan yang mewakili setiap sektor bisa hadir. Tapi pameran industri yang bisa memberikan gambaran sekilas betapa majunya teknologi di Inggeris, tidak terlepas dari peranan bank-bank dagang di Inggeris yang membantu pembangunan.

Carol S. Parker yang menulis tentang ini, ada menyebutkan banyaknya lembaga-lembaga keuangan di Inggeris yang kegiatannya menyerupai “bank dagang”. Tapi sebenarnya nama itu hanya diperuntukkan bagi bank-bank senior yang lama sudah berdiri dan termasuk dalam The Accepting Houses Committee: sebuah nama yang membuat orang teringat akan nama keluarga besar seperti Rothschilds, Hill Samuel dan Kleinwont Benson. Juga bank-bank lainnya yang menjadi anggota dari The Issuing Houses Association, termasuk bank-bank kenamaan seperti Slater Walker, Keyseer Ullman dan Robert Fleming.

Bank-bank dagang yang besar itu sebenarnya merupakan lembaga-lembaga internasional yang kegiatannya dirintis sejak abad ke-19 atau mungkin sebelumnya), dalam pengadaan dana untuk perdagangan serta pengkelolaan surat-surat berharga internasional. Mereka punya kantor-kantor perwakilan, anak-anak perusahaan dan berbagai joint ventures yang tersebar di seluruh dunia.

Sekalipun belum ada perwakilan di Indonesia, namun bisa dipastikan mereka dengan penuh perhatian melihat kemungkinan untuk membuka kegiatan di sini, terutama setelah terjadi bonanza minyak. Akhir-akhir ini pasar uang Eropa makin penting bagi Indonesia sebagai sumber dana, terutama setelah Indonesia memutuskan untuk merangsang kemungkinan-kemungkinan memperoleh pinjaman yang setengah lunak.

Semakin mantapnya sumber minyak Indonesia yang tinggi mutunya, tidak disangsikan merupakan jaminan yang lebih kuat lagi bagi tersalurnya dana-dana tersebut. Sebuah studi yang dikeluarkan Morgan Guaranty menunjukkan betapa dalam 6 bulan pertama tahun ini, lembaga-lembaga di Indonesia telah berhasil mengumpulkan dana sebanyak US$ 238 juta dari pasar pinjaman jangka menengah (medium-term loan market), yang berarti jauh lebih besar dari US$ 167 juta yang diperoleh selama tahun lalu. Dan untuk bisa mengail lebih banyak dana-dana lagi bank-bank dagang di Inggeris tentu bersedia memberikan saran-saran berharga.

Sumber Foto Depan: http://wb7.itrademarket.com/pdimage/98/s_538898_used_offset_printing_machines.jpg

1 Comment

Pustakawan - 29. Nov, 2009 -

mantaaap….bacaan langka nih.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan