-->

Lainnya Toggle

Pameran Buku Bukan Pesta Diskon Buku Tak Laku

Catatan Oktamanjaya Wiguna

Ibaratnya armada tempur, Hans-Michael Fenderl adalah Jenderal McArthurnya panitia Frankfurt Bookfair. Account Manager Frankfurt Book Fair ini punya wilayah tugas di Asia sampai ke ujung Asia Tenggara tempat McArthur menerapkan strategi lompat kodok yang membabat habis kekuatan pasukan Jepang di wilayah ini.

Sebagai tim manajemen pameran buku terbesar di dunia, Fenderl juga menjelajahi pameran buku di berbagai negara, mengamati dan mempelajari setiap ajang itu. Kesempatannya berkunjung ke Indonesia beberapa bulan lalu dipakainya bertanya-tanya soal pameran buku di Indonesia.

Sembari menyantap salad buah yang jadi sarapan paginya di Hotel Borobudur ia bertanya lagi soal format pameran buku di Indonesia demi meyakinkan lagi akan informasi yang sudah didengarnya. Saat mendengar pola pameran yang tak ubahnya seperti bazaar buku murah, Fenderl menggaruk-garuk keningnya. “Saya tak mengerti,” ujarnya.

“Kalau kalian menjual buku dengan murah begitu, lantas bagaimana dengan toko buku?” tanyanya. “Mengapa pameran buku yang dibuat asosiasi penerbit malah merugikan toko buku begitu?”

Lalu Fenderl menceritakan sistem Frankfurt Book Fair yang sama sekali tak mengenal penjualan diskon. Mereka punya perjanjian dengan toko buku agar tak saling merugikan dan titik penjualan buku hanyalah di toko buku tak ada tempat lain.

“Frankfurt Book Fair itu murni trade fair,” katanya dalam bahasa Inggris yang fasih. Artinya, pameran ini memang dikhususkan bagi penerbit, agen literatur, importir buku, dan pebisnis buku bertemu dan menjalin kerja sama bisnis. Transaksi pun lebih kepada pemegang hak cipta kepada pihak yang berniat membeli hak penerbitan tersebut.

Entah apa alasan Ikatan Penerbit Indonesia menerapkan format Indonesian Book Fair dan Jakarta Book Fair seperti sekarang ini. Yang jelas pola pameran seperti ini jelas tak banyak manfaat bagi kemajuan dunia perbukuan Indonesia kecuali mengisi kocek penerbit dengan instan lewat merabat buku-buku tak laku.

Beberapa penerbit memang mulai memanfaatkan ajang tersebut menjadi tempat peluncuran buku baru dan jumpa penggemar. Namun kalau hanya sejauh itu keluhan yang ada selama ini malah tak terjawab dan peluang justru terbuang.

Sebenarnya dalam ajang ini penulis baru yang tak mengerti cara mengontak penerbit bisa datang melihat penerbit yang cocok dan menawarkan naskahnya. Tapi apa mau dikata, rata-rata stand penerbit hanya diisi staf penjualan yang tak punya wewenang mengurusi naskah. Sementara sehari-hari penerbit mengeluh susah mencari penulis.

Lantas peluang melebarkan sayap ke mancanegara dengan menjual hak terjemahan pun pupus begitu saja lantaran pameran sama sekali tak berusaha menjangkau buyer dari mancanegara. Kalaupun ada yang datang ya itu tadi, yang ada di stand hanyalah sekedar penjaga toko dan kasir.

Ide mengumpulkan penerbit dalam satu atap, memamerkan terbitan, sembari menyediakan ajang temu penulis dan penerbit sebenarnya pernah disodorkan Pusat Buku Indonesia Sayangnya ini tak jalan lantaran pemilihan lokasinya di Kelapa Gading Trade Center yang saban hari sepinya pengunjung. Meski gagasannya bagus namun karena kelewat mengandalkan sewa tempat yang gratis akhirnya tak dikelola serius dan belum tujuannya tercapai penerbit yang sudah buka pun akhirnya menutup kembali kiosnya.

Jakarta Book Fair tahun ini sudah yang ke-19, Indonesia Book Fair lebih tua lagi, sudah akan masuk yang ke-29. Apa masih mau begini terus formatnya? Apa tak ada terobosan baru dari Ikapi?

Disalin ulang dari blog Tempointeraktif edisi 12 Juni 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan