-->

Kronik Toggle

Hasmi Gundala Ajak Buat Tsunami Komik Lokal

SURABAYA – Harya Suraminata alias Hasmi kemarin (21/11) berbagi ilmu seni membuat komik di kampus Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS). Pencipta superhero lokal Gundala Putera Petir itu menyedot perhatian para peserta lomba Say It In Comic dan talk show bertema Mengenal Lebih Jauh Komik Superhero Indonesia tersebut.

Dalam kesempatan itu, Hasmi banyak memberikan dorongan semangat agar para komikus terus berkarya. Dia tidak ingin komikus lokal pesimistis. Dia menyatakan tidak perlu takut, meski banjir komik impor. ”Kalau sudah tahu ada banjir komik impor, kita harus buat tsunami komik lokal biar bisa menang bersaing,” ujarnya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Persaingan, menurut Hasmi, harus dilakukan secara sehat dan jantan. Karena itu, pria kelahiran Jogja tersebut mengatakan kurang sepakat dengan suara sejumlah komunitas yang meminta agar pemerintah membatasi peredaran komik impor.

Hasmi juga memuji efektivitas media komik. Komik dinilai lebih efektif daripada film atau tontonan layar kaca. Salah satu alasannya, komik bisa dinikmati dan dibawa ke mana-mana. ”Di toilet pun orang bisa bawa komik. Kalau televisi, apa bisa diangkut ke toilet?” katanya, disambut tawa peserta.

Selain Hasmi, tampil sebagai pembicara dalam talk show di ruang seminar STTS itu Dwi Aspitono (Neo Paradigm Studio) dan Is Yuniarto (Wind Rider). ”Jangan berhenti berkarya,” ucap Is Yuniarto, pengarang komik Garudayana yang juga dosen di STTS.

Senada dengan Hasmi, Is Yuniarto mengajak semua pembuat komik, terutama pemula, untuk tidak menyerah dalam membuat eksperimen komik. Dia sadar, pasar industri komik lokal memang sedang tergerus komik-komik impor. Namun, bukan berarti kualitas komik lokal rendah.

Sementara itu, Dwi Aspitono mengingatkan beberapa hal kepada para komikus. Di antaranya, harus belajar dari komik-komik lain. Baik produk luar maupun dalam negeri. Selain itu, dia menekankan tentang kontinuitas. Komikus harus senantiasa berkarya. ”Jadikan berkarya itu sebagai hobi,” ujarnya. (rio/hud)

*) Dikronik dari Jawa Pos, 22 November 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan