-->

Lainnya Toggle

Di Balik Buku

[REDAKSI: Ini bukan tulisan pertama tentang Room to Read, Indonesia Buku sudah pernah menurunkan artikelnya. Lihat di sini. Namun, sungguh baik kiranya mengkronik kembali tulisan lain ini sebagai pemantik semangat setiap usaha menumbuhkan perpustakaan kampung]

BERKAT Microsoft, John Wood bergelimang harta dan materi. Namun, dia kemudian memilih banting setir, menjadi seorang filantropi untuk masyarakat negara-negara miskin. Dia sedang membangun 7.000 perpustakaan di pelosok dunia.

* * *

Ada benarnya petuah buku-buku how to (buku serial motivasi) bahwa hidup mapan tak menjamin kebahagiaan seseorang. Seperti yang dijalani John Wood, mantan bos Microsoft. Profesi, gaji, dan saham menjadi pertaruhan John Wood yang kemudian memilih tenggelam dalam arus kemanusiaan.

Sejak kecil, John Wood memang gemar membaca. Menurut pengakuannya, saat masih SMP, dia kerap menambah stok pinjaman bukunya di perpustakaan sekolah. Dia sering merayu pihak manajemen perpustakaan sekolah agar bisa meminjam buku lebih banyak. Dia pun akhirnya diperbolehkan meminjam buku lebih banyak daripada siswa-siswa lain.

Keranjingan baca John Wood berjalan hingga dia dewasa. Dia lalu menggagas berdirinya lembaga nirlaba Room to Read pada 1999. Lembaga itu bergerak di bidang pembangunan sekolah-sekolah serta penyediaan buku-buku untuk anak-anak di negara miskin.

Keteguhan cintanya pada dunia literasi (baca-tulis) dibuktikan John Wood dengan sepenuh hati. Dia amat rajin mengisi jurnal hariannya. Misalnya, catatan perjalanan saat dia berekspedisi menaklukkan keangkuhan puncak Himalaya. Dalam perjalanannya itu, John Wood menyaksikan langsung kemelaratan dunia ketiga (Nepal) yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan. Mayoritas masyarakatnya mengalami buta huruf. Banyak sekolah yang dikelola apa adanya. Sekolah-sekolah di wilayah Kathmandu, ibukota Nepal, yang dikunjungi John Wood, tak memiliki banyak buku di perpustakaannya. Pihak sekolah pun tidak tahu kepada siapa mereka harus miminta bantuan. Akhirnya, pengelola sekolah berinisia tif mengetuk hati para pendaki pegunungan Himalaya, termasuk John Wood, agar mau membantu mereka.

Potret kelam itulah yang memantik semangat John Wood menjadi filantropi untuk program pemberantasan buta huruf, membangun gedung sekolah, dan mengasah gairah membaca warga dunia ketiga (Nepal, India, Vietnam, Kamboja, dan lain-lain). Sepulang dari pendakian di pegunungan Himalaya, John Wood langsung melayangkan surat elektronik (e-mail) kepada te­man, kerabat, dan para donasi di seluruh dunia. Dia mengabarkan kesaksiannya di Nepal. Pengalaman menjadi direktur bidang pemasaran Microsoft di wilayah Asia Pasifik menjadikan John Wood tak kesulitan untuk menarik simpati dunia dalam aksi voluntirnya itu.

Personifikasi John Wood memang sangat menarik. Dia tak tergilas oleh mesin hitam-putih bisnis kapitalisme Microsoft. Kendati bekerja cukup lama di Microsoft, dia tetap meluangkan waktu untuk kegemarannya membaca dan menulis buku. John Wood bercita-cita mewarisi semangat mantan Presiden AS Jimmy Carter yang dia alegorikan sebagai ”Si Pengasih Manusia”. Dalam buku The Unfinished Presidency (1998), dia menceritakan kisah perjalanan Jimmy Carter di luar Gedung Putih. Carter menahbiskan dirinya sebagai pekerja sosial yang membangun tempat tinggal bersama Habitat for Humanity dan memantau pemilihan umum di seluruh dunia untuk memberikan aspirasinya.

Pada awal 1990, Carter memimpin gerakan sosial memberantas penyakit cacing guinea. Parasit mikroskopis itu telah menyengsarakan jutaan orang di Afrika dan Asia. Carter bersama William Foege, mantan kepala Centers for Disease Control (Pusat Pengendalian Penyakit di AS), perlu meyakinkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memilih penyakit cacing guinea sebagai penyakit kedua yang harus diberantas dari muka bumi, setelah cacar.

Berkat kegigihannya melayani kemaslahatan manusia, John Wood bersama Room to Read berhasil menyita simpati masyarakat internasional. Dia pun layak mendapatkan banyak penghargaan, di antaranya anugerah Time Asia’s Heroes Award 2004.

Dalam setiap aksi amalnya tersebut, John Wood tak pernah menampilkan sisi kelam manusia, malapetaka, dan kesuraman. Sebaliknya, dia selalu menunjukkan optimisme penuh harapan di daerah garapannya. Dalam lembar-lembar proposal yang dikirimkan ke para donatur, dia tak pernah melampirkan foto-foto anak yang dikerubungi lalat atau potret keluarga kurang gizi yang berbaring dalam debu. Dia tak mengamalkan idiom ”Tangisan Panjang Sally Struthers”.

Ada lima prinsip yang dipegang John Wood untuk meyakinkan para donatur. Salah satunya dengan mengatakan, ”Orang-orang sedang mencari lebih banyak makna da lam hidup mereka. Mendanai pendidikan akan memberikan suatu perasaan yang hebat bahwa Anda telah membantu mengubah dunia menuju lebih baik.”

Kini, Room to Read berkembang pesat di banyak negara. John Wood tak lagi sendiri. Dia didukung para pahlawan yang berlomba-lomba membantu mengembangkan Room to Read.

Di Tumpang, Kabupaten Malang, ada Perpustakaan Anak Bangsa ampuan Eko Cahyono yang gerakannya mirip seperti dilakukan John Wood dengan Room to Read-nya. Namun, untuk mengembangkannya, dia butuh support dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah. Hal itu dilakukan agar perpustakaan yang kini memiliki puluhan ribu koleksi buku dan beranggota lebih dari dua ribu orang itu mati setelah pengelolanya tak kuat lagi membayar uang sewa bangunan.

* A. Qorib Hidayatullah , pencinta buku, tinggal di Malang

Dikronik dari Harian Jawa Pos edisi 29 November 2009

1 Comment

Pustakawan - 29. Nov, 2009 -

kok agak capek ya mbacanya, karena banyak pemisahan suku kata

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan