-->

Lainnya Toggle

Patron Anonim dan Bid’ah Penerbitan

Oleh Ade Ma’ruf

Tepat di Hari Pahlawan, 10 November 2009, saya merayakan kematian doktrin Marxian yang saya lakukan sendirian. Saya mengubur ulang jasad Guy Debord di terik matahari siang hari. Saya merekonstruksi upacara penumbangan patung Vladimir Ilych Lenin. Seremoni tanpa basa-basi ini bukan terjadi di Moskow, Pyongyang, atau Havana, tapi di Ambarrukmo Plaza.

Saya menyetir mobil dalam semangat yang melebihi rapat-rapat Partai Komunis Cina pasca-Mao. Pikiran dan indera saya menggemuruh dalam teriak paling gagah: saya mau bersenang-senang, sebahagia Archimides mandi pagi dan menemukan teori; seriang pion-pion di kabinet baru yang pemilihannya didasarkan pada kompensasi.
Sekuriti memeriksa mobil, pura-pura bekerja sesuai perintah atasan walau mereka tahu teror bom sedang berhenti. Lalu saya parkir di lantai bawah tanah, merasakan pengap ditindih tonase kapital yang justru akan segera saya rasakan kamuflasenya dalam wujud deretan Oakley, Breadtalk, Rotiboy, dan Carrefour.

Saya sejak awal bernawaitu untuk tidak menjadikan kategori dan definisi “senang-senang” dalam konteks ideologikal. Saya hanya ingin meringankan pikiran, bukan menjadikan kehendak personal saya hari ini sebagai kontras terhadap pemahaman bahwa keberangkatan saya merupakan pengingkaran atas kenyataan ihwal buang-buang uang.
Lalu saya membeli DVD, kali ini bukan bajakan, “Helter Skelter”, dan membayangkan bahwa nanti malam Charles Manson akan memberi pelajaran tentang etika pembunuhan dalam konteks Amerika pasca-perang. Dengan harga Rp 45.000, DVD ini lebih mudah saya kunyah daripada saya membongkar kembali ingatan atas premis-premis Johan Galtung tentang wacana kekerasan.

Saya mampir ke “foodcourt”, memesan “Chicken Katsu” yang tradisinya tak pernah saya miliki karena saya lebih akrab dengan ayam goreng Nyonya Suharti. Sambil makan, saya mengobrol dengan seorang pemuda yang duduk di depan saya. Dia tipikal manusia dalam deskripsi Douglas Coupland: individualis, “nerd”, dan tak pedulian. Dia sibuk dengan Macbook, dan kupingnya tak lepas dari iPod.

Saya menepuknya dan bertanya, “Nunggu makan juga, Mas?”

Dia menjawab malas, “Veteran, Mas.”

Saya tersenyum miris. Bukan tuli yang menjadi persoalan hidup pemuda ini, tapi ketidakpedulian pada konteks pertanyaan saya yang membuatnya tidak menjawab tanya melainkan menyebut nama kampus tempat dia menempuh kuliah.

Setelah satu jam menyembah berhala kebudayaan advans ala Indonesia dalam miniaturnya yang paling mudah diakses, yaitu mal, saya lantas pulang kandang. Di perempatan Condongcatur, saya membeli empat bungkus kerupuk ikan tengiri khas Palembang, walau Sriwijaya FC adalah klub sepak bola yang saya benci sepenuh hati.

Setiba di rumah, saya menunaikan ibadah: mengambil baju yang dijemur di pekarangan belakang. Hujan sepertinya sudah mengancam, dan saya memilih tak pergi lagi hingga besok pagi. Yeah, alhamdulillah saya berhasil bersenang-senang, tanpa perlu “anti”, “non”, “class struggling”, atau apa pun.

Pola “self-entertaining” yang saya lakukan itu adalah ritus urban yang lazim dilakukan banyak orang sekarang. Tapi saya yakin para pemberontak Mei 1998 tak akan menghujat polah saya yang jalan-jalan di waktu orang lain sedang sibuk menghujat Susno Duadji.

Saya percaya bahwa mendiang para aktivis Situationist di Amsterdam dan Paris tak akan menyalahkan perilaku quasi-hedonis itu. Bukan hanya karena mereka tak mengenal saya, tapi juga karena saya bisa berapologi: saya pulang dari mal tanpa menenteng produk-produk kapitalis global. Ah, lagipula saya punya segudang alasan.

Berapa uang yang Anda kantungi hari ini?

Jika setelah Anda memenuhi segala kewajiban konsumsi, dan uang tersebut masih tersisa sekadar untuk membeli botol kecap dan serbet meja makan, maka Anda layak membikin bom molotov.

Jika Anda merasa molotov adalah pilihan goblok, sumbangkanlah sisa uang Anda untuk membayar lagu dangdut nan sumbang yang dinyanyikan banci sinting di pinggir jalan.

Jika Anda menilai kaum waria sebagai “scum”, berikanlah sisa harta Anda itu pada saya. Dan saya segera beranjak ke toko besi, membeli kunci Inggris untuk saya hantamkan ke kepala Anda. Maksud saya, Anda dan saya ternyata sama saja: terlampau mudah menilai orang lain.

Lalu saya merebahkan badan, mengingat sejumlah teman yang sekian lama tak bertemu pandang. Saya sudah memenggal kenangan atas puluhan kawan di kampung halaman sejak belasan tahun lalu ketika saya mulai menjalani pola hidup “squatting” di kota ini: lima kali pindah rumah kos, empat kali pindah kontrakan. Satu teman akrab saya semasa SMA menjadi bedebah kriminal dan dibui di LP Paledang. Dua orang bekerja sebagai marsose di Manado. Sisanya pernah kuliah lalu kini bekerja, dan atau tidak bekerja.

Lalu Tony, injeksi awal di usia kuliah saya yang meracuni saya tentang buku ketika saya masih lebih menghamba ketengan rokok daripada mengagumi Sartono Kartodirdjo. Dia kini menjadi guru, dan terakhir saya menemuinya ketika menengok kelahiran anak pertamanya lima tahun lalu.

Hingga tiba masa sepuluh tahun yang lalu, saat saya dikerubuti obsesi untuk mempraktikkan orasi Soekarno perihal berdikari. Di titik itu pula saya bertemu dengan para martir setengah baya dengan jenis pekerjaan yang menurut saya luar biasa. Bagi saya, mereka adalah pionir yang membuat saya percaya bahwa dunia buku memiliki keasyikan yang jauh melampaui pijat shiatsu.

Kini, orang-orang dari generasi awal itu masih mengerjakan buku. Yang berubah hanya jumlahnya. Taruhlah dulu populasinya sepuluh orang, maka separuh di antaranya sekarang adalah veteran. Jumlah itu sebenarnya tak mengkhawatirkan, toh masih ada barisan kombatan yang pernah terjun di medan aktivisme politik era lalim Orde Soeharto. Jumlah para petarung bisnis buku lantas kian bertambah, walau gerbong mutakhir ini terbagi menjadi tiga irisan: wirausahawan cerdik, pembelajar, dan penumpang gelap.

Kadang-kadang saya bertemu dengan beberapa pionir dari generasi awal tersebut. Mereka masih mengombinasikan aktivisme intelektual dan realisme bisnis. Mereka bergerak dalam lamat, menegakkan etos survivalitas dan semangat enduransi dalam kadar yang bisa bikin Aburizal Bakrie mengangkat ibu jari. Sambil menghirup sisha, mereka kerap mengajak saya bicara tentang stagnasi ilmu sosial pasca-Frankfurt, dengan sampiran berupa obrolan tentang munculnya gejala monopoli dalam bisnis perbukuan.

Pabrik-pabrik buku lokal tidak lahir dari rahim Muflidah Kalla. Bos-bos penerbitan setempat bukan berasal dari pusat kota. Kebanyakan dari mereka berlatar belakang seperti “rude boys” ala Jamaika: miskin, keras, obsesif. Kalau beberapa pemilik penerbitan di Jogja lantas bisa berlibur ke Hongkong, atau menonton pameran buku antar-bangsa di Singapura, maka itu tak berarti mereka sudah memangkas kelir lawas realitas: mereka tetap saja kampungan, rada norak, gagap, tapi pintar.

Saya percaya, tak ada peningkatan kasta dalam jagat penerbitan di kota ini. Kalau Anda menduga bahwa kini mereka berjaya dibanding masa-masa mereka dulu yang selalu naik sepeda unta, maka dugaan Anda sepenuhnya keliru. Saya tahu mereka hanya bisa menikmati kesenangan kecil dan seperlunya, semacam hura-hura ke pusat perbelanjaan hanya untuk menemani istri belanja tomat dan mentega.

Saya yakin bahkan di setiap langkah mereka kemana pun, isi otak mereka tak beranjak dari buku, termasuk perihal omset, target, utang, piutang, gunjingan para karyawan, dan manajemen perusahaan. Saya percaya bahwa mereka risau dengan hilangnya teman sejalan akibat persekongkolan, munculnya kepalan tangan dan teriakan, juga persaingan yang sering kali berubah menjadi pertempuran.

Sampai di sini, saya lebih apresiatif pada mereka dibanding pada anak-anak muda usia nyaris 30-an yang antri mengikuti tes ambtenaar skala nasional. Saya lebih salut pada orang-orang yang menanduk nasib hidup di panggung buku daripada sekelompok manusia yang berharap dipilih oleh negara sebagai abdi dan pegawai.

Tapi bisnis buku bukanlah Rotary Club. Tak ada syarat mutlak untuk mengetuk pintu kewirausahaan penerbitan. Itulah sebabnya gerbong berikutnya dari para pelakon buku adalah wirausahawan cerdik, pembelajar, dan penumpang gelap. Untuk urusan ini, saya tak membunuh Marx. Dalam konteks ini, saya percaya bahwa industri buku berumpak-umpak. Dan saya dengan terbuka mengatakan bahwa saya sedang menilai orang. Persetan kalau saya dibilang Neo-Nazi, toh nyatanya memang ada stratifikasi dalam soal kepintaran menggarap dan mengelola penerbitan buku.

Sejak Ken Kesey mengecat bus dengan warna-warna psikedelik, lalu mengajak anak-anak muda yang disebut Merry Pranksters menyambangi Woodstock 1969, maka genderang perang antar-kelas pun ditabuh. Siapa bilang kontrakultur adalah gerakan resistensi kaum muda di seluruh penjuru dunia dalam nafas yang seragam? Faktanya, Generasi Bunga adalah bid’ah kelas menengah, yang menjadikan ganja dan rock n’ roll sebagai senjata, lalu terjatuh menjadi sekadar alat madat dan belantik laknat.

Kalau hari ini Anda sedang menempuh studi sarjana dan siap turun ke jalan setiap saat, lalu mengidentifikasi diri sebagai bagian dari pawai panjang perlawanan terhadap penindasan, maka Anda harus awas pada satu hal: siapa yang menyuruh Anda sehingga Anda merasa wajib melakukannya?

Sedari Gutenberg mencetak Alkitab, hingga mesin cetak milik Cahaya Timur mampu mengalahkan tenggat order penerbitan buku, maka khotbah panjang ihwal mandeknya gerakan literasi pun tak lagi menarik hati. Siapa bilang masyarakat kita kekurangan bacaan? Nyatanya, ibu-ibu muda pun memaksa para guru TK agar mengajarkan kemampuan menulis dan membaca kepada anak-anak usia sangat belia.

Kalau Anda hendak mendirikan perusahaan penerbitan buku, maka Anda tak harus sepintar Budiarto Shambazy. Alih-alih sibuk memamah teori dan berkontemplasi, Anda justru hanya akan menjadi sosok yang tak bisa turun ke Bumi. Anda tak perlu sok tahu makanan ruhani yang pantas disantap oleh masyarakat. Anda hanya perlu siasat tentang bagaimana menaklukkan kemalasan rakyat dalam mengatur jumlah uang untuk belanja daging ayam dan membeli barang bacaan. Kalau Anda pikir daging ayam itu adalah penyebab dekadensi gerakan literasi, maka lebih baik Anda gantung diri. Yakinlah bahwa cara pandang Anda itu sepenuhnya salah proporsi.

Tapi itu menurut saya. Saya tak mendengar cara analisis yang serupa dari para penumpang gelap. Saya justru lebih melihat mereka sebagai orang-orang yang tak peduli pada apa pun selain diri mereka sendiri. Mereka lebih mirip para produser film mistik yang selalu yakin bahwa penonton akan menjerit terbirit menyaksikan hantu yang diusahakan seram walau ternyata lebih mirip personel band Kuburan. Para penumpang gelap di kumparan bisnis buku itu berperan seperti gadis-gadis pemandu sorak di serial pertandingan Indonesian Basketball League: tampil sok keren padahal butut, bertingkah sok paten padahal kentut.

Saya pikir siapa pun tak ingin mengalami blunder seperti Aidit yang ceroboh memegang palu arit. Fakta adalah nyata, termasuk bahwa para pemilik rumah-rumah penerbitan kecil yang berusaha menjadi bos hari ini justru tak berupaya menangguk ilmu tentang bos yang pintar. Nyata adalah harga, termasuk bahwa kemalasan membangun sindikasi “duit-dan-ilmu”, juga “bertahan-secara-cerdas”, hanya akan menjadikan mereka kecebong dan bukan cerobong.

Entah kenapa selalu saja hadir para pelaku baru di jejaring bisnis buku. Setidaknya dalam ranah lokal yang saya tahu. Mereka adalah sejumlah pembelajar yang merujuk pada pahlawan-pahlawan anonim, berharap menggenggam berlian, walau mereka sadar bahwa masa depan di jagat buku tak semanis janji para penjaja polis-polis asuransi. Saya senang melihat mereka berada di tengah sengkarut pelik perniagaan barang bacaan. Setidaknya karena mereka mampu menunjukkan pada negara bahwa mereka tak butuh Raskin, BLT, dan Askeskin.

Penerbitan skala lokal sekarang berjalan tanpa patron. Sauh sudah dikayuh, jangkar telah dibongkar. Kapal-kapal pengangkut barang bacaan berlayar di samudera hitam menuju salah satu kalimat dari paragraf keempat preambule Konstitusi 1945. Destinasi diimajinasikan eksistensinya, seolah-olah ada, seakan-akan nyata dan bisa dijangkau secepatnya. Tapi tak semua kapal memiliki nahkoda yang bisa membaca kompas dan paham ilmu navigasi. Alih-alih menuju surga, justru Titanic akan menemukan banyak teman dari Jogja.

Kini pertemuan-pertemuan kerap berlangsung sesuai penanggalan dan jadwal penagihan hasil penjualan. Di luar itu, yang berlangsung adalah intip-mengintip dapur sesama kawan. Tak ada yang aneh dengan pola ini, namun kita kehilangan tambang pengait kesepadanan. Kita tak lagi menyempatkan waktu untuk kursus rehabilitasi pemikiran. Kita terlampau sibuk menekan tombol kalkulator hingga lalai bahwa kita harus selalu mengisi baterai kepintaran yang sumbunya terletak di kepala bagian belakang.

Anda bisa kaya tapi bodoh, dan yang bodoh ternyata bisa kaya. Ini kombinasi “puzzle” paling absurd dalam tatanan industri buku lokal kita sekarang. Kalau Anda berusaha membela diri seperti eksepsi sang mafioso Sam Giancana di hadapan Jaksa Agung Robert Kennedy, maka saya bertepuk tangan untuk omong kosong yang Anda sampaikan. Nyatanya Anda memang penunggang kuda lumping yang pura-pura dirasuki siluman walau sebenarnya Anda hanya ingin mendapat lembaran uang. Bagi saya, Anda tak perlu repot berdusta, berteriaklah bahwa Anda mencari nafkah di bisnis ini, tapi lantanglah pula bersuara bahwa Anda siap berdebat soal pengetahuan di luar perihal dagang.

Untuk urusan buku, setidaknya dalam lingkup geografi domestik, saya adalah penganut taat teori kelas. Tapi saya selalu ingin murtad, memberangus keyakinan kuno tersebut dan menyaksikan semua wirausahawan buku bisa meningkatkan kemampuan perniagaan, mengadopsi pengetahuan tanpa membebek televisi, serta mampu menjadi bos penerbitan yang makan rejeki halal dengan isi otak yang lebih pintar dari rata-rata kecerdasan seorang kopral.

Mari berhenti bergaul jika pergaulan ternyata hanya berisi rumor tanpa pangkal. Kita harus menghentikan silaturahmi kecuali untuk hal-hal yang bisa membuat kita semakin mawas diri. Jangan pernah lagi minum alkohol atau mengakrabi kopi beramai-ramai selepas penat berjualan buku kalau ternyata kongko-kongko itu membuat kita sekadar tepar atau terserang hipertensi. Kita semua, saya pikir, akan lebih mempesona jika terus belajar dan meningkatkan kemampuan diri.

Kita bisa segera berwisata ke Karibia, dikipasi perempuan-perempuan tanpa busana, sambil menghisap cerutu Kuba sebagai hasil kerja keras berniaga buku. Kita dapat secepatnya menunaikan ibadah haji, membayar berapa pun Departemen Agama memungut biayanya, dan pulang dengan memborong selaksa kurma. Kita mampu menggaji berapa saja yang diminta staf dan karyawan, lalu memberi mereka bonus paket makan siang selama enam bulan di Banyu Mili yang ikan bakarnya minta ampun enaknya. Kalau Anda pikir ini utopia, menurut saya, tidak, kecuali Anda memang sama pelitnya dengan Uda Faisal di sinetron Trans TV.

Saya tak peduli pada slogan, bahasa pamflet, definisi, istilah, ataupun kategori. Saya tak mempercayai dongeng segala konon dan kisah-kisah kanon. Kalaupun saya mengadopsinya, justru karena saya ingin menunjukkan invaliditas di dalamnya. Tak ada penerbit buku skala lokal yang sangat kaya sebagaimana tak ada pabrik buku yang saking miskinnya hingga tak bisa membedakan mana uang dan mana dedaunan. Juga, tak ada pekerja buku yang makmur sebagaimana tak ada pekerja buku undur-undur.

Ancaman terkini terhadap bisnis buku bukanlah besaran rabat yang kian tinggi, perang tema antar-sesama, sikut-sikut yang menyilang di depan rak-rak pajangan, ataupun kebijakan toko buku yang tak sama permanennya dengan Piramida Giza. Problem pokok kita justru ada pada diri kita sendiri, yang selalu merasa sudah sehebat para pejuang Hamas di Tepi Barat padahal kita sekadar lalat-lalat belangsak. Masalah utama kita adalah arogansi ala Benny Dollo padahal kita tak punya apa pun sebagaimana korban-korban lumpur Lapindo.

Bagi saya, tak ada yang luar biasa dari lingkungan kita saat ini. Yang ada hanyalah kemalasan, sikap bebal, pola pikir yang dekaden, dan kebiasaan yang tidak kreatif. Kalau seorang pimpinan sebuah rumah penerbitan yang sedang berkembang saja selalu kelihatan sigap berpikir dan bekerja, dan kita justru sibuk bergunjing tentang dia, maka titik nyaman pekerjaan di jagat buku hanya akan menjadi milik orang-orang yang fokus untuk belajar maju.

Saya pikir tak seorang pun yang merasa harus bertanggung jawab atas mampatnya transfer pengetahuan di antara para pembelajar dan penumpang gelap. Penerbitan bukanlah klub arisan ala sosialita ibukota yang harus menyortir para anggota. Bahkan eks juru tagih kartu kredit pun bisa menyulap diri menjadi bagian dari gerbong pepak “bisnis literasi”. Tapi kantor penerbitan bukanlah agensi model yang lebih mementingkan rupa dan penampilan daripada isi kepala dan pemikiran. Jadi, jika Anda ingin tahu ramalan kiamat yang paling tepat, jangan dengarkan ocehan paranormal, cukuplah dengan menyaksikan polah para pemilik penerbitan yang lebih suka mengeja paha mulus Olla Ramlan daripada mempelajari langkah-langkah Bagir Manan.

Kita tak pernah benar-benar tahu masa depan. Kita hanya bisa membaca gejala dan mengukurnya sebagai kira-kira. Tapi, menurut saya, hidup tak bisa sepenuhnya diletakkan pada kemungkinan nasib dan besaran pahala. Karenanya, saya rasa sebaiknya kita menancapkan patok-patok resolusi dan secara konsisten menjalankannya: bahwa kita bisa pintar tanpa harus menjadi ular.

Saya tak bemaksud mengajak siapa-siapa, karena saya juga tengah belajar hal yang sama. Tapi saya ingin berkata bahwa dalam perkara ini, saya tak ingin sendirian. Bukan apa-apa, saya cuma merasa berdosa jika terus-menerus menjadi penganut stratifikasi kelas yang akut. Juga, karena saya ingin kita semua bisa berwisata ke Karibia.

* Ade Maruf, praktisi perbukuan Jogja generasi 19998 dan saat ini jadi aktivis hiphop dan senang-senang. Tulisan ini dinukil dari Facebook-nya

Sumber foto depan: http://sale.wgpotter.com/pixcontent/confed_mall_plan.jpg

2 Comments

pyan sopyan solehudin - 08. Des, 2009 -

alhamd..menarik sekali tulisannya. aku sampai tamat bacanya…. ini tulisan dari catatan harian yang dikembangkan jadi esei ya mas? ketika aku nulis catatan harian bgitu paparannya, tapi aku masih bingung untuk mengembangkannya untuk jadi tulisan apapun..

hidayat - 28. Jul, 2010 -

Hasil wawancara Ketua MUI dengan TV One (26 Juli 2007 malam), disebutkan oleh Ketua MUI arah kiblat itu asal ke Barat. Fatwa ini menyesatkan, karena Baratnya Indonesia itu terbentang dari Afrika Selatan sampai ke Swedia. Dan MUI tidak memperdulikan hitungan para ahli falak. Yang penting hanya berpegang pada hadist Nabi bahwa letak ka’bah itu antara Timur dan Barat, serta tak ada hadistnya yang menentukan arah kiblat. Emang tak ada hadistnya yang menyebutkan arah kiblat bagi penduduk Indonesia. Yang ada hadistnya emang untuk penduduk Madinah dengan sabda beliau bahwa arah kiblat dari Madinah adalah antara Timur dan Barat, karena memang Makkah itu berada di Selatannya Madinah. Akan tetapi yang jelas Makkah itu berada diwilayah Sub Tropis dan Indonesia berada didaerah Tropis /garis Equator yang sejajar dengan Uganda, Kenya, Kongo, Rwanda, dan Gabon. Jadi kalau kiblat itu lurus ke barat maka arah kiblat dari Indonesia adalah ke Uganda, Kenya, Kongo, Rwanda, dan Gabon. Mau dibawa kemana kita oleh MUI. Padahal salah satu persyaratan SAHNYA shalat adalah menghadap ke kiblat, bila kurang pasnya hanya sedikit dapat dimaklumi. Akan tetapi kalau maunya MUI asal ke barat saja, berarti MUI sudah keblinger dan menyesatkan.
Dan pada saat ummat Islam memasuki bulan Agung atau bulan Rabi’ul Awwal kelahiran manusia agung nan suci kembali terbayang, terkenanglah kita akan jasa2 beliau SAW yang luar biasa. Ummat manusia menyambut gembira, dan mereka sangat amatlah patut untuk berbahagia, sebab yang diperingati adalah rahmat terbesar dari Allah Ta’ala yang dipersembahkan kepada segenap alam semesta.
Inilah dampak dari perayaan/peringatan yang hanya dilakukan setahun sekali. Hanya pada bulan itu saja kita ingat kepada Rasullullah SAW. Setelah bulan itu Rasullullah SAW kita lupakan dengan sepinya kembali Masjid-2/Surau-2/Langgar-2. Padahal kalaulah kita mau selalu mengangungkan dan mengingat beliau, maka seharusnya kita memakmurkan Masjid/Surau/Langgar setiap hari dengan mengkaji dan memperdalam isi dan kandungan Al-Qur’an/Hadist-2 yang shahih. Sehingga terciptanya generasi yang kaffah dalam menegakkan kebenaran Islam. Bukan semata-2 acara ceremonial, dengan menutup jalan, bahkan dengan arak-2an yang menyusahkan pemakai jalan lain dan menghamburkan uang yang tidak sedikit, sementara sebagian besar umat Islam Indonesia hidup berada dibawah kemiskinan.
Bahkan dari hasil sebuah wawancara, Israel/Jahudi baru takut kepada umat Islam khususnya Palestina. Jikalau sudah melihat jumlah orang yang hadir di Masjid/Mushalla untuk menjalankan Shalat Subuh dan Isya berjamaah, sama jumlahnya seperti orang yang hadir pada saat shalat Jum’at. Karena menurut mereka itu sebagai pertanda bahwa Islam kekuatan dan keteguhannya sama dengan Islam masa Rasullullah dan para Sahabatnya. Akan tetapi yang ada sekarang seperti apa. Makanya mereka sangat-2 menganggap remeh kita
Padahal Rasullullah SAW, hanyalah berkata bahwa Aku berpuasa pada hari kelahiranku. Bukankah beliau bisa mengumpulkan orang di Masjid untuk membuat kegiatan pada tanggal 12 Rabiul Awal dimaksud. Akan tetapi hanya shaum pada tiap hari Senin. Ini menandakan bahwa kita harus selalu mengingat amalan kita setiap saat, bukannya setahun sekali dengan jor-2an dan setelah itu hanya tinggal kenangan dan pada umumnya pada acara Maulidan tersebut yang terjadi bukannya kegiatan menjadi tuntunan, akan tetapi hanya sebagai tontonan belaka. Naudzubillahi Tsumma Naudzubillahi Min Dzalik. Dan jelas acara merayakan Ulang Tahun hanya mengikuti cara-cara Nasrani.
Dalam pembahasan tentang bid’ah, terdapat kerancuan (syubhat) yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang kurang jeli semacam kata-kata, “Kalau begitu, Nabi naik onta, kamu naik onta juga saja.” atau kata-kata “Ini bid’ah, itu bid’ah, kalau begitu makan nasi juga bid’ah, soalnya gak ada perintahnya dari nabi”, dan komentar-komentar senada lainnya.
Para akhwan/ti… perlulah dibedakan, antara sebuah ibadah dan sebuah adat. Sebuah amalan ibadah, hukum asalnya adalah haram, sampai ada dalil syar’i yang memerintahkan seseorang untuk mengerjakan. Sedangkan sebaliknya, hukum asal dalam perkara adat adalah boleh, sampai ada dalil yang menyatakan keharamannya
Ibadah hukum asalnya adalah haram. Contohnya puasa. Hukum asalnya adalah haram. Namun, karena telah ada dalil yang mewajibkan kita wajib puasa Ramadhan, atau dianjurkan puasa sunnah senin kamis atau contoh seperti puasa Nabi Daud AS, maka ibadah puasa ini menjadi disyari’atkan. Namun, coba lihat puasa mutih (puasa hanya makan nasi tanpa lauk) yang sering dilakukan orang untuk tujuan tertentu. Karena tidak ada dalil syar’i yang memerintahkannya, maka seseorang tidak boleh untuk melakukan puasa ini. Jika ia tetap melaksanakan, berarti ia membuat syari’at baru atau dengan kata lain membuat perkara baru dalam agama (bid’ah).
Tentang kegiatan adat kebiasaan kita sehari-hari hukum asalnya halal, sebagai contoh makan adalah halal. Kita diperbolehkan (dihalalkan) memakan berbagai jenis makanan, misalnya nasi, sayuran, hewan yang disembelih dengan menyebut nama Allah. Di sisi lain, ternyata syari’at menjelaskan bahwa kita diharamkan untuk memakan bangkai, darah atau binatang yang menggunakan kukunya untuk memangsa. Jadi, meskipun misalnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak makan nasi, bukan berarti orang yang makan nasi mengadakan bid’ah. Karena hukum asal dari makan itu sendiri boleh.
Lihat saja sekarang Ceramah Agama dibarengi dengan acara nyanyian-2, walaupun katanya nyanyian itu berbau Islam. Akan tetapi dalam beberapa Hadist Rasullullah SAW menyebutkan bahwa Rasullullah SAW melarang kita bernyanyi dalam bentuk apapun. Inilah bukti bahwa pengaruh Nasrani dan Hindu sudah melekat ditubuh umat Islam. Ditambah lagi banyaknya orang Islam yang tidak suka Islam, sehingga walaupun kita di Indonesia ini mayoritas, akan tetapi bagaikan buih di Samudra atau bagaikan bebek-bebek yang mudah diatur oleh penggembalanya. Dan ketahuilah dalam Surah Al-Baqarah ayat 120 Allah SWT berfirman : Tak akan suka orang Nasrani dan Yahudi hingga kita mengikuti cara-2 dan ajaran mereka. Mereka berkata kalien boleh menjalankan kegiatan keagamaan kalien tapi cara-2nya sepertiku. Semisal boleh buat acara pengajian, tapi ditambah nyanyian dan musik. Boleh berjilbab, tapi yang ketat dan dengan model-2 yang merangsang (ala Selebriti). Boleh shalat, tapi tonton dulu Siaran langsung berita-2 terbaik yang pada umumnya disiarkan langsung dan dipandu oleh penyiar-2 yang mengaku beragama Islam dan dihadiri pula oleh para tokoh yang bukan saja beragama Islam, akan tetapi sebagai tokoh di atas nama lembaga Islam (PERHATIKAN SAAT SESAAT SUDAH AZAN MAGHRIB, Diberbagai stasiun TV Full dengan siaran berita siaran langsung dan ada wawancara dengan tokoh-Islam. Bahkan sesudah dikumandangkannya azan Subuh, masih ada Siaran Langsung Ceramah Subuh diberbagai Stasiun TV (apalagi di Bulan Ramadhan dengan berbagai Siaran Langsung yang dipandu dan dihadiri oleh orang yang mengaku beragama Islam). Bahkan pada siang hari Jum’at mereka buat film-2 yang disukai para penonton dengan tujuan agar kita tak berangkat ke Mesjid. Dan banyak Stasiun TV yang juga buat film/sinetron pada saat Maghrib, sehingga membuat kita lalai untuk melaksanakan Shalat. Akan tetapi semua tokoh-tokoh yang katanya berjuang atas nama Islam bungkam seribu bahasa. Agama hanya dijadikan alat mencari uang dan kekuasaan.
APALAGI ADA KELOMPOK ISLAM LIBERAL YANG BENAR-2 MERUSAK IMAN DAN AQIDAH BAHKAN MERUSAK AKHLAK UMAT ISLAM DENGAN PENYIMPANGANNYA SECARA TERANG-2AN KEPADA AL-QUR’AN DAN HADIST RASULLULLAH SAW
Inikah yang diajarkan Rasullullah SAW.
Seperti seseorang diperbolehkan menabuh rebana dihadapan Rasullullah SAW, dikarenakan nazarnya. Jika bukan karena nazar, maka Rasullullah SAW melarangnya, : seperti tertera dibawah ini,
Bahkan ada suatu hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad diceritakan, bahwa tatkala Rasullullah SAAW tiba dari sebuah peperangan, seorang budak wanita berkulit hitam datang menemui beliau membawa rebana sembari berkata, “Duhai Rasulullah SAW, aku telah bernazar, jika Allah Ta’ala mengembalikan dirimu dalam keadaan selamat, aku akan menabuh rebana dan menyanyi dihadapanmu,” maka Rasulullah SAW menjawab, “Jika engkau telah bernazar, tunaikanlah nazarmu, Jika tidak, jangan.”.

Dan tentangan jiarah kubur, yang kami tahu bahwa Rasulullah SAW hanya memperbolehkan perjalanan jauh (musafir) untuk mengunjungi 3 tempat, yakni Masjidil Haram; Masjidin Nabawi dan Masjidil Aqsha. Dan juga diperbolehkan hanya semata-2 untuk kegiatan Ibadah, bukannya berziarah kekuburan-2 yang ada disana. Kami belum menemukan Hadist (baik yang dhaif apalagi yang shahih), menerangkan bahwa Rasullullah SAW pernah berjiarah dengan cara-2 yang kita lakukan di Indonesia saat ini kekuburan Orangtua beliau, dan Sanak Keluarga lainnya, juga Siti Khadijah, anak-2 Rasullullah SAW , dan para Sahabat yang lebih dahulu wafat ketika Rasullullah SAW masih hidup. Bahkan Khalifaturraasyidin juga tak ada riwayatnya berjiarah kemakam Rasullullah SAW. Misalkan Abu Bakar As-Shiddiq RA karena berada di Makkah lalu mengajak sahabat-2 lainnya untuk berjiarah ke makam Rasul SAW di Madinah. (JIKA ADA HADISTNYA DAN RIWAYATNYA MOHON KAMI DIBERITAHU). Anehnya dizaman kini berziarah itu berkali-kali, bahkan menjadi kewajiban minimal setahun sekali. Dan mendatangani kuburan-2 tertentu seperti ke Cirebon, Tuban, Banten, Gersik, Mbah Priuk dan lain-2 untuk meminta barakah dan yang aneh-2 lainnya dilestarikan dan bahkan jadi ajang bisnis para Ustadz/ah dan sekelasnya. Dan dibilang ini sebagai tradisi yang Islami. Bukankah ini bid’ah yang benar-2 sesat, akan tetapi kata mereka ini bid’ah hasanah dengan berbagai dalil yang dhaif. Rasullullah SAW saja tidak ada dalam satu hadistpun yang minta agar kuburannya kelak untuk diziarahi, akan tetapi para Ulama kita, sebelum ajal berpesan agar kuburannya untuk sering diziarahi oleh para murid-2nya dan umat Islam lainnya. Aneh bin aneh
Bahkan para pelaku bid’ah ada yang mengadakan pengajian berhari-2 di rumah dan kuburan. Yang jelas-2 dalil Al-Qur’an dan Hadistnya kami belum pernah baca (JIKA ADA MOHON KAMI DIBERITAHU, MUNGKIN KAMI BELUM MENEMUKANNYA, maklum kami masih dalam taraf belajar). Dan menurut pendapat kami pengajian dikuburan dan dirumah itu hanyalah semata akal-2an para Ustadz kala itu yang malas bekerja keras dikarenakan menganggap dirinya kaum Priyayi, sehingga hadist yang berbunyi kira-2 “SETELAH DITINGGAL TUJUH LANGKAH MAYYIT AKAN DIINTEROGASI OLEH PARA MALAIKAT”. maka agar malaikat tak kunjung datang, mayyit harus ditunggu dan dingajiin setidaknya 40 hari 40 malam non stop, supaya dia dapat tuntunan dalam menjawab pertanyaan malaikat. Dan bisa jadi setelah 40 hari mayyit akan membusuk, sehingga malaikat Munkar waNakir enggan datang karena jijik dengan mayyit yang penuh belatung dan busuk (Naudzubillah Min Dzalik). Dan untuk itu keluarga mayyit harus mengeluarkan dana untuk biaya dimaksud, maka selamatlah para kaum Priyayi yang malas bekerja itu untuk makan dan minumnya selama 40 hari, dengan harapan hari-2 berikutnya ada yang meninggal lagi, maka amanlah perut dan kantongnya. Dan pada setiap saya melihat acara tersebut, sang Ustadz selalu berkata bahwa kegiatan pengajian, tahlil dan talqin ini bukti nyata seorang anak soleh yang berbakti pada Orangtuanya dengan menyebutkan berbagai dalil yang kita tak tahu keshahihannya sebagai alat rujukan untuk menyatakan itu sudah sesuai dengan ajaran dan tuntunanNya. Padahal untuk acara tersebut, anak terpaksa menjual sebagian tanah peninggalan orangtuanya atau utang sana sini demi menjaga tradisi yang dibuat-2 oleh kaum bid’ah tersebut. Dan tinggallah keluarga yang ditinggal kian terpuruk, padahal sudah seharusnya kewajiban kaum muslimin/at untuk melindungi para anak yatim/yatim-piatu. Akan tetapi yang terjadi para Ustadz dan sejenisnya itu bergembira/berbahagia di atas penderitaan orang lain.

Lalu ada lagi yang beralasan, bahwa Khalifaturraasyidin Umar bin Chattab RA pernah melakukan bid’ah, dengan melaksanakan Shalat Tarawih berjama’ah.
Wahai Saudaraku, setahu kita bahwa Rasullullah SAW juga sudah pernah menjadi Imam Shalat Tarawih, akan tetapi hanya 3 malam saja beliau lakukan. Dan selanjutnya di Imami oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Dengan alasan takut kalau shalat tarawih akan dianggap sebagai shalat yang diwajibkan. Ini berarti bahwa pada masa Rasullullah SAW hiduppun shalat Tarawih sudah dilaksanakan berjama’ah. Dan Rasullullah SAW pun pernah bersabda : (yang kira-2 maksudnya) : Ikutilah apa-2 yang aku lakukan dan para Khalifatur Rasyidin. Jadi dimana letak bid’ahnya.
Mungkin maksudnya Saya pernah baca dalam satu riwayat, bahwa Sayyidina Umar RA menambah jumlah raka’at shalat tarawih dan witir menjadi 39 rakaat, dikarenakan Sayyidina Umar RA berada di Madinah dan Sayyidina Abu Bakar RA meminpin shalat Tarawih di Makkah yang jumlahnya 21 rakaat, hanya setiap 2 rakaat diselingi dengan Thawaf. Sementara di Madinah tidak bisa Thawaf, sehingga Sayyidina Umar RA mengganti Thawaf dengan shalat Sunah 2 rakaat. Lalu dikatakan ini bid’ah hasanah. Ini namanya bukan bid’ah dikarenakan adanya pernyataan Rasullullah SAW ikutilah apa yang aku dan Khalifah yang empat contohkan kepada kalien.
Dalam salah satu Hadist Rasullullah SAW, berpesan sbb :
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)
Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,
“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)
Lalu ada yang memberi contoh penggunaan mikrofon di masjid-masjid sebagai bid’ah (katagori bid’ah hasanah). Kita ketahui mikrofon berguna untuk memperjelas suara sehingga dapat didengar sampai jarak yang jauh. Hal ini termasuk perkara adat dimana kita boleh mempergunakannya. Hal ini semisal kacamata yang dapat memperjelas huruf-huruf yang kurang jelas bagi orang-orang tertentu. Sebagaimana perkataan Syaikh As Sa’di rahimahullah kepada orang berkacamata yang mengatakan bahwa pengeras suara adalah bid’ah, beliau berkata, “Wahai saudaraku, bukankah kamu tahu bahwa kaca mata dapat membuat sesuatu yang jauh menjadi dekat dan memperjelas pandangan. Demikian juga halnya pengeras suara, dia memperjelas suara, sehingga seorang yang jauh dapat mendengar, para wanita di rumah juga bisa mendengar dzikrullah dan majlis-majlis ilmu. Jadi mikrofon merupakan keikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita, maka hendaknya kita menggunakannya untuk menyebarkan kebenaran.” (Mawaqif Ijtima’iyyah min Hayatis Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, Muhammad As Sa’di dan Musa’id As Sa’di).
Dan ketahuilah bahwa apa-2 perbuatan yang dilakukan untuk melakukan tindakan dalam perIbadatan, walaupun pada masa Nabi SAW dan KhalifaturRasyidin belum ada, seperti Mik, Radio, VCD, DVD, Kaset, TV, Internet, Media Cetak lainnya, Mobil, Pesawat Terbang dan segala alat angkut selain onta, kuda dan keledai, listrik, jam, makan nasi dan segala lauk pauk dengan sayur buahnya, shalat pakai sarung dan peci bahkan dengan celana panjang Jeans lagi, Mendirikan Ormas, Orpol, Mendirikan Sekolah Formal/Non Formal, Memperbanyak buku-2 dan cetakan-2, Penerjemaahan kedalam berbagai bahasa, Pidato/Ceramah/Khutbah dengan bahasa ibu sendiri, bukan dengan bahasa yang dipakai Rasullullah SAW (bahasa Arab Qurasy) dalam menyampaikan syiar Islam. Mendirikan bangunan dengan berbagai corak dan semua kegiatan kemanusiaan, yang dijadikan dasar oleh para pelaku bid’ah hasanah bahwa inilah contoh bahwa bid’ah hasanah itu ada dan boleh, hanyalah sebagai alasan yang mengada-2. Hal ini karena semuanya berkaitan dengan kegiatan keduniaan, sebagaimana sabda Rasul SAW, masalah dunia kalien lebih tau, akan tetapi masalah keAgamaan harus tunduk kepada perintah Allah dan RasulNya. Karena semua hal di atas dapat dipergunakan/dipakai oleh semua pemeluk agama dalam menjalankan kehidupan dan kegiatan agamanya masing-2. Walaupun ada ayat Al-Qur’an yang artinya TIDAK ADA PAKSAAN DALAM AGAMA ( maksud ayat ini adalah tidak ada paksaan dalam memilih agama yang anda anut. Akan tetapi jika anda sudah masuk Islam, maka anda harus tunduk dan patuh pada Allah dan RasulNya dengan menjalankan syariat-2 agama sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadist yang benar/shahih dengan Iman, Islam dan Ihsan).. Akan tetapi :
-bertahlil sambil menggeleng-geleng kepala dengan suara yang kencang, bahkan ada yang teramat kencang seolah-2 Allah itu pekak dan tuli juga demikian pada zikir berjamaah, shalat sunat berjamah selain Shalat Tarawih, Shalat Id, Shalat Gerhana dan Shalat Istisqa’.
-mengeraskan doa/dzikir sesudah sholat, dan zikir dengan cara nangis-2.
-ngaji dikuburan sambil mengirim pahala (seperti halnya dilakukan orang thoriqot)
-bertasawul pada orang yang meninggal yang dianggap wali/orang sholeh, bahkan berziarah kemakam-2 tertentu dengan cara diwajibkan untuk jangka tertentu.
-baca burdhat dan berbagai shalawatan dan marhabanan.
-baca manaqib
-perayaan maulid, isra’mi’raj, muharram, nisfu sya’ban, tadarusan malam ramadhan dengan pengeras suara yang pada kenyataannya bukan tadarusan. Akan tetapi balapan baca Al-Qur’an
-tahlilan untuk orang yang meninggal, membaca Al-Qur’an hanya mewiridkan Surah Yasin saja
-acara 3hari,7hari,40hari,100hari, 1000 hari orang meninggal
-acara haul orang meninggal. Dan berbagai kegiatan yang tidak dicontohkan oleh Rasullullah SAW dan para sahabat beliau.
ini semua hanya dapat dilaksanakan oleh orang yang beragama Islam dan kegiatan inilah yang disebutkan oleh Nabi SAW sebagai bid’ah, dan tempatnya di neraka.
Amalan-amalan pelaku bid’ah selalu mengedepankan akal dan kebaikan serta pahala yang belipat-2. Padahal tidaklah amalan ibadah dapat dipahami oleh akal. Semisal, mengapa sholat fardhu ada lima, dan mengapa jumlah raka’aatnya berbeda-beda. Atau mengapa ada dzikir yang berjumlah 33. Maka semua ibadah ini tidak dapat dipahami maksudnya oleh akal. Dan urusan pahala merupakan urusan Allah SWT, yang penting kita ikhlas melakukannya, karena setitik saja ria, maka tidak ada sedikitpun pahala diperoleh.
Sebagaimana disebutkan bahwa bid’ah dibuat menjadikan untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah sehingga bid’ah justru menambah beban bagi seorang muslim. Contohnya adalah mengadakan peringatan isra mi’raj, maulid atau yang semacamnya sehingga menambah beban seseorang untuk mengeluarkan dana dan tenaga untuk mengadakan acara tersebut. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan untuk merayakan hal-hal tersebut.
Sehingga wahai Saudara-2ku bid’ah hasanah itu tidak ada,yang menyatakan bid’ah hasanah dalam ibadah hanyalah mereka yang ingin agar perbuatan tercelanya dilindungi oleh kalimat hasanah,padahal sekali tercela tetap tercela.kalaupun ada hasanah,maka itu bukan makna sebenarnya,sebab secara haqiqat yang namanya bid’ah tidak ada yang hasanah sebagaimana hadits nabi: kullu bid’atin dlolalatun”.
Setiap bid’ah adalah tercela. Inilah yang masih diragukan oleh sebagian orang. Ada yang mengatakan bahwa tidak semua bid’ah itu sesat, ada pula bid’ah yang baik (bid’ah hasanah).
Dalam salah satu Hadist, ada penjelasan sebagai berikut :
Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan kelihatan begitu marah, seolah-olah beliau adalah seorang panglima yang meneriaki pasukan ‘Hati-hati dengan serangan musuh di waktu pagi dan waktu sore’. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini. [Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya]. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)
Hadits Jabir riwayat Muslim :
“Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat”.
Hadits ‘Irbadh bin Sariyah :
“Dan hati-hati kalian dari perkara yang diada-adakan karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (HR. Ashhabus Sunan kecuali An-Nasa`i)
Hadits ‘A`isyah radhiallahu ‘anha:
“Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)
“Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam neraka kecuali satu golongan”.
Para shahabat bertanya : “Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah ?.
Beliau menjawab : “Mereka yang berpegang dengan apa yang aku berada di atasnya pada hari ini dan juga para shahabatku”.
Hadits Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajaly radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
“Barangsiapa yang membuat sunnah dalam Islam sunnah yang baik maka baginya pahalanya dan pahala semua orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikitpun, dan barang siapa yang membuat sunnah dalam Islam sunnah yang jelek maka atasnya dosanya dan dosa semua orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim).
Sebagai uraian dari Hadist di atas dapat disimpulkan :
– Inilah Hadist yang dipakai untuk alasan adanya Bid’ah Hasanah, padahal Rasullullah Saw bersabda seperti ini diriwayatkan oleh peristiwa : Bahwa sekelompok orang dari Bani Mudhor datang ke Medinah dan nampak dari kondisi mereka kemiskinan dan kesusahan, lalu Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam memberikan motivasi kepada para shahabat untuk bersedekah. Maka datanglah seorang lelaki dari Al-Anshor dengan membawa makanan yang hampir-hampir tangannya tidak mampu untuk mengangkatnya, setelah itu beruntunlah para shahabat yang lain mengikutinya juga untuk memberikan sedekah lalu beliaupun mengucapkan hadits di atas.

– Maka dari kisah ini jelas menunjukkan bahwa yang diinginkan dalam hadits adalah “Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang tsabit dari sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam …”, karena sedekah bukanlah perkara bid’ah akan tetapi sunnah dari sunnah beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam.

– Kalau hadits ini diterima dan maknanya seperti apa yang hawa nafsu para pelaku bid’ah inginkan, maka ini akan membuka pintu yang sangat berbahaya untuk berubahnya agama. Karena setiap pelaku bid’ah akan bersegera membuat bid’ah yang bentuknya disukai dan sesuai dengan selera manusia, dan ketika dilarang diapun berdalilkan dengan hadits di atas.

– Sesungguhnya makna dari (barangsiapa yang membuat satu sunnah) adalah menetapkan suatu amalan yang sifatnya tanfidz (pelaksanaan), bukan amalan tasyri’ (penetapan hukum). Maka yang dimaksud dalam hadits ini adalah amalan yang ada tuntunannya dalam Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makna ini ditunjukkan pula oleh sebab keluarnya hadits tersebut, yaitu sedekah yang disyariatkan.

– Dan tidak mungkin muncul dari Ash-Shadiqul Mashduq (Rasul yang benar dan dibenarkan) Shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu perkataan yang mendustakan ucapannya yang lain. Tidak mungkin pula perkataan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam saling bertentangan. Dengan alasan ini, maka tidak boleh kita mengambil satu hadits dan mempertentangkannya dengan hadits yang lain. Karena sesungguhnya ini adalah seperti perbuatan orang yang beriman kepada sebagian Al-Kitab tetapi kafir kepada sebagian yang lain.
– Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan (barangsiapa membuat sunnah) bukan mengatakan (barangsiapa yang membuat bid’ah). Juga mengatakan (dalam Islam). Sedangkan bid’ah bukan dari ajaran Islam. Beliau juga mengatakan (yang baik). Dan perbuatan bid’ah itu bukanlah sesuatu yang hasanah (baik).
– Tidak ada persamaan antara As Sunnah dan bid’ah, karena sunnah itu adalah jalan yang diikuti, sedangkan bid’ah adalah perkara baru yang diada-adakan di dalam agama.
– Tidak satupun kita dapatkan keterangan yang dinukil dari salafus shalih menyatakan bahwa mereka menafsirkan Sunnah Hasanah itu sebagai bid’ah yang dibuat-buat sendiri oleh manusia.
Ini menandakan, bahwa apa yang kita lakukan, terkecuali yang telah dilakukan oleh Rasullullah SAW dan para sahabat beliau, maka itu nyata-2 termasuk golongan neraka dikarenakan berbuat bid’ah
Dan dalam Hadist yang lain Rasullullah SAW, bersabda :
“Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak”.
Karena itulah termasuk kaidah yang dipegangi oleh para imam termasuk Imam Ahmad Rahimahullah dan selain beliau menyatakan :
“Ibadah itu pada asalnya terlarang (tidak boleh dikerjakan)”, terkecuali ada perintah dari Allah dan RasulNya.
Wahai Saudaraku, jikalah kita bilang bahwa kita sangat cinta kepada Rasullullah SAW dan kita sangat menginginkan Surganya ALLAH, sehingga yang kita anggap baik kita laksanakan tanpa mengambil dasar apakah ini bid’ah atau tidak yang penting ada bau-2 Al-Qur’an dan Hadistnya. Maka sudah barang tentu para Sahabat, Tabi’in, Tabit-Tabi’in, Imam yang empat serta Imam yang hidup dizaman mereka sudah barang tentu paling-paling dan sangat paling-paling cinta Allah dan RasulNya, dan sangat-2 mengharapkan keikhlasan dan keridhoan dari Allah dan RasulNya, ketimbang kita ataupun para Ulama/Ustadz dan sejenisnya yang hidup jauh setelah zaman mereka. Dan bahkan apalagi para Sahabat yang hidup dizaman Rasullullah dan Khalifaturraasyidin sudah barang tentu akan banyak melakukan Ibadah dan kegiatan yang menurut mereka amat baik, dikarenakan Rasullullah SAW akan langsung mengomentari apakah yang mereka perbuat itu sudah sesuai ketentuan Allah dan RasulNya atau tidak. Dan banyak Hadist lahir merupakan kegiatan para Sahabat yang didiamkan, dikoreksi atau tidak diperbolehkan oleh Rasullullah SAW setelah mendapat petunjuk dari Allah SWT.
Akan tetapi para Ulama/Ustadz yang hidup setelah abad kelima Hijrahlah yang banyak memberi dalil dan ajaran-2 tambahan dalam bentuk bidah dengan diberi bungkus sebagai bid’ah hasanah. Apabila sang Ulama itu berbuat diluar yang dilakukan Rasullullah SAW dan para sahabat beliau, lalu siapa yang akan mengoreksi/membolehkan, apakah Ulama/Ustadz tersebut dapat langsung berdialog dengan Allah SWT atas benar dan salahnya terhadap apa-2 yang ia fatwa/anjur/ajarkan. Dimana pada masa itu dan saat kini kejahilan dan kemunafikan serta berbagai paham sesat sudah kian merajalela dan pemerintah serta penguasa yang menjalankan dan berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadist Rasullullah SAW kian langka, dimana kekuasaan dan uang sudah menjadi kiblat dalam kehidupan dunia. Lalu timbullah berbagai pendapat untuk melaksanakan perintah agama secara instant dan gampang dengan pahala yang jumlahnya belipat-2 sehingga lahirlah berbagai fatwa ini baik dan itu baik. Padahal baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah dan RasulNya, sesuai dengan Firman Allah SWTdalam Surat Al-Kahfi ayat 103, 104 dan 105 yang intinya menyatakan ORANG MERUGI ADALAH ORANG YANG TELAH SIA-SIA BERBUAT BAIK MENURUT VERSINYA SENDIRI DAN PERBUATAN BAIK ITU TIDAK SESUAI AYAT-AYAT ALLAH SWT, SEHINGGA HAPUSLAH AMALAN MEREKA.
Dan Allah Subhanallahi Wata’ala menegaskan bahwa Islam yang beliau turunkan melalui Rasullullah Shallallahi’alaihi Wassallam telah amat-2 sempurna (Al-Maidah ayat 3), dimana semua aturan dan ketentuan telah disampaikan sedetil-detilnya sampai urusan tidur dan meniduri, perut dan segala ampas-2nya. Apakah kita merasa lebih berkuasa dan memiliki kelebihan dari asma Allah dan lebih hebat dari Rasullullah SAW, sehingga segampang itu nambah-2in, seolah-2 masih ada yang terlupakan disampaikan oleh Allah dan RasulNya. Itu artinya kita sudah berbuat maksiyat dengan Allah dan RasulNya. Dan tambah-2an ini kian tumbuh dan berkembang setelah wafatnya Imam yang empat. Karena setelah Rasullullah wafat, dilanjutkan oleh Para Khalifaturrasyidin, para Sahabat, para Tabi’in, Tabi’it Tabi’in dan Imam yang empat tidak ada yang berani nambah-2in, terkecuali kaum Munafik, Khawarij, Mu`tazilah, Jahmiyah, Qadariyah, Rafidhah, Murji`ah dan pecahan dari kelompok-kelompok ini, Syiah dan sejenisnya yang jelas-2 mengingkari Al-Qur’an dan Hadist.
Seorang ahli tafsir terkemuka –Ibnu Katsir rahimahullah- berkata tentang QS. Al Ma’idah [5] : 3 ini, “Inilah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang tebesar bagi umat ini di mana Allah telah menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka pun tidak lagi membutuhkan agama lain selain agama ini, juga tidak membutuhkan nabi lain selain nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi, dan mengutusnya kepada kalangan jin dan manusia. Maka perkara yang halal adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan dan perkara yang haram adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ma’idah ayat 3)
Untu diketahui bersama bahwa Rasullah SAW, bersabda : Bahwa para pembangkang (tukang mengada-ada/bid’ah) itu akan datang dari arah Timur (Irak dan Iran).
Dan kelompok-2 ini menyatakan dalam berbagai pendapat yang kita dapat dalam buku-2 karangan mereka, bahwa mereka sangat membenci para sahabat Rasullulllah SAW. Dan bahkan ada yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib RA. lebih pantas menjadi Rasullullah ketimbang Muhammad SAW. Apakah kelompok-2 seperti ini yang akan menjadi panutan kita. Yang sekarang ini ditambah lagi dengan kelompok yang menamakan dirinya sebagai Islam Liberal
Dan kita ketahui setelah 5 abad Hijrahlah baru para Ulama dan sejenisnya saat itu memulai bid’ah dengan lancar dengan dalil Al-Qur’an dan Hadist-2 palsu yang mereka bilang super shahih.
Dan banyak sekarang amalan-2 yang dilakukan para pelaku bid’ah yang tidak ketemu Hadist dan dasarnya di Al-Qur’an, kecuali semata-2 hanya ITUKAN BAIK, INIKAN BAIK.
Yang kita tahu, lebih gampang menyadarkan orang berbuat maksiat ketimbang orang berbuat bid’ah. Karena orang yang berbuat maksiat Dia begitu yakin bahwa yang dia buat adalah perbuatan salah akan tetapi dia sudah keenakan mengerjakannya. Dan orang yang berbuat BID’AH tidak menyadari perbuatannya itu salah, karena Ia hanya beralasan Inikan sudah dijalankan dari Ulama-2/Ustadz-2/Orangtua-2 kita terdahulu dan toh ini baik untuk nambahin pahala, sementara Nash Al-Qur’an dan Hadist tak ada yang mendukung.
Jika ada perselisihan dalam masalah khilafiyah dalam umat Islam, MEREKA AHLUL BIDAH WAL AHWA ENGGAN (TIDAK MAU) KEMBALI KE AL-QURAN dan HADITS. Seolah-olah hukum (tradisi) mereka lah yg dipakai sementara hukum dalam AL-Quran dan Hadits (Sunnah/Tradisi Rasulullah SAW) dikesampingkan.!! Hal ini seperti apa yg difirmankan oleh Allah dalam:
1. Q.S Al-Baqarah 170: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.
2. Q.S Al-Maaidah 104: “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk”?.
3. Q.S Al-A’raaf 28: “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”?
4. Q.S Lukman ayat 21: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah.” Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?”
Mereka ahlul bidah wal ahwa lebih suka mendekatkan dirinya kepada hal-hal yg syubhat!! Mereka lebih senang berkumpul pada hal-hal yg syubhat, bahkan mereka berani menentang sabda Rasulnya sendiri yg telah bersabda:
“Sesungguhnya antara yg hak dan batil sudah jelas dan diantara keduanya terdapat syubhat, maka jika engkau melihat (menemukan) kesyubhatan tersebut, maka jauhilah hal syubhat tsb”.

Sebagai contoh hal-hal syubhat yg mereka sukai adalah Rokok dan Kemenyan!! Mereka bakar habis uang yg mereka punya hanya untuk membeli rokok, bahkan untuk menggandakan harta (uang)nya mereka membakar kemenyan!! Mereka jadikan kemenyan untuk menambah hartanya. Mereka ahlul bidah wal ahwa paling suka memohon dan meminta kekuburan, bahkan mereka akan melarung sesajen untuk keselamatan mereka atau memotong kepala kerbau agar rumahnya selamat dari gangguan mahluk halus!!
Hal ini persis Firman Allah:
5. Q.S Al-Baqarah 165: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”.
Ada yang beralasan bahwa dengan dikumpulkannya mashaf Al-Qur’an, pengumpulan Hadist dan belajar ilmu Nahwu – Sharaf dikategorikan sebagai bid’ah hasanah. Setahu saya, ini bukan bid’ah. Akan tetapi kegiatan dalam menjaga eksistensi Islam itu sendiri. Apakah dapat dibayangkan jika mushaf -2 tersebut tidak dikumpulkan maka Islam sudah musnah dimuka bumi ini, karena para hafidz satu persatu dipanggil Khalik, sehingga Al-Qur’an akan hilang dari jagat bumi ini. Dan masa itu masing-2 kelompok juga sudah mengumpulkan mushaf, akan tetapi hanya dipergunakan untuk kelompoknya sendiri-2 dengan tatacara baca dan pengertian yang hanya dipergunakan untuk kalangan mereka sendiri. Sehingga lain Ustadz, lain pengertiannya, yang menyebabkan timbul pertentangan diantara umat masa itu, dengan menyebutkan bahwa Ustadz merekalah yang benar, sementara Ustadz yang lain salah. Oleh karena itu Sayyidina Ustman RA memerintahkan beberapa orang sahabat yang hafidz Al-Qur’an secara benar dan lengkap untuk mengumpulkan/menulis dan menjadikan dalam satu mushaf yang disebut MUSHAF USTMANI dengan penulisan dalam bahasa Kurasy (karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa ibu Rasullullah SAW), dan beliau memerintahkan untuk membakar semua mushaf-2 yang ada ditangan para sahabat. Dan para sahabat ikhlas untuk membakarnya, dan mushaf itulah yang dipakai sekarang diseluruh jagat bumi. DAN JIKA SAYYIDINA USTMAN RA TIDAK MENGAMBIL INISIATIF SEPERTI INI, APA JADINYA SEKARANG (afala ta’kilun / afala tatafakkarun) Tetangan belajar Nahwu – Sharaf, dikarenakan Islam sudah mulai berkembang ke daerah luar tanah Arab, sehingga untuk mengetahui tata cara dan kandungan Al-Qur’an tersebut dibutuhkan suatu ilmu agar pengertiannya tidak melenceng dari maksud/arti yang benar. Jika bagi orang Arab, yang memang ini bahasa mereka, toh mereka tidak membutuhkan, tapi bagi yang non Arab sangat-2 membutuhkan.
Sementara kegiatan bid’ah yang selama ini dilaksanakan, seperti tahlil, shalat tahajud berjamaah, shalat tasbih berjamaah, peringatan maulid/mi’radj dan peringatan yang tidak dianjurkan Rasul SAW, ziarah ke makam-2 tertentu, mengaji di kuburan (padahal Rasullullah Saw bersabda : JANGAN KAU JADIKAN RUMAHMU SEPERTI KUBURAN (artinya Orang Yang rumahnya sepi dari bacaan/pengamalan Al-Qur’an adalah dianggap sama dengan kuburan) dan TEMPAT TERLARANG UNTUK IBADAH ADALAH KAMAR MANDI DAN KUBURAN dan HARAM BAGIMU SHALAT DIMASJID YANG ADA KUBURANNYA). Jika ini tidak dilakukan apakah berdampak kepada matinya dan musnahnya Islam. Toh tidakkan, karena masih banyak perintah dan anjuran yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya yang tidak kita laksanakan, KENAPA YANG MENGADA-ADA KITA BEGITU RAJIN MELAKSANAKANNYA (apalagi untuk ini diberi pahala yang sangat menjanjikan, katanya)
Tentangan, dzikir berjama’ah.
Ketahuilah wahai Saudaraku, bahwa Rasullullah SAW pernah menegur seorang sahabat yang sedang berzikir sendirian yang suaranya dizaharkan, dikarenakan didekatnya ada sahabat lain yang sedang shalat Sunat, bahkan Rasullullah berkata seburuk-2 suara keledai, maka suarumu lebih buruk dari itu. Itu artinya Rasul menegor agar kalau dzikir jangan dizaharkan. Nah jika kita dzikir berjamaah dipastikan dengan dzahar/bahkan ada yang dengan mik yang kencang seolah Allah SWT itu tuli dan pekak. Padahal disebelah kita ada makmum yang masbuk/terlambat melanjutkan shalat wajib yang tertinggal, ada pula yang sedang melaksanakan shalat sunat rawatib/lainnya, bahkan ada juga yang sedang membaca Al-Qur’an, toh membuat mereka terganggu dan tidak khusuk, beginikah Rasul SAW menganjurkan kita dalam ber-Ibadah. Bahkan banyak firman Allah SWT yang berbunyi : AFALA TA’KILUN – AFALA TA’LAMUN – AFALA TATAFAKKARUN, yang menyuruh kita untuk menggunakan akal pikiran, ilmu dan berpikir dengan benar dan sehat.
Tersingkap sudah KEDUSTAAN selama ini bagi orang2 yg menganggap bahwa ada bidah hasanah, karena perkataan Imam Syafii rh, bahwa bidah terbagi menjadi dua, yaitu bidah terpuji dan bidah dholalah.

Faktanya perkataan Imam Syafii rh, hanya diputus sampai disitu saja bagi orang yg fanatik sama bidah, padahal Imam Syafii rh mengatakan bahwa bidah terpuji adalah bidah yg ada landasannya dari Al-Quran, Hadits (Contoh Nabi) dan Ijma sahabat/atsar sahabat.

Bahkan, dalam mukadimahnya di Kitab Um, Imam Syafii rh berkata:
“Barang siapa yg mengadakan bidah yang tidak ada landasannya dari Al-Quran, Hadits (Contoh Nabi) dan Ijma sahabat/atsar sahabat maka dia KAFIR.

Jadi dalam hal ini sangat jelas, bahwa BIDAH YANG DIPERBOLEHKAN OLEH IMAM SYAFII HANYALAH TERBATAS PADA APA YANG SUDAH DILAKUKAN OLEH PARA SAHABAT RASULULLAH SAW, yaitu 4 Khulafaur Rasyidin dan 10 sahabat yg sudah dijanjikan syurga oleh Allah SWT.
Demikian saja dulu dari Saya hamba yang dhaif, mudah-2an tanggapan ini dapat didiskusikan, sehingga kita benar-2 menjadi pengikut setia Rasullah SAW dan termasuk satu golongan (Ahlus Sunnah) yang terbebas dari kesesatan dari 72 golongan yang sesat (Hadist Shahih). Dan banyak golongan yang mengaku sebagai Ahlussunnah Waljama’ah, akan tetapi maksiyat, kurafat, syirik dan bid’ah masih dijalankan. Apakah dapat dikatakan mereka itu sebagai AhlusSunnah.
Yakinkanlah pada diri kita bahwa BIDAH HANYA TERBAGI 2, yaitu:
1. Bidah Dinniyah (agama)
2. Bidah Dunia (Muamalah/Hubungan Antar Manusia/Tradisi/IPTEK dlsb)

Golongan ahlul bidah memakai penafsiran yg kurang memahami dalam hadits ini:

“Barangsiapa membuat Sunnah (Kebiasaan/Tradisi) yang baik, kemudian perbuatan itu diikuti, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya, tanpa sedikitpun mengurangi pahala mereka”.

Sayang mereka golongan ahlul bidah hanya membawakan dalil hadits ini sampai disini saja, padahal kelanjutannya adalah:

“Barangsiapa membuat Sunnah (Kebiasaan/Tradisi) yang buruk, kemudian perbuatan itu diikuti, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya, tanpa sedikit pun mengurangi dosa mereka.”

Justru dalil inilah yg mengisyaratkan adanya BIDAH DUNIA!!!
Mana mungkin dalam agama ada Sunnah (Kebiasaan/Tradisi) yg buruk??

Dan tentu saja Sunnah (Kebiasaan/Tradisi) yg baik adalah yg sudah ada tuntunannya dalam Islam dan tetap berpegang pada kaidah norma Islam itu sendiri!!

Sebagai catatan bahwa hadits ini adalah saat Rasulullah SAW melihat adanya banyak orang yg bersedekah dan Beliau SAW sangat senang sekali. Dan juga yg harus diperhatikan bahwa sedekah adalah lebih bersifat hubungan antar sesama manusia!!!

Silahkan saja bagi sesuka hati untuk menjadikan bidah dalam dunia menjadi beberapa bagian, seperti Bidah wajib, bidah sunnah, bidah makruh, bidah haram!!

Tapii jangan sekali2 membagi bidah agama menjadi bidah hasanah, dlsb karena SETIAP BIDAH YG MENYANDARKAN PERBUATANNYA PADA SYARIAT AGAMA adalah sesat!!!!
Dan kami ucapkan Syukran Kastir. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
dan kami tunggu tanggapannya, mudah-2an bermanfaat
Hidayat

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan