-->

Lainnya Toggle

Membaca Minat Baca

Oleh Primanto Nugroho

Tahun menunjuk ke angka 2009.

Dua orang tekun membaca buku. Orang pertama membaca buku Bumi Manusia karya Pramoedya AT. Orang kedua adalah seorang mahasiswa yang diwajibkan membaca buku karangan dosennya. Dengan catatan, buku si dosen adalah kumpulan tulisannya di berbagai koran. Sama-sama membaca tetapi ada bedanya. Apa? Nanti dulu.

Dua orang yang lain lagi juga sedang membaca. Yang pertama membaca Koran Merapi di bagian kejahatan dengan kekerasan. Yang kedua melalui laptopnya membaca artikel dari Wikipedia.

Beberapa catatan atas dua gambaran keadaan di atas dapat disebutkan sebagai berikut:

SATU: Jika selama ini orang menyebut-nyebut tentang minat baca, maka bacaan jenis manakah yang dirujuk? Ataukah semua bacaan digebyah-uyah sebagai sama dan sebangun; yang penting adalah minatnya dalam bergaul dengan bacaan? Atau sebaliknya, justru ada anggapan bahwa aneka bacaan yang ada di masyarakat berada dalam posisi hierarkis; bacaan yang “baik dan benar” ada di puncak, sementara selanjutnya bacaan lain di posisi yang menurun –secara mutu atau apa pun juga.

DUA: Pihak mana sajakah yang berkepentingan atas adanya suatu masyarakat dengan minat baca yang tinggi?

Di Indonesia, masa antara tahun 1966 hingga 32 tahun sesudahnya sering disebut-sebut sebagai masa ketika penyeragaman kehidupan bermasyarakat mencapai taraf total. Inisiatif masyarakat dalam hal kegiatan membaca termasuk inisiatif yang sayup-sayup di masa itu. Pemerintah dengan mesin birokrasinya saat itu adalah bapak yang serba tahu apa yang terbaik bagi anak bangsa senegeri.

Foto yang menampilkan tumpukan buku di dalam sebuah bilik berkawat dengan pintu terkunci gembok adalah gambaran suasana tersebut. Foto itu diambil di perpustakaan pemerintah yang terletak di Jalan Malioboro di jantung Kota Jogja. Buku-buku dan media cetak lain yang ada dalam bilik terkunci itu adalah bacaan yang dimasukkan ke dalam kelompok bacaan kiri. Dua hal aneh dapat dicatat di titik ini:

  1. Buku kok dipenjara! Sebuah skandal peradaban terjadi secara telanjang di jantung kota pendidikan…
  2. Foto itu diambil beberapa tahun setelah masa reformasi 1998 berlangsung. Rupanya dalam pergaulan dengan bacaan tidak ada tanda terjadi perubahan pandangan maupun praktek. Sebelum atau setelah tahun 1998, sama saja! Tak ada yang bergerak di aras kuasa pengetahuan kemasyarakatan.

TIGA: Bahan bacaan–terutama dalam format buku–seringkali dikaitkan dengan kecerdasan. Tidaklah sulit untuk menjumpai pernyataan dalam masyarakat mengenai kaitan antara membaca buku dengan kenaikan/ketinggian kecerdasan pada kalangan pembaca.

Foto tentang sebuah toko buku di Jakarta menunjukkan keadaan demikian. Di samping tulisan toko buku terpasang kalimat berbunyi “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Tak pernah jelas duduk perkaranya, siapa yang perlu dicerdaskan?

Sama tidak jelasnya tentang hal apakah yang memiliki daya untuk mencerdaskan suatu bangsa. Bangsa yang cerdas itu yang seperti apa? Di sebelah manakah kecerdasan bangsa di kepulauan ini muncul dalam riwayat kesejarahannya? Apakah bangsa yang cerdas itu adalah kumpulan dari kecerdasan para anggota bangsa yang bersangkutan? Ataukah sesungguhnya kecerdasan di taraf kolektif seperti bangsa itu memiliki syarat dan hukum tersendiri yang sama sekali lain dengan kecerdasan perorangan?

Terakhir, apa artinya bahwa setelah membaca buku itu orang menjadi cerdas? Di negeri bekas jajahan Barat dan Jepang ini apa artinya bahwa seseorang itu cerdas? Apa bedanya dengan sesama orang cerdas di Eropa Barat atau di Negeri Sakura?

EMPAT: Di kompleks pecinan Jakarta yang bernama Glodok ada seorang lelaki tua yang sedang asyik membaca semacam majalah. Uniknya huruf di media cetak yang dibacanya adalah huruf Mandarin. Memang di kepulauan ini masih ada saja ingatan yang terpicu melalui aksara setempat; di Batak, Bali, atau Jawa misalnya.

Jika yang sedang dibaca oleh engkong di Glodok itu adalah bacaan beraksara Mandarin, maka bagaimana kaitan antara pembaca dengan isi bacaan itu? Apakah –umpama aja– ada sejenis informasi atau malah pengetahuan tertentu yang dapat memicu ingatan sang pembaca tentang jati dirinya yang melek huruf Mandarin? Ada berapa macamkah buku yang menyampaikan duduk perkara identitas kolektif kaum melek huruf Mandarin ini di Indonesia? Buku yang tidak sekadar menyajikan seluk-beluk kecinaan namun lepas dari riwayatnya sebagai bagian penting publik di Indonesia?

LIMA: Baik tahun 2000 maupun 9 tahun sesudahnya tak tampak ada yang berbeda pada pasar bacaan resep hidup bahagia dan psikologi –termasuk dalam kelompok ini adalah aneka bacaan yang beberapa tahun terakhir ini muncul dengan istilah motivasi berikut polah motivatornya.

Buku-buku motivasi laris di toko buku. Apa artinya? Bagian mana dari tubuh bangsa ini yang kemudian tersentuh –atau malah tergerak– bersama kehadiran banjir kisah sukses dan hidup bahagia ini? Beberapa orang atau malah ribuan dan jutaan orang di Indonesia bisa hidup nyaman secara rohani, secara semangat hidup dan bekerja ia bisa termotivasi, akan tetapi semua itu terjadi dalam bangsa yang terus tergantung hidupnya dari kekuatan ekonomi dan politik bangsa adidaya. Secara perorangan ia bisa bahagia atau malah balik membahagiakan orang lain di sekitarnya, atau bisa sukses berwirausaha, akan tetapi semua kejadian itu adalah bagian dari suatu negara yang sama sekali tidak berdikari….

Bacaan semacam itu menjadi candu!

* Primanto Nugroho, Penulis adalah pengelola Balai Bacaan Srigunting

(Makalah untuk acara Diskusi “Minat Baca di Indonesia” dalam rangkaian kegiatan peringatan “45 Tahun Jurusan Antropologi FIB UGM”)

2 Comments

PRANOWO - 16. Nov, 2009 -

OUT BOUND CALISTUNG
(Cara cepat membaca, menulis dan menghitung dengan metode Out Bound)

Semakin dini usia anak, maka konsep bermain itu belajar sangat melekat didalam system pembelajaran. Berawal dari hal ini, maka kami mempunyai ide jitu, unik, pertama dan paling utama, yaitu Out Bound calistung (cara memperkenalkan membaca, menulis dan menghitung dengan metode Out Bound)
Out bound calistung paling disukai anak, dikarenakan :
1. Situasi bermain sambil belajar,
2. Tempat diluar ruangan,terbukti mempercepat daya tangkap ilmu kedalam otak anak
3. Memaksimalkan otot, otak dan hati dalam rangkaian gerakan terbukti sangat mudah dicerna dan ilmu yang ada tahan lama
4. Melalui Out Bound, suasana kondusif dapat diciptakan, sehingga mampu membangun konsentrasi anak untuk dapat berpikir, bertindak lebih baik dan lebih efektif.

Kami Toy’s Fun, yang fokus pada dunia anak-anak, apabila diperkenankan akan menyumbangkan ilmu Out Bound calistung, kepada Bapak-bapak, Ibu-ibu, guru dan pemerhati anak guna memberikan wawasan keilmuan yang bermanfaat
Event-event yang dapat dilaksanakan guna menunjang pemahaman Out Bound calistung, kami memberikan beragam penawaran, diantaranya :
1. Pelatihan bersertifikasi (level I, II dan master Trainer Out Bound calistung)
2. Diskusi
3. Bedah modul
4. Out bound calistung kepada guru, orangtua dan pemerhati anak
5. Out Bound calistung kepada anak didik
6. Seminar

harga Rp 35.000 / peserta, minimal 30 anak (untuk yogya)
harga Rp 50.000 / peserta, minimal 30 anak (untuk luar yogya)

tenpat : dimana saja, asalkan tempatnya luas ( minimal 300 m) dan berumput

SEGERA DILAKSANAKAN SAJA, SEBELUM GURU-GURU TK MENGGUNAKAN METODE KAMI

KAMI JUGA MENYEDIAKAN MODUL DAN BUKU

(0274) 6932552 / 0818260304

Pustakawan - 19. Nov, 2009 -

Banyak poin penting dalam artikel ini yang pasti akan menarik bila didiskusikan.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan