-->

Kronik Toggle

Pelajar Surabaya dan Cirebon Sabet Penulis Muda Indonesia 2009

JAKARTA, KOMPAS.com – Sri Andiani, pelajar SMP Alam Insan Mulia Surabaya, dan Gabriel Tatia, pelajar SMA Santa Maria Cirebon, menyabet penghargaan Penulis Muda Indonesia 2009, Kamis (19/11). Lomba menulis dengan tema Anak dan Pemimpin Bangsa itu, diikuti 1.528 penulis remaja di bawah usia 18 tahun dari 33 provinsi di Indonesia.

Dalam siaran pers yang dikeluarkan Lely Dujari dari UNICEF di Jakarta, Kamis (19/11) siang, disebutkan, lomba tahunan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak (PPPA), UNICEF, dan YKAI, dengan sejumlah sponsor perusahaan swasta. “Lomba tahun 2009 ini adalah yang keenam kali. Karangan pemenang dan finalis akan dibukukan,” kata Lely.

Acara pemberian penghargaan tersebut berlangsung di Hotel Le Meridien Jakarta dan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan untuk menandai 20 tahun peringatan Konvensi Hak-hak Anak. “Lomba ini sangat relevan dengan itikad pemerintah untuk sedini mungkin melatih generasi kita turut serta dan peduli dengan lingkungannya serta melatih mereka berekspresi cecara jelas. Sebab, mereka lah akan dan dapat menjadi pemimpin bangsa yang lebih baik di masa depan,” kata Sri Pardiana Pudiastuti, Asisten Deputi Kementerian PPPA.

Angela Kearney dari Perwakilan UNICEF di Indonesia, mengatakan, pihaknya sangat bangga bahwa 20 tahun setelah dunia mengadopsi Konvensi PBB untuk hak-hak anak, mereka turut pula dalam pemenuhan hak-hak tersebut, terutama hak untuk didengar.

Karangan Sri Andiani yang memenangi lomba ini berjudul Sulitnya Mencari Sekolah bagi Mereka. Karangan tersebut menceritakan bagaimana keluarganya berjuang agar dirinya dapat sekolah. Dalam karangannya dia mengutip pernyataan ibunya, “Dibutuhkan hanpir dua tahun untuk mencari SD yang mau menerimamu.” Sri adalah penyandang tuna rungu.

Sedangkan karangan Gabriella Tantia dengan judul Siluet memakai tokoh fiktif bernama Panji Anggara untuk menceritakan seseorang calon anggota DPRD yang secara rutin mendengarkan anggota konstituennya di desa.

Selain mendapat plakat dan sertifikat dari Kementerian PPPA dan UNICEF Perwakilan Indonesia, Sri dan Gabriel masing-masing mendapat hadiah uang Rp 5 juta dan berbagai hadiah barang dari para sponsor.

RTS

*) Dikronik dari Kompas Online 19 November 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan