-->

Kronik Toggle

Baubau Jadi Tuan Rumah Kongres Internasional Bahasa

KENDARI–Pemerintah Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menyatakan kesiapannya untuk jadi tuan rumah terselenggaranya Kongres Internasional Bahasa-bahasa Daerah yang dilaksnakan bulan Juli 2010.

Kepala Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Prof Dr Hanna, MPd di Kendari, Jumat mengatakan, kesiapan Pemkot Baubau menjadi tuan rumah acara internasioanl itu setelah mendapat dukungan kesiapan dari Walikota Baubau, Amirul Tamim.

“Bapak Walikota Baubau, Amirul Tamim, sangat mendukung kegiatan kongres bahasa tersebut,” kata Hanna, setelah melakukan pertemuan dengan Gubernur Sultra, Nur Alam,untuk membicarakan serangkaian kegiatan program Rencana Aksi Bahasa (Rabah) 2010-2012 dan sekaligus mensosialisasikan Undang-Undang nomor: 24/2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

Menurut Hanna, dipilihnya Kota Baubau sebagai tempat penyelenggaraan kongres bahasa internasional itu karena melihat kultur budaya khususnya bahasa di Sultra yang paling beragam.

Apalagi, bahasa dan peninggalan budaya kerajaan koraton di Baubau dan Buton secara keseluruhan itu hingga kini masih tersimpan dengan baik sehingga pada saat kongres bahasa-bahasa daerah nanti akan diperagakan untuk diketahui oleh semua provinsi dan negara yang akan hadir.

Tanpa menyebut jumlah daerah dan negara yang akan hadir pada kongres internasional itu, Guru Besar Universitas Haluoleo Kendari bidang bahasa Inggris itu mengatakan, keragaman bahasa dan budaya di Tanah Air cukup banyak, sehingga dengan kegiatan kongres nanti diharapkan akan mampu  melahirkan satu gagasan.

Ia mencontohkan, bahasa Cia-Cia di Buton setelah dilakukan penelitian beberapa ahli bahasa di dunia, ternyata ada kesamaan dengan rumpun bahasa di Korea Selatan.

Begitu pula dengan Bahasa Muna, berdasarkan penafsiran ahli bahasa di dunia, kini ada kesamaan dengan bahasa yang ada di Belanda.

“Dari kesemua inilah, kantor bahasa Provinsi Sultra sebagai salah satu instansi pemerintah berharap dukungan dari semua pihak baik masyarakat dan pemerintah dalam mensukseskan kegiatan kongres internasional itu,” katanya.

Terkait masalah program Rabah 2010-2012, ia mengatakan ada tujuh program unggulan yang ditawarkan di antaranya penguatan institusi, pemasyarakat bahasa dan sastra indonesia dan daerah, pengkajian dan penelitian serta pemntauan, evaluasi dan pelaporan.

Dengan demikian, dalam jangka 36 bulan ke depan  program yang ditawarkan itu bisa terlaksana dengan baik bila mana ada dukungan dana sekitar Rp13,255 miliar yang diharapkan bersumber dari APBD dan dari pusat.

JY

*) Dikronik dari Cakrawala- Oase – Kompas edisi 7 November 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan