-->

Lainnya Toggle

Hal yang Aneh dalam Dunia Kepenulisan

Oleh Cunong N. Suraja

Hal yang aneh boleh juga dianggap menyimpang yang dalam ilmu alam dikenal anomali saat air mulai mencair lagi ketika suhu mencapai minus empat derajat Celcius.

Dalam hal kepenulisan sering falsafah Jawa yang totok selalu dianut akut setia membabibuta (merendahkan diri yang dikenal dengan frase “andap asor”) manakala bergayung-sambut atas sebuah materi pembicaraan yang sudah mulai akan menyeruak pada jati diri kepenulisan.

Set back ke tahun 1974 di saat hal-hal yang diberi label muda ditayang, ditawar, dihadang, dipajang dan dimasalahkan, seorang Iwan Soekri Munaf yang Padang berlogat Sunda meradang bukan mabuk rendang tapi alergi dengan predikat, sampiran, julukan yang menunjuk pada kelas sebagai penulis/penyair (atau apapun) ditambah kata muda di belakangnya. Apa beda muda dan tua dia pertanyakan waktu itu, entah setelah tigapuluh tahun kemudian ketika Iwan Soekri mulai dalam kelompok gaek, yang ditetua, atau tokoh panutan anak muda: Adakah keberangan itu masih tersisa?

Masalah muda ini yang mengungkit “slilit” pikiran saat mulai berwawansabda tentang hakekat pertemanan di FB yang sedang berlaga kata tentang makna. Ada hal yang paradoks pada para penulis paranoiac yang takut pamornya turun berlaga kata dengan pendatang baru.

Tapi harap diingat di tahun 1974 itu juga mulai mekar memar budaya penulis Yogya dan penulis Jakarta (walau penulis Jakarta ini aslinya dari berbagai daerah desa atau dusun juga) dalam forum yang di buka di TIM (Taman Ismail Marzuki, yang sekarang menciut diselenggarakan oleh teman-teman Martin Alaeda dalam “Meja Budaya” di PDS HB Jassin) memberi lahan percakapan antara Emha Ainun Najib yang waktu itu berpolemik dengan Goenawan Mohammad di harian koran Kompas dengan para penyuka sastra seni seluruh wilayah merdeka Indonesia yang diundang DKJ (yang hasilnya Emha dibantai, dihajar, disuntrungkan yang nantinya menjadi tren diskusi atau seminar budaya yang menjamur setelah itu sebagai sebuah gaya menyerang dan menghancurkan hingga muncul di Bandung dengan “Pengadilan Puisi” yang satiris) Tahun-tahun itu juga penulis Yogya juga memanen hadiah dari lomba penulisan di DKJ.

Para penulis yang boleh dikata mumpuni dalam artistik estetika maupun akdemis selalu menyatakan diri bahwa “saya baru belajar, anda yang sedang bertanya itu sudah lebih tahu dari saya yang sedang belajar” yang merupakan ungkapan sikap menutup diri dari celah diskusi beda wawasan maupun beda pikiran. Penulis kawakan model begini saat ini selalu berkilah kalau diajak berlaga kata.

Maka tak heran Saut Situmorang berserta Wowok H. Prabowo seperti bermain tepuk tangan sendirian maupun seperti orang bermonolog di panggung teater tanpa penonton yang kalau dibanding penggiat acara televisi masih lebih mujur dengan adanya akal rekaman tepuk tangan pemirsa langsung di studio maupun di depan layar kaca.

Istilah muda itu yang selalu ditempelkan pada new comer yang kadang tidak berbanding lurus dengan kwalitas daya jelajah kreatifnya. Maka adakalanya penulis (muda) dapat muncul seperti meteor atau comet (kata Jacko dalam lagu “Gone too Soon). Namanya bagai ledakan mercon-mercon seusai pementasan atau penghujung penambilan sebuah konser musik di lapangan tebuka musim panas atau kemarau yang membakar langit malam.

Begitu cerahnya sehingga membuat silau para pecundang yang lalu mulai mengutak-utik dari sisi teori sastra apapun sehingga ajian sakti mandraguna para pembicara yang suka kata sastra ya sastra bertumbangan gugur tanpa daya. Karena sastra ya sastra tidak memilah usia tidak memilah tren maupun mind setter yang lebih suka memunculkan berhala paranoia pendekar silat yang takut pada jurus baru.

Maka nilai sastra ya sastra anak muda dihancurkan dengan frame-frame teori mulai dari kajian budaya (culture studies), sosiologi sastra, pascakolonial, dekonstruksi sampai yang paling awal dikenal dengan behaviorism maupun penggunaan teori Bloomfield yang membelah-belah benda seperti amuba. Teori bak pisau penjagal yang memaksa meruntuhkan pengarang sudah mati dan sastra ya sastra yang sementara diagungkan para penganut puritan sastra “klangean” – yang mengangap sastra hanya hiburan tanpa kerut dahi apalagi menimbulkan teori baru.

Si sastrawan (muda) yang pingin dianggap tahu teori sastra agar karyanya mampu berkelit dan mengegos melawan tusukan teori sastra mulai mengikuti ritual akademis yang selalu ketinggal kereta dalam kreativitas. Mana mungkin ada teori kritik sastra kalau tidak ada karya sastra fenomenal genit merangsang untuk dijamu dengan hajaran frame-frame pikiran para pendahulu. Frame pikiran yang menjebak hingga kadang melunturkan rasa nikmat melahap sastra (anak muda ataupun “klangenan”).

Bentrokan okol-akal tak jarang muncul di antara pendahulu dan pendatang baru. Yang bermulai dari kelompok-kelompok di Pasar Senen dan mereka yang bertengger di balik alasan akademis waktu itu di Rawamangun kalau di Jakarta (baca konflik kata MS. Hutagalung degan Ajip Rosidi), di Yogya kelompok PSK yang merupakan singkatan Persada Studi Klub dari mingguan Pelopor Yogya yang punya tokoh mitos Umbu Landu Paranggi yang kemudian dilanjutkan oleh almarhum Linus Suryadi AG yang hingga kini masih mematok Presiden Malioboro yang tak pernah dilengserkan dengan beberapa rekan dari akademisi di bilangan Bulak Sumur, belum yang bersifat Nusantara antara para penulis yang sudah merasa “orang Jakarta” yang dibaca sebagai pusat melawan cicak-cicak pedalaman yang waktu itu memunculkan gerakan revitalisasi sastra pedalamanan yang ujung-ujung mohon dilegitimasi sebagai satrawan dengan karya yang dimuat koran Jakarta atau diundang pada hajatan DKJ maupun TIM.

Tapi semua itu sekarang hanya tinggal sejarah setelah muncul sarana cyber yang memunculkan cyber satra (yang rata-rata digerakan anak muda yang melek komputer dan internet yang mengglobal bukan menggombal: ha ha ha) yang dihajar juga oleh sastra koran sebagai “tong sampah”.

Muncullah fasilitas FB yang makin menggelembung balon globalnya yang melibas sarana mailing list yang terasa lebih lamban kayak kuya dalam interaksi tukar pandang pikiran dan laga kata-kata. Makin jauh sastra ya sastra dari sastra berbingkai teori. Makin dekat karya sastra dengan pembaca maupun penulisnya. Makin tak sungkan dalam tegur sapa baik sastra ya sastra dan sastra ber terori kritik blasteran atau indo.

Penang, dini hari Nopember 2009

*) Pengajar Intercultural Communication di FKIP-UIKA Bogor

Dikronik dari Jeda Oase Kompas edisi 13 November 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan