-->

Tokoh Toggle

Frank J Hogan:Demi Buku, Ngutang pun Jadi

hoganDalam kompilasi paragraf-paragraf panjang Nicholas Basbanes di A Gentle Madness, Frank Hogan diketahui pernah dikeluarkan dari sekolah ketika usianya 12 tahun. Ia juga pernah bekerja di sebuah toko kelontong dengan bayaran $2 seminggu. Namun ia tak kehabisan asa. Sekolah malam kemudian menjadi pilihannya. Ternyata ia mendapat beasiswa dari Fakultas Hukum Universitas Georgetown. Lulus sebagai sarjana terbaik, dan meretas karir sebagai pengacara yang kondang dan sukses.

Nekat memang telah menjadi watak Frank J Hogan. Pengacara yang banyak menangani kasus-kasus besar. Di meja sidang ia terkenal sebagai seorang pengacara yang tau hukum, persuasif, cerdik, dan memiliki intuisi yang kuat mengenai efek dramatisasi sebuah kasus. The Washington Daily News menyebutnya sebagai “Pengacara Sidang Terhebat”.

Saat usianya mulai lanjut, sekira 54 tahun, Frank mulai mengurangi aktivitasnya di persidangan. Ia memilih sebuah hobi baru, menjadi kolektor buku langka. Dengan penghasilan yang dimiliki selama menjadi pengacara, ia tak banyak kesulitan untuk mendapatkan koleksi-koleksi yang diinginkannya.

Frank mendaftarkan diri sebagai salah satu klien dari broker buku, Rosenbach Company. Dalam catatan Rosenbach, Frank beberapa kali mendapatkan buku yang di incarnya melalui lelang yang diwakili Rosenbach. Di antaranya adalah Rosary karya Nevin yang didapatnya bersama 15 buku lainnya di lelang Sotheby. Ketika buku-buku itu sampai di tangannya, Frank senang bukan main. Seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru.

Kesenangannya berlanjut. Melalui Rosenbach ia terus mendapat tawaran beberapa buku yang menggoda. Frank tak mampu menghindar dan kembali membeli buku. Lagi dan lagi. Ketika suatu hari ia menengok rekeningnya ternyata jumlah uangnya cepat sekali menyusut seiring koleksinya yang terus bertambah. Ia terlambat insyaf bahwa ia sudah kecanduan.

Dan Rosenbach yang perayu ulung itu terus saja menggodanya. Frank sering tak bisa mengelak. Gairah dan hasrat kecintaannya pada buku meluap-luap. Sama menggairahkannya seperti ketika ia mencari celah di persidangan. Sampai-sampai ia pun berhutang komisi pada Rosenbach atas buku-buku yang diperolehnya. Kadang Rosenbach sampai menagihnya dan Frank membayarnya dengan mencicil.

Bagi Rosenbach, membuat kliennya kecanduan membeli buku adalah pencapaian maksimal dari usahanya. Untuk itu ia melakukan cara apa saja untuk merayu. Seperti ketika ia menawarkan Folio Pertama Shakespeare koleksi Lord Rosebery. Tulisnya pada Frank, “Folger tidak memiliki copy yang lebih baik dari ini. Harga yang ditawarkan akan berkisar $42 ribu sampai $60 ribu. Harga yang sangat murah untuk barang yang tak lama lagi akan berharga setidaknya $125 ribu. Gunakan cara apa saja untuk membelinya, Anda tak akan pernah menyesal. Jika perlu, gadaikan mahkota intan.”

Benar saja, Frank tergoda. Ia memang tak sampai menggadaikan intan. The Riggs National Bank meminjamkannya sejumlah uang. Dari uang hasil hutang itu bukan hanya satu folio didapatnya, tapi tiga sekaligus. Ia senang sekali karena tak lama setelah itu ia mendapati bahwa apa kata Rosenbach ternyata benar. Koleksi itu menjadi koleksi Shakesperiana yang paling dicari. Mendapatkannya dengan harga murah tentu hal yang menggembirakan.

Frank semakin menggilai buku-buku langka. Manuskrip demi manuskrip dikoleksinya. Autobiografi penting dikejarnya. Bahkan ketika kantongnya nyaris kosong pun, ia masih tak peduli. Toh ia masih bisa berhutang. Dan membayarnya setelah menjual beberapa koleksi yang telah dimiliki sebelumnya. Yang penting ia masih terus bisa menikmati gairah setiap perburuan dan kepuasan tak terperi saat memperolehnya.

Ketika pada 15 Mei 1944 ajal menjemput, Frank meninggalkan sebuah surat wasiat. Ia sempat berpikir untuk mewariskan koleksi buku, manuskrip, autobografi, dan karya sastra Inggris dan Amerika edisi pertama itu pada institusi agar terus dijaga.

Tapi niat itu dibatalkannya. Ia lebih senang jika menyebar buku-buku itu pada mereka yang akan merasakan seperti yang ia rasakan. Kepuasan dan kegembiraan yang luar biasa saat memiliki barang berharga yang menunjukkan pemikiran dan kemajuan kehidupan manusia. Ada kesucian dalam pertemuan intim dan spiritual dengan buku. Ia tak ingin ”teman-teman”nya itu berada pada kungkungan yang hampa tanpa cinta. Ia lebih suka mengembalikan mereka ke dunia luar agar bertemu dengan orang-orang yang penuh cinta dan hati yang damai. Mereka akan menggantikan tempat yang kosong setelah kematiannya.
Buku-buku itu kemudian dilelang. (Diana AV Sasa)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan