-->

Kronik Toggle

Safari Jurnalistik: Multibudaya di SMAN 1 Manyar

Tari Remo Bersanding dengan Budaya Jepang dan Tiongkok

GRESIK Ramuan tampilan siswa-siswi SMAN 1 Manyar memang berbeda. Dalam Safari Diklat Jurnalistik kemarin (7/11), SMA rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) itu menyajikan secara apik berbagai tampilan seni dengan sentuhan multibudaya.

Safari diawali dengan pertunjukan tari remo yang ditampilkan siswa ekskul tari. Penampilan mereka sangat mengesankan. Ada pula paduan suara SMAN 1 Manyar. Mereka tak tertinggal untuk berunjuk kebolehan dengan melantunkan Semanggi Surabaya. Para siswa kelas bahasa tak mau ketinggalan dengan menampilkan pertunjukan yang mereka beri tajuk Musikalisasi dan Treatrikal Puisi, sebuah perpaduan antara musik, puisi, dan teater.

Salah seorang siswa kemudian membacakan sebuah puisi bertema bahaya narkoba. Dia diiringi dua kawannya yang menampilkan gerak sesuai dengan isi puisi. “Jadi, kami menggabungkan berbagai seni ini dalam satu tampilan,” kata Dina Ardiyanti, salah seorang siswa.

Kreasi yang tidak kalah menarik disajikan para siswa kelas bahasa. Mereka membuka stan bazar bertajuk 4th Season of Language Gallery (The Miracle of Language). Konsep yang diusung tiap-tiap stan juga menarik. Mereka menampilkan kebudayaan beberapa negara yang bahasanya menjadi bidang studi siswa kelas bahasa. Di antaranya Japanese Stand (stan budaya Jepang) serta China Stand (stan budaya Tiongkok). Tak mau ketinggalan, sebuah stan menampilkan budaya anak bangsa, yaitu batik. Stan tersebut bernama Griya Batik.

Di Japanese Stand, misalnya, berbagai kebudayaan dari Negeri Matahari Terbit itu dipamerkan. Mulai pernik-pernik khas Jepang, foto-foto kegiatan pendidikan di Jepang, hingga brosur berisi panduan bagi para siswa yang berminat melanjutkan pendidikan di Negeri Samurai tersebut. China Stand juga tak kalah inovatif. Budaya khas Negeri Tirai Bambu ditampilkan.

Tampilan yang diusung Griya Batik lebih inovatif. Di sana para pengunjung diajari cara membuat batik. Mulai melukis motif batik hingga mencelupkannya dalam pewarna. “Kami pilih budaya-budaya ini karena ingin merepresentasikan ragam budaya di dunia,” jelas D. Dwi Ayu, siswi kelas XII bahasa yang terlihat sibuk mewarna batik.

Kepala RSBI SMAN 1 Manyar Syafa’ul Anam menyatakan puas dengan agenda tersebut. Sebab, kegiatan itu merupakan salah satu metode pembelajaran aplikatif yang efektif. “Tidak hanya bagi guru, tapi juga untuk murid. Sebab, sudah waktunya pendidikan tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tapi juga di luar kelas. Kreativitas para siswa pun bisa digali,” tuturnya.

Selain tampilan tersebut, Safari Diklat Jurnalistik yang dihelat Jawa Pos bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, serta Balai Bahasa Surabaya dan Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) Jatim itu makin bermutu dengan pelatihan penulisan karya jurnalistik.

Redaktur opini Jawa Pos Soeparli Djoematmadji memberikan materi tentang penulisan opini kepada guru-guru. Lalu, redaktur halaman kriminal Jawa Pos Fathur Roziq menyampaikan materi tentang bagaimana mencari berita dan menulis dengan menceritakan berita kepada siswa. Guru dan siswa peserta diklat sangat antusias. Mereka berebut mengajukan pertanyaan begitu sesi tanya jawab dibuka. “Pengetahuan ini sangat berharga bagi siswa dan guru,” tambah Syafa’ul. (ris/roz)

*) Dikronik dari Jawa Pos 8 November 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan