-->

Kronik Toggle

Industri Majalah Dinding Remaja Terbesar di Indonesia

SURABAYA – Konvensi anak muda terbesar di Indonesia, Axis DetEksi Convention 2k9 dibuka 13 November di SSCC Supermal Pakuwon Indah Surabaya. Meskipun gate baru dibuka pukul 14.00 WIB, sudah banyak penonton mengantre sejak pagi. Tak heran, lebih dari 7 ribu pengunjung bergantian memadati area pameran mading dan berbagai kompetisi SMP dan SMA tersebut.

Dimulai sebagai sebuah pameran majalah dinding pada 2002, even yang diprakarsai DetEksi Jawa Pos ini memang sudah menjadi magnet pengunjung yang dahsyat.

Selama sepuluh hari, hingga 22 November mendatang, pengunjung bisa menyaksikan 376 mading heboh dari ratusan sekolah, dari belasan kota di Jawa Timur.

Belum lagi kompetisi League Custom Shoes Competition (modifikasi sepatu), OZ DetEksi Challenge (cerdas cermat bahasa Inggris), Honda Beat DetEksi Band Competition (band SMA), Red-A DetEksi Model Competition (model duta SMA), DetEksi Pop Group Competition (SMP), Journalist Blog Competition (SMP dan SMA), dan sejumlah kompetisi pendukung lain.

Hadiah yang dibagikan bernilai ratusan juta rupiah, plus 11 tiket ikut homestay dan belajar di sejumlah perguruan tinggi di Australia.

Konvensi dibuka dengan seremoni sederhana. Azrul Ananda (wakil direktur Jawa Pos dan produser acara), Shannon Smith (atase pendidikan Kedutaan Besar Australia), Martin Newberry (wakil pemerintah Australia Barat), Ahmad Farukinata (Axis), Danny Wibisono (Red-A), dan beberapa perwakilan partner lain mengajak peserta lomba modifikasi sepatu dan Mading On-the-Spot (MOS) SMP untuk menghitung mundur, menandai dimulainya lomba.

Dalam kesempatan itu, pihak Kedutaan Besar Australia juga memberikan kenang-kenangan berupa bendera Australia kepada Azrul Ananda. “Ini merupakan simbol adanya ikatan yang kuat antara Australia dengan Indonesia, khususnya dengan DetEksi Jawa Pos,” tutur Smith, yang sudah tiga tahun hadir di DetEksi-Con.

Shannon Smith berharap kerja sama ini bisa terus berlangsung. Karena itu, dia menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendukung even ini tahun depan. “Menurut saya, ini even yang amazing, satu-satunya di dunia. Belum ada yang saya temui yang bisa sebesar ini,” ujarnya.

Kemarin, Smith dan timnya juga sempat melakukan penjurian khusus. Mereka lantas memilih mading tiga dimensi (3D) milik SMA Ta’miriyah Surabaya, berjudul Generalization of Metro Life, dan mading milik SMA Petra 2 Surabaya, Back To Basic.

Keduanya mendapat penghargaan khusus, Australian Ambassador Award. “Menurut kami, mereka merupakan agent of change (pembawa perubahan, Red) yang mewakili anak-anak muda lainnya,” jelas Smith.

Tema Axis DetEksi-Con 2k9 memang Where Do We Go From Here, mengajak semua peserta untuk memikirkan masa depan. Tema itu tercermin lewat berbagai cara, pada ratusan mading yang dipamerkan di SSCC Supermal Pakuwon Indah.

Setelah seremoni pembukaan, Smith, Azrul Ananda, dan Ahmad Farukinata menjalani jumpa pers khusus dengan 200 jurnalis sekolah. Smith menjawab sejumlah pertanyaan menggunakan Bahasa Indonesia.

Kesempatan bertanya ini tidak disia-siakan para jurnalis sekolah, salah satunya Lukas Surya Atmaja. “Mengapa Anda mau bekerjasama dengan DetEksi, selama tiga tahun ini?” tanya penulis asal SMA Santa Maria Surabaya tersebut.

“Buat saya konvensi ini adalah sebuah fantastic event. We’ll be crazy not to be part of DetEksi (Kami gila kalau tidak menjadi bagian dari DetEksi, Red),” jawab Smith lugas.

Pertanyaan serupa ditujukan kepada Axis. “Kami kan GSM yang baik. Jadi harus berpartisipasi di acara yang baik juga,” jawab Ahmad Farukinata.

Azrul Ananda, sebagai produser, mengaku takjub sendiri melihat pertumbuhan even ini. “Even ini memang tidak bisa ditemui di mana pun di dunia. Dan itu bukan karena kami. Itu karena antusiasme peserta dan pengunjung yang setiap tahun terus bertambah,” ujarnya.

Tahun lalu, DetEksi-Con disaksikan lebih dari 85 ribu pengunjung selama sepuluh hari. Penonton hari pertama yang menembus angka 7 ribu orang kemarin, kata penyelenggara, sudah sedikit melebihi penonton hari pembukaan tahun lalu. “Itu angka yang spektakuler. Tapi kalau tahun ini bisa sama saja, kami sudah lebih dari puas,” pungkas Azrul.

* Dikronik dari Harian Jawa Pos Edisi 14 Desember 2009 dengan judul: “Konvensi Anak Muda Terbesar di Indonesia Dibuka”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan