-->

Kronik Toggle

Urip Murtedjo, ''Bapak''-nya Wartawan di RSUD dr Soetomo

uripmDI kalangan wartawan yang pernah ngepos di RSUD dr Soetomo, nama dr Urip Murtedjo SpB-KL begitu dikenal. Tiap kali ada kasus atau kejadian yang melibatkan RS milik pemprov Jatim tersebut, Urip selalu jadi jujukan untuk mencari informasi. Bahkan, pria kelahiran 4 Juni 1951 itu sering disebut “bapak”-nya wartawan.

Sejak 2001, Urip memang menjabat ketua Forum Pers RSUD dr Soetomo. Tugasnya membantu direktur RSUD dr Soetomo untuk memberikan wawasan dan keterangan kepada pers tentang masalah kesehatan yang berkaitan dengan RS terbesar di Indonesia bagian timur tersebut.

“Alhamdulillah, sampai sekarang saya masih dipercaya mengemban jabatan fungsional ini. Saya tidak tahu kapan berakhir. Mungkin saat pensiun pada usia 65 tahun nanti,” tutur pria 58 tahun tersebut.

Karena posisi itu, handphone dokter spesialis bedah kepala leher tersebut tak pernah off. Urip harus siap ditelepon sewaktu-waktu. Bila teleponnya tidak terangkat saat dihubungi, biasanya itu disebabkan Urip tengah mengoperasi pasien atau mengikuti rapat penting. “Kalau berada di ruang operasi, kadang perawat yang mengangkat telepon untuk memberi tahu bahwa saya sedang operasi,” katanya.

Berarti ke mana-mana bawa charger? “Ya, mestilah. Kalau ada kasus emergency, saya kan harus segera bertindak dan berkoordinasi dengan petugas di IRD,” terangnya.

Apalagi, lanjut dia, wartawan tak kenal waktu bila harus mengklarifikasi suatu kasus. “Tidak apa-apa. Saya siap direpoti sewaktu-waktu,” lanjutnya.

Ayah tiga anak itu mengatakan harus supersabar ketika menghadapi wartawan. Sebab, tak semua wartawan yang meliput di RSUD dr Soetomo punya latar belakang kesehatan. Mereka juga sering asing dengan istilah-istilah kedokteran. “Saya mesti mengeja satu per satu istilah tersebut dan bahasa awamnya agar tidak salah tulis,” tuturnya.

Selain harus supersabar, kepala IRD RSUD dr Soetomo itu mengatakan tak punya bekal khusus untuk menghadapi wartawan. Dia hanya pernah ikut diklat jurnalistik yang diadakan Depdiknas dan Depkes. Itu pun materinya cara menulis di majalah ilmiah terakreditasi.

Sejak mahasiswa, Urip mengatakan sering menulis karya ilmiah kedokteran. Dia pernah aktif di redaksi majalah kedokteran Medika. Bahkan, dia pernah menerima award dari majalah Medika Jakarta untuk kategori dokter puskesmas yang menulis karya ilmiah terbaik. Saat ini Urip tercatat sebagai pemimpin redaksi tujuh majalah kedokteran.

“Saya belajar otodidak. Saya bertanya ke banyak orang dan kalangan media tentang cara menjalin hubungan dengan wartawan,” terangnya.

Urip juga berusaha mencari tahu cara terbaik menghadapi wartawan “bodrek” (wartawan yang medianya tak jelas). Berkat informasi dari wartawan yang sering meliput di RSUD dr Soetomo, Urip tak pernah tertipu wartawan dari media tak jelas tersebut.

Bila mereka minta informasi, suami drg Wahyuni Widayati itu berusaha melayaninya dengan baik. Namun, begitu wartawan bodrek tersebut mengeluarkan “jurus menyerang”, Urip dengan tangkas berkelit. “Saya tidak pernah memberikan uang. Alhamdulillah, saya tidak pernah terpengaruh jurus yang mereka keluarkan,” ujarnya.

Saat ini, Urip tengah menyelesaikan buku yang merupakan kliping berita mengenai pemberitaan yang berkaitan dengan RSUD dr Soetomo sepanjang 1989-2009. Klipingan berita itu hampir jadi. “Rencananya, ada sebelas buku kliping,” ungkapnya.

Kliping berita tersebut merupakan buku ketiga yang disusunnya. Buku pertama tentang penelusuran sejarah pencarian hari jadi RSUD dr Soetomo. Yang kedua mengenai marketing RSUD dr Soetomo. “Semua buku ini ada di Museum RSUD dr Soetomo,” jelas Urip. (ai/soe)

*)Dikronik dari Jawa Pos 16 November 2009 dengan judul asli Urip Murtedjo, ”Bapak”-nya Wartawan di RSUD dr Soetomo

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan