-->

Perpustakaan Toggle

Perpus Mini Polres Tuban

TUBAN — Kalau ingin tahu bagaimana menaklukkan kerasnya hati orang-orang “antibuku” alias nggak banget dengan buku, maka liriklah usaha yang dilakukan kepolisian Tuban ini. Perpus ini unik karena banyak hal. pertama tentu saja karena berada di lingkup aparat keamanan yang kerap dianggap jauh dari komunitas buku. Kedua, pengunjung perpustakaan ini adalah mereka yang mengurus SIM kendaraan bermotor.

Seperti diberitakan Harian Jawa Pos edisi 19 September 2008, awalnya Satpas SIM Polres Tuban hanya ingin bagaimana caranya memandu pemohon agar benar-benar layak mengantongi SIM. Sebuah perpustakaan mini dibangun untuk tempat belajar pemohon yang hendak tes tulis ataupun praktik SIM.

Biasanya, pemohon SIM yang tak lulus ujian teori selalu berkumpul di kursi tunggu. Mereka serius membahas jawaban ujian yang kebenarannya masih diragukan dan bisa mengakibatkan mereka tidak lulus.
Meski lama saling berdiskusi, jawaban pasti tak juga didapatkan. Bahkan, sejumlah materi jawaban yang dibahas berkembang ke mana-mana.

Mendengar obrolan itu, Briptu Deby, anggota bagian urusan (baur) SIM, mendekat. Setelah menanyakan materi yang diperdebatkan, dia membimbing pemohon SIM yang tidak lulus ke perpustakaan mini Satpas SIM Polres, tak jauh dari tempat pemohon itu mengobrol.
“Bapak-Ibu bisa mendapatkan jawaban yang diperdebatkan tadi di sini,” kata Deby sambil menunjukkan sebuah etalase berisi tumpukan leaflet berjudul Mekanisme Penerbitan SIM dan buku saku kecil. Tanpa komando, pemohon SIM tersebut lalu berebut mengambil leaflet untuk dibaca.

Itulah salah satu fasilitas terbaru yang dimiliki Satpas SIM Polres Tuban. Perpustakaan mini itu disiapkan untuk pemohon SIM yang memerlukan referensi tentang kelalulintasan. Leaflet dan buku saku tersebut tidak hanya dipinjamkan untuk dibaca di ruang tunggu pelayanan. Referensi itu juga bisa dipinjam untuk dibaca di rumah selama tiga hari.

Walau sederhana, tapi usaha yang dilakukan polisi itu sebagai sebuah usaha kreatif bagaimana mempertemukan buku dengan pembacanya yang memang betul-betul membutuhkan bacaan. Ini yang disebut buku yang bertemu jodohnya. Buku dan leaflet lalu lintas siapa lagi jodohnya kalau bukan mereka yang mengurus SIM.

Selain itu, mumpung lagi musim menghujat-hujat polisi (baca: elitenya), mengapa tidak ikut-ikutan melempari kantor-kantor polisi dengan buku-buku sastra, puisi, biografi, atau apa saja yang bermanfaat. Siapa tahu berguna, paling tidak buat yang ngantri ngurus SIM. (GM–diolah dari berita Jawa Pos Edisi  19 September 2008)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan