-->

Tokoh Toggle

Memoar Fadli Rasyid

Oleh: Marlutfi Yoandinas

Aku dengan Maut
Disini
Di tempat sunyi ini
Hanya aku dengan maut
Ketika kutusuk tembus jantungnya
Aku yang mati

Inilah cuplikan puisi terakhir yang ditulis menjelang kematiannya. Tanggal 15 April 2009 menjadi saksi atas berakhirnya eksistensi seorang Fadli Rasyid di muka bumi ini. Di akhir umurnya yang ke 71 tahun hanya nama dan karya yang tersisa dari seorang Fadli Rasyid. Ibarat pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Kini Fadli Rasyid telah pergi, meninggalkan keluarga, sanak saudara, kawan, lawan bahkan guru-gurunya.
Fadli Rasyid atau dengan sebutan Mbah Fadli mempunyai nama kecil Ahmad Rasyid. Lahir 7 Juli 1937 dan berdomisili di tempat kelahirannya Mumbulsari, Jember. Dia dibesarkan di lingkungan pedesaan yang asri dan penuh keheningan. Pendidikan yang ditempuh Mbah Fadli yaitu Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Guru tingkat B di Jember.

Tahun 1958, setelah lulus dari Sekolah Guru, Mbah Fadli sempat mengajar di Sekolah Rakyat (SR) di Kecamatan Pakisan Kabupaten Bondowoso. Tepatnya tahun 1962, hasratnya untuk terjun dibidang seni budaya tak tertahankan lagi. Dia nekat melepas profesinya sebagai guru kemudian memilih merantau ke Yogyakarta dan bergabung dengan kelompok seniman dalam Komunitas Sanggar Bambu. Kemudian di tahun 1964 Mbah Fadli pindah ke Jakarta dan ikut berbagai pameran serta berbagai kegiatan seni rupa. Tahun 1970 Mbah Fadli bersama Thoha Mochtar, Julius Siyaranamual, Trim Suteja dan Asmara Nababan, mendirikan majalah anak-anak Kawanku. Yang pada sekira tahun 90-an berubah format menjadi majalah remaja.

Sampai pada tahun 1983 disaat umur Mbah Fadli sudah mencapai 45 tahun, dia memutuskan untuk menikah dengan Sri Utami yang pada saat itu berumur 25 tahun. Di tahun itupun, Mbah Fadli kemudian memutuskan untuk menetap di tanah kelahirannya. Hidup bertani namun masih tetap menulis dan melukis. Banyak karya-karya yang dihasilkan Mbah Fadli dibuat di rumahnya Mumbulsari, yang sekarang sudah menjadi sanggar. Mbah Fadli dikaruniai dua orang anak, Bayu Anggun Nilakandi dan Bahana Purwa Kendita. Saat ini Mbah Fadli sudah memiliki tiga orang cucu dari anaknya yang pertama.

Mbah Fadli tergolong seniman yang multitalenta. Dia mempunyai spesifikasi jenis karya seni yang beragam. Jenis karya seni yang sudah dibuat di antaranya; lukisan, novel, novel anak, cerpen, cerpen anak, cerita humor, artikel koran, naskah drama, dan puisi, kemudian patung atau monumen. Buku-buku karangan mbah Fadli diterbitkan oleh beberapa penerbit diantaranya; Dinas P&K, Yayasan Sehati, Yayasan Kawanku-Jakarta, dan lain sebagainya.

Kronologis pengalaman perjalanan hidup berkecimpung di bidang kesenian yang dilakukan Mbah Fadli diantaranya; Sejak sekira tahun 1962, bergabung dengan Sanggar Bambu Yogyakarta, pameran seni rupa keliling Jawa dan Madura. Tahun 1967, Mbah Fadli menggawangi pembuatan monumen Sasmita Loka Jakarta yang berupa patung Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal S.Parman. Sekira tahun 1970, Mbah Fadli mendirikan majalah anak-anak Kawanku bersama Thoha Mochtar, Julius Siyaranamual, Asmara Nababan dan Trim Suteja. Tahun 1972-1976, Mbah Fadli membuat monumen gerbong maut di Kabupaten Bondowoso.

Tahun 1973, mendirikan majalah humor Astaga bersama Arswendo Atmowiloto, Julius Siyaranamual dan Alex Dinuth. Tanggal 7- 11 Maret 1975, pameran tunggal lukisan di Balai Budaya Jakarta. Tahun 1978, Mbah Fadli menjadi pememang pertama Lomba penulisan Naskah Humor yang diselengarakan Lembaga Humor Indonesia bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Tahun 1992, pameran bersama Masyarakat Seni Rupa Jember, pameran lukisan di Beranda Seni Indigo Jakarta dan lukisan Mbah Fadli menjadi koleksi Bentara Budaya Kompas Jakarta.

Karya-karya tulisnya kebanyakan ditujukan untuk segmen anak-anak. Mbah Fadli mengakui, selain hal itu untuk tetap menyalurkan misi pendidikan (sebagai guru yang berhenti mengajar), dia juga menganggap anak-anak harus terus dimotivasi dengan karya-karya tulis seperti puisi, cerpen dan novel. Puisi dan cerita yang ditulis Mbah Fadli selalu mengusung tema lingkungan dan nasionalisme. Semuanya menggunakan tokoh anak-anak. Selain tersebar di berbagai media seperti Horizon, Kompas, Zaman, Kawanku, beberapa naskah sudah diterbitkan menjadi buku. Buku kumpulan puisi karya Mbah Fadli yang sudah diterbitkan antara lain, Musim dan Peristiwa Alam, Surat Pada Pahlawan, dan Dibawah Matahari. Sedangkan cerita atau novel anak karyanya yang sudah diterbitkan seperti Arman Anak Revolusi, Merah Putih Berkibar Kembali, Tamu yang Cerdik (cerita Jenaka/Humor). Ada juga cerita bertema pelestarian lingkungan dan benda sejarah seperti Lepas Ke samudera Luas, Melacak jejak Harimau Jawa, Gerhana Diatas Baluran dan Merebut Dewi Rengganis.

Karya-karya Mbah Fadli banyak digarap dan dihasilkan selama dia berada di Desa Mumbulsari. Beberapa karyanya juga begitu dekat dengan keseharian hidupnya. Ia menghirup denyut kehidupan pedesaan. Melukiskan pesona semesta dengan alamnya yang perawan. Menjadikan semua itu sebagai bagian dari proses kreatifnya.

Dunia seni adalah nafas baginya. Dia suka berpetualang, tidak hanya dalam imajimasi, secara fisikpun dia lakukan. Dimasa tuanya Mbah Fadli mempunyai cita-cita untuk memberikan sumbangsih dengan karya-karyanya untuk Jember. Dua diantaranya yaitu, membuat sanggar seni dan Monumen Moh. Seruji. Sanggar seninya, berhasil dia resmikan pada 22 Februari 2009 dengan nama “Sanggar Fosil”.

Tempat yang digunakan untuk sanggarnya adalah rumah lama di desa Mumbulsari. Namun, untuk pembuatan Monumen Seruji tidak sampai terealisasi. Bukan karena tak ada usaha dari Mbah Fadli tapi memang karena tak ada dukungan dari pemerintah Kabupaten Jember. Dalam pandangan Mbah Fadli Monumen Seruji perlu dibuat untuk mengenang pahlawan Jember sebagai pengenalan sejarah bagi generasi muda. Sekaligus sebagai gerakan melawan lupa akan arti perjuangan para pahlawan kemerdekaan Indonesia.

Begitulah sosok Mbah Fadli yang sudah malang melintang di dunia seni budaya. Seorang seniman yang mempunyai tanggung jawab, kepedulian dan kepekaan atas realitas kehidupan. Salah satu pernyataan yang ditulis Bambang Bujono tentang Mbah Fadli yaitu: Rasyid suka mengaku dia hanya “petani” biasa. Saya kira kunci untuk memahami Rasyid memang itu: petani. Ia akan menanami lahannya sesuai “musim”, suatu ketika menulis cerita pendek, di ketika lain, melukis dengan cat minyak, dan di ketika lain pula ia membuat garis-garis hitam pada kertas putih, disamping benar-benar menanam padi di sebidang tanahnya di Mumbulsari Jember.

Mbah Fadli juga sering menekankan upaya-upaya untuk memajukan kebudayaan lokal Jember dalam semangat otonomi daerah. Tujuan lebih lanjut yang dia harapkan adalah lahirnya kepedulian terhadap kebudayaan dan kesenian lokal Jember.

Tingkatan idealnya, kebudayaan lokal bisa bertahan dan tetap memberikan warnanya dalam kehidupan masyarakat di daerah serta tidak tergerus oleh serbuan budaya luar.
Dalam pandangan Mbah Fadli, nilai-nilai luhur yang terdapat dalam kebudayaan lokal dapat dijadikan sebagai penyeimbang dari terpaan arus modernisasi, teknologi informasi dan globalisasi.

Karena di masa mendatang intensitas dinamika budaya akan semakin banyak mewarnai kehidupan masyarakat. Derasnya arus informasi yang menerpa masyarakat dengan sendirinya akan memberikan pengaruh terhadap perubahan pola pikir dan sikap mereka. Budaya lokal dengan nilai-nilai luhur yang telah dianut, diyakini, dan menyatu dalam kepribadian masyarakat dapat menjadi filter atas desakan budaya luar. Sebagai konsekuensi logis untuk menghadapi kemajuan zaman.

Mbah Fadli kini telah pergi menggapai penciptaNya. Sesuai dengan kodrat yang memang dia sadari akan kehadirannya. Bagaimanapun Mumbulsari dan Jember pada umumnya akan terus bergeliat dari generasi ke generasi. Inilah titipan sekaligus contoh sebuah perjalanan hidup Mbah Fadli. Sekarang tongkat estafet telah beralih ke tangan generasi penerusnya. Akankah dinamika kesenian dan kebudayaan Jember akan mengalami perubahan yang lebih baik? Tentu sang pemegang tongkat itulah yang akan banyak menjelaskan.

Fadli Rasyid sebagai tokoh kesenian dan kebudayaan hanyalah manusia biasa yang lapuk dimakan ruang dan waktu. Tapi mudah-mudahan semangat berkarya dan cita-citanya bisa meresap ke setiap ubun-ubun kesadaran kita semua. Mbah Fadli selamat jalan, pasrahkan atas apa yang telah engkau tinggalkan.

Marlutfi Yoandinas
Kelompok Apresiasi Seni dan Budaya “Rumah Kata” Jember

Diunduh dari Oase Kompas Online edisi 31 Oktober 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan