-->

Kronik Toggle

Anak-Anak Muda Penggila Surabaya

Pertempuran hebat meletus di Surabaya, 64 tahun silam. Penyebabnya, arek-arek Suroboyo enggan tunduk pada Sekutu. Sebagian cerita heroik para pejuang Surabaya itu kini menjadi hal yang tak terpisahkan dari sekelompok anak muda kota ini. Apa yang mereka lakukan?


Antonio Carlos: Koleksi Buku Sejarah
BEBERAPA bulan lalu, sebuah komunitas penggemar kuliner mengadakan acara gathering. Acara itu dikemas unik. Mereka menikmati aneka masakan khas Surabaya saat malam sembari mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Surabaya.

Layaknya sebuah tur, acara tersebut juga dipandu seorang guide. Pemandu itu bernama Antonio Carlos. Pria bertubuh subur tersebut juga tercatat sebagai salah seorang pendiri komunitas yang suka mencicipi makanan itu.

Mulai awal hingga akhir perjalanan, Carlos seolah menjadi kamus berjalan bagi para anggota komunitas yang ikut tur. Dia tidak pernah berhenti menuturkan cerita-cerita ringan seputar lokasi yang dilewati bus rombongan.

Misalnya, saat melewati Jalan Tunjungan. Di depan Gedung Siola, Carlos bercerita seputar patung yang berada persis di samping pos polisi Siola. Menurut dia, patung itu merupakan refleksi perjuangan arek-arek Suroboyo pada pertempuran 10 November 1945. Bahkan, arah menghadapnya patung itu dijelaskan Carlos sebagai bentuk penghadangan laskar-laskar Suroboyo terhadap tentara Sekutu.

”Di Surabaya, patung itu ada di beberapa titik. Tapi, arah menghadapnya yang berbeda-beda,” jelasnya.

Pemuda asli Surabaya tersebut memang tergolong penggila sejarah Surabaya. Hebatnya, dia mampu dengan detail menceritakan riwayat situs-situs sejarah di kota ini. Bahkan, dia melengkapi ceritanya dengan kisah-kisah sepele yang selama ini tidak banyak diekspos.

Misalnya, tentang patung dan arah menghadapnya di dekat pos polisi Siola tersebut. Atau, cerita tentang sosok Ketut Tantri. Menurut Carlos, Ketut Tantri adalah orang Inggris kelahiran Amerika yang mempunyai peran penting dalam pergerakan rakyat pasca kemerdekaan Indonesia di Surabaya. ”Dia adalah penyiar radio bersama Bung Tomo. Salah satu andilnya dalam pergerakan, ikut mempropagandakan perlawanan arek-arek Suroboyo terhadap Sekutu,” jelasnya.

Carlos lalu menyebut buku sejarah yang menceritakan peran Ketut Tantri tersebut. ”Buku itu berjudul Revolusi di Nusa Damai,” tambahnya.

Carlos memang menyenangi cerita-cerita kecil di balik peristiwa sejarah besar (petite histoire). Cerita-cerita kecil tersebut, kata dia, bisa menjadi gambaran cerita sejarah yang lebih lengkap.

Dia mencontohkan lagi. Kali ini tentang Makam Peneleh. Selama ini, orang mengenal makam itu sebagai kuburan orang-orang Belanda zaman dulu. Tapi, orang tidak tahu siapa saja yang dikuburkan di situ.

Nah, Carlos mampu menceritakan siapa saja yang jasadnya dikebumikan di makam tersebut. Juga tentang bagian-bagian di kompleks makam itu. ”Di makam itu ada kamar balung (tulang),” tuturnya menggugah penasaran orang yang mendengar ceritanya.

Kamar balung, menurut dia, merupakan tempat penyimpanan tulang-tulang orang yang dikuburkan di pemakaman Belanda di Krembangan. ”Menara air di Krembangan itu dulu adalah makam. Karena beralih fungsi, tulang-tulang yang terkubur di situ dipindahkan ke Peneleh. Maka, tempat penyimpanan tulang-tulang itu diberi nama kamar balung,” ungkapnya.

Carlos juga dengan lancar menceritakan makam Gubernur Jenderal Belanda Pieter Merkos di Peneleh. Makam itu kini menjadi tempat menggembala kambing. ”Penguasa tanah Jawa itu meninggal di Huize Simpang (Rumah Sakit Simpang, sekarang berubah menjadi Plaza Surabaya, Red) dan dimakamkan di Peneleh,” paparnya sembari mengerutkan dahi.

Pemuda keturunan Belanda itu memang lekat dengan sejarah sejak kecil. Cerita sejarah tersebut banyak dia dapatkan dari kehidupan neneknya yang kelahiran Tillburg, Belanda, yang kemudian tinggal di Surabaya dan senang mengoleksi barang antik.

”Selain gemar mengoleksi barang antik, beliau juga senang cerita seputar kenangannya pada para cucunya, termasuk saya,” jelas lulusan IKIP Negeri Surabaya (sekarang Unesa, Red) itu.

Cerita-cerita yang didapat Carlos dari sang nenek, antara lain, tentang bagaimana neneknya pergi ke tempat dugem(dalam bahasa Belanda societeit, Red). ”Diskoteknya tidak seperti sekarang yang citranya buruk,” kelakar Carlos.

Dari sang nenek, dia juga mendapatkan banyak cerita tentang sejarah Balai Pemuda (salah satu societeit terbesar di Surabaya pada zaman Belanda, Red) dan beberapa tempat lainnya.

Bukan hanya itu. Dia juga mendapat warisan puluhan koleksi foto tempo dulu dari neneknya. Dalam perjalanannya, warisan sang nenek tersebut kemudian diperkaya saat Carlos kuliah di IKIP Surabaya. Sejak kuliah itu, dia mengoleksi banyak buku sejarah. Namun, dia lebih senang mengoleksi buku-buku sejarah kecil.

”Koleksi saya ratusan. Tapi, jarang yang jadi text book di sekolah atau kampus,” paparnya sembari membolak-balik buku Soerabaia Tempo Doeloe karya Dukut Imam Widodo.

Buku bersampul hijau itu, menurut Carlos, salah satu yang dia gemari. ”Saya senang tulisan Pak Dukut dalam buku ini,” ungkapnya.

Walau memiliki banyak buku sejarah, Carlos mengaku lebih banyak menggali sejarah dari orang-orang tua yang tahu sejarah atau para pelaku sejarah. Menurut dia, cerita-cerita sejarah merupakan kekayaan yang tidak ternilai kadarnya.

”Kegemaran saya pada sejarah sama seperti kesukaan saya pada makanan,” kelakar pria yang juga aktif dalam situs rujukan makan, surabayafood.com, itu. (gun/ari)

Agung Ainul Rochman: Spesialis Peneliti Makam

SEJARAH Surabaya ternyata tidak hanya menarik bagi anak-anak muda Surabaya. Agung Ainul Rochman, misalnya. Pemuda kelahiran Jombang yang dibesarkan di Bojonegoro itu termasuk getol meneliti sejarah Kota Pahlawan. Khususnya sejarah bangunan peninggalan nenek moyang yang masih tersisa di kota ini.

Bagi mahasiswa arsitektur Universitas 17 Agustus Surabaya itu, Surabaya begitu menyimpan heritage yang luar biasa. Dia begitu terkesan pada bangunan-bangunan kuno beserta sejarahnya. ”Apa harus orang Surabaya saja yang boleh belajar sejarah kota ini,” ujar Agung.

Pemuda berambut gondrong itu mengungkapkan, awalnya dirinya tidak begitu tertarik mempelajari arsitektur kuno. Tapi, kemudian dia ”terjerumus” mendalami sisi-sisi menarik bangunan lawas tersebut.

Pada 2003, Agung dikirim kampusnya mengikuti kegiatan menginventarisasi bangunan bersejarah di Bogor. Tidak tanggung-tanggung, yang diinventarisasi adalah rumah Silaban, arsitek kebanggaan Bung Karno yang sering ditunjuk merancang bangunan bersejarah pada eranya. Di antaranya, arsitektur Masjid Istiqlal, Tugu Selamat Datang (keduanya di Jakarta), dan Gedung BI Surabaya.

”Sebenarnya saya malas. Tapi, karena ditugasi seperti itu, saya berangkat. Itung-itung dolan. Eh, ternyata setelah itu saya jadi senang mengutak-utik bangunan bersejarah,” ungkapnya.

Sembari terus bercerita, dia mengambil sebuah buku dari tas ranselnya. ”Ini lho hasilnya,” ujar Agung sembari menunjukkan buku berjudul House of Silaban. Buku ber-cover pintu rumah Silaban itulah yang disebut telah ”menjerumuskan” dirinya ke dunia masa lalu.

Dari situ, Agung makin getol belajar arsitektur bangunan bersejarah. Apalagi, dia di-support dosennya, Retno Hestiyanti, anggota Tim Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemkot Surabaya. ”Ya, Bu Hesti ikut menjerumuskan saya. Tapi, menjerumuskan pada hal yang baik dan menyenangkan,” kelakar penghobi travelingitu.

Banyak proyek terkait inventarisasi bangunan bersejarah yang selama ini ikut ditangani Agung. Di Surabaya, dia pernah terlibat dalam tim yang bertugas menginventarisasi bangunan karya arsitek Cornelius Citroen. Salah satu bangunan tersebut adalah Balai Kota.

”Saya pernah terlibat dalam pengukuran dan pendokumentasian Balai Kota. Arsitekturnya luar biasa. Bangunannya amat kukuh,” puji Agung. Selain itu, dia pernah terlibat dalam pendokumentasian makam arsitek yang juga perancang bangunan Rumah Sakit Darmo itu.

Dia juga terlibat dalam tim inventarisasi Makam Peneleh. Untuk yang satu ini, Agung benar-benar tertarik mempelajarinya. Dia tertarik pada Makam Peneleh, salah satunya, karena dirinya begitu sering blusukan ke kampung yang terkenal dengan kue bikangnya itu. Di makam tersebut, dia penasaran mengapa orang-orang Belanda dulu banyak dimakamkan di situ.

Agung memiliki tugas baru terkait keunikan kampung tersebut. Alumnus SMPN 2 Bojonegoro itu sedang menyiapkangreen map tentang Peneleh. Green map merupakan peta yang memuat segala hal di daerah tersebut. Mulai sejarah, budaya, peninggalan, masyarakat, alam, sampai hal-hal baru yang ada sekarang. ”Kurang lebih nanti hasilnya seperti ini,” imbuh Agung sembari menujukkan green map sebuah kota di pinggiran Jepang.

Dua bulan lalu, green map Peneleh itu mulai digarap Agung bersama beberapa temannya yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Arsitektur Untag. Hingga kini sudah selesai 50 persen. ”Doakan bisa segera kelar, sehingga bisa segera dimanfaatkan untuk menggali potensi Peneleh,” harap Agung.

Saking seringnya mengerjakan proyek tentang kampung dan Makam Peneleh, Agung mendapat julukan baru. Dia sering dipanggil teman-temannya sebagai ”spesialis peneliti makam”.

Agung juga tengah terlibat dalam proyek inventarisasi bangunan cagar budaya di Surabaya dan Gresik. Dari pengalamannya itu, dia menilai Surabaya sebenarnya merupakan tempat yang menyimpan banyak bangunan kuno beserta sejarah panjangnya.

Sayangnya, hal tersebut masih kurang diinventarisasi dan difungsikan dengan baik oleh pemkot. Misalnya, pemkot belum mempunyai heritage map seperti kota-kota lain di Indonesia. ”Eman, mestinya Surabaya punya itu. Saya mau menggarap kalau ada yang men-support,” tegasnya. (gun/ari)

Arif: Terobsesi Bikin Peta Heritage

MAHASISWA Arsitektur Universitas 17 Agustus ini termasuk di antara mahasiswa yang mempunyai ketertarikan nguri-uri cagar budaya dan sejarah Surabaya. Walaupun bukan juga termasuk àrek asli Suroboyo, namun banyak kegiatan yang telah ia lakukan terkait sejarah kota Pahlawan. Salah satu obsesinya membuat membuat peta heritage Surabaya.

Menurut pemduda asli Blora itu, hingga kini Surabaya belum memiliki peta heritage yang memadai. “Padahal Palembang dan Padang saja punya. Kebetulan saya ikut dalam tim pembuatan heritage map untuk Palembang,” cerita Arif.

Dua tahun lalu, dia dikirim kampusnya ke kota empek-empek itu untuk bergabung dalam pembuatan peta bangunan bersejarah di Palembang. Dari pengalamannya selama menelusuri bangunan bersejarah di beberapa kota, Arif menilai Surabaya termasuk kota yang luar biasa hebat bangunannya.

“Tidak hanya itu, bangunan-bangunan itu juga tercatat di beberapa buku sejarah Indonesia. Baik sejarah murni maupun sejarah arsitektur,” ucap bungsu dari lima bersaudara itu.

Sambil menunjukkan contoh-contoh heritage map koleksinya, Arif menjelaskan beberapa fungsi peta tersebut. Salah satunya sebagai tetenger untuk melindungi dan menjaga memorial pada bangunan yang ada. “Kita tidak berharap terjadi gempa di Surabaya. Tapi, seandainya di Surabaya terjadi gempa, seperti di Padang, lantas bagaimana cerita sejarah dari bangunan-bangunan itu bila sebelumnya tidak kita dokumentasikan dengan baik,” jelas Arif.Menurut dia, pendataan bangunan bersejarah di Surabaya masih kalah dibandingkan kota lain. Arif dan kawan-kawannya pernah mencoba sendiri membuat heritage map Surabaya. Namun, dalam perjalanannya mereka banyak menghadapi kendala. “Susah kalau tidak ada yang mendukung, terutama dari pemkot. Sebab, tidak sedikit bangunan yang akan kita inventarisasi, ” jelas mahasiswa yang saat ini sedang mengerjakan proyek inventarisasi bangunan bersejarah di Gresik itu.

Untuk mengerjakan proyek pembuatan heritage map, menurut Arif, semestinya suport pemerintah daerah yang paling diharapkan.. Dia mencontohkan untuk peta Gresik. Proyek tersebut mendapat dukungan penuh Pemkab Gresik melalui Dinas Pekerjaan Umum setempat.

Arif mengaku optimistis suatu saat bisa mewujudkan obsesinya membuat heritage map Surabaya. Bersama dosen pembimbingnya selama ini –yang juga anggota tim cagar budaya Surabaya– Arif terus berusaha melakukan lobi ke pemkot dan pihak-pihak lain agar bersedia menjadi sponsor pembuatan peta tersebut.

Pengagum arsitek Belanda Thomas Karsten itu sebenarnya diam-diam mulai melakukan inventarisasi sendiri bersama beberapa kawannya. Salah satunya, dengan pengambilan foto-foto bangunan cagar budaya di koridor Jalan Tunjungan, dari gedung Siola hingga Tunjungan Plaza.

Seperti halnya Agung Ainul Rohman –teman kampusnya– Arif juga pernah terlibat dalam proyek inventarisasi bangunan Balai Kota Surabaya. Dua tahun silam dia melakukan pengukuran dan pendokumentasian kantor pemerintahan yang terletak di Jalan Jimerto itu.

“Luar biasa karya Cornelius Citroen itu, ” ucap Arif sembari menunjukkan foto tempo dulu Balai Kota dan Taman Surya. Kondisi gedung itu masih persis seperti yang ada saat ini. Bangunan kokoh berlantai dua itu memanjang dari timur ke barat, lengkap dengan air mancur di depannya.

Sekitar beberapa bulan lalu, Arif juga diminta Retno Hestianti, dosennya, untuk mendokumentasikan bangunan-bangunan kolonial di Surabaya. Jumlahnya sekitar 90 bangunan. “Ndak, tahu katanya akan dibuat sebuah buku oleh Disbudpar,” jelasnya.

Baginya, sejarah merupakan hal yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Terlebih bagi seorang calon arsitek seperti dirinya. Sebab, melalui inventarisasi dan pendokumentasian bangunan bersejarah, orang bisa belajar banyak tentang tata ruang sebuah kota dari masa ke masa. (gun/ari)

Mochammad Rizky Satrio Rudhyni : Susun Buku Panduan Wisata untuk Turis

Mochammad Rizky Satrio Rudhyni adalah salah seorang anak muda Surabaya yang gelisah dengan kondisi situs-situs bersejarah kota ini yang kurang dipromosikan. Karena itu, lewat buku foto yang digagasnya, dia berharap Surabaya lebih menjual lagi bagi turis manca maupun domestik.

GUNAWAN SUTANTO



FOTO-foto berobjek bangunan bersejarah itu tertata rapi di meja teras rumah keluarga Rizky Satrio Rudhyni, kawasan Jalan Doho, Surabaya. Ada foto Tugu Pahlawan, Monumen Bambu Runcing, House of Sampoerna, dan banyak objek lainnya.

Itulah sebagian foto hasil jepretan Rizky. Anak sulung di antara dua bersaudara tersebut memang hobi fotografi. Kemampuannya di bidang fotografi itu kini banyak dicurahkan untuk mewujudkan obsesi membuat buku tentang Surabaya. Melalui buku tersebut, dia ingin ”menjual” kehebatan Kota Pahlawan ini.

”Buku yang bercerita melalui foto itu sedang saya susun. Ini bentuk kecintaan saya pada kota ini,” ucap Rizky sembari menunjukkan beberapa karyanya.

Buku yang mulai dikerjakan Rizky awal Oktober lalu itu bakal bercerita banyak hal tentang Surabaya dalam bingkai-bingkai foto. ”Di antaranya, saya banyak memotret bangunan cagar budaya di Surabaya,” ungkap Rizky.

Cerita tentang Surabaya banyak didapat pemuda kelahiran 22 Maret 1988 itu dari aktivitas di Paguyuban Cak dan Ning. Rizky memang menjadi juara III dan juara favorit Cak Surabaya 2006.

Saat aktif di peguyuban itulah, Rizky banyak mengikuti kegiatan promosi wisata Surabaya. Dari aktivitas tersebut, dia jadi kenal tokoh-tokoh Surabaya. ”Seperti Pak Eddi Samson (pelaku sejarah, Red), Cak Kadar (sesepuh Pusura Kadaruslan, Red), sampai Pak Freddy (direktur Eksekutif Surabaya Heritage Freddy H. Istanto, Red),” ucap mahasiswa Universitas Ciputra itu.

Dari tokoh-tokoh itulah, Rizky menimba ilmu sejarah kota ini. Dia juga jadi doyan blusukan ke situs-situs sejarah Surabaya. ”Minimal seminggu dua kali saya pergi ke tempat-tempat bersejarah itu untuk mengamati dan mengambil gambar,” katanya.

Menurut Rizky, berdasar pengamatannya, banyak potensi wisata Surabaya yang kurang dimaksimalkan pengemasannya. Misalnya, kurangnya buku panduan mengenai ”kekayaan” wisata kota berusia 716 tahun itu. Kebanyakan masih berupa brosur-brosur sederhana yang kurang menarik minat orang untuk mencermatinya. Akibatnya, potensi wisata yang tak kalah dengan kota-kota lain itu pun tak termanfaatkan.

Dari situlah keinginan Rizky untuk membuat buku foto tentang Surabaya tersebut timbul. Pembuatan buku itu sekaligus dia jadikan tugas akhir kuliah. ”Saya sering menjadi guide tamu dari luar Surabaya. Nah, buku itu nanti saya harapkan bisa menjadi guiding para turis,” kata Rizky.

Dalam buku tersebut, Rizky membagi cerita Surabaya dalam beberapa wilayah. Surabaya Utara divisualkan sebagai wilayah sejarah. Menurut Rizky, wilayah tersebut banyak menyimpan sejarah Surabaya tempo dulu. ”Tapi, sejarah tempo dulu itu saya sajikan dalam kondisi sekarang,” tambah alumnus SMAN 6 Surabaya itu.

Rizky akan melakukan sharing dengan Dukut Imam Widodo, pembuat buku Surabaia Tempo Doeloe. ”Saya ingin berkolaborasi dengan buku Pak Dukut,” kata Rizky.

Kolaborasi yang dimaksud, misalnya, dengan menyamakan angle foto tempo dulu yang ada di buku Dukut dengan foto baru hasil jepretan Rizky. Tentu saja, untuk objek-objek yang masih ada dan mungkin untuk diambil gambarnya.

Untuk wilayah lainnya, Rizky menempatkan dalam peran masing-masing. Misalnya, Surabaya Timur sebagai wilayah pantai. Surabaya Barat sebagai lokasi elite, Surabaya Selatan untuk traditional market, dan Surabaya Pusat sebagai pusat pemerintahan serta lifestyle. ”Walau begitu, setiap wilayah nanti juga saya sisipi dengan cerita sejarah masa lalu,” jelasnya.

Rizky mengatakan sangat berobsesi bisa menyelesaikan buku itu sebelum Mei tahun depan. Dengan begitu, bisa diluncurkan saat Surabaya merayakan ulang tahun ke-717. ”Saya ingin sekali bisa memberikan kado buat kota kelahiran saya ini dengan skill yang saya punya,” ucap putra pasangan Achmad Rudhy dan Nur Mariam itu.

Rizky mengatakan tidak mempunyai banyak kesulitan dalam pengerjaan buku tersebut. ”Mungkin karena saya terobsesi dan senang dengan bidang ini,” katanya.

Hanya, izin untuk bisa blusukan ke situs-situs sejarah itu yang sering menghambat langkah Rizky. Beruntung, posisinya sebagai anggota Paguyuban Cak dan Ning banyak membantu proses perizinan tersebut.

Dia berharap bukunya bisa menjadi rujukan bagi warga Surabaya. Sebab, menurut dia, banyak warga Surabaya yang tidak mengenal tempat-tempat bersejarah kota ini.

”Itu kan ironis toh, masak ada orang Surabaya yang tidak tahu kalau di Tugu Pahlawan ada museum yang begitu bagusnya,” jelas pemuda yang saat ini aktif dalam organisasi nirlaba Youth Surabaya Heritage (YSH) itu. (gun/ari)

*) Dikronik dari Koran Jawa Pos edisi Sabtu, 7 November 2009

2 Comments

iin - 16. Apr, 2010 -

saya tunggu ya.. heritage mapx kota surabaya..

Jack - 04. Mar, 2011 -

hmm… cerita history dari carlos sangat menarik
kalau tidak keberatan, saya ingin bertanya lebih dalam tentang balai kota surabaya. Menurut cerita sejarah yang anda pelajari, keistimewaan atau keunikan apa yang ada di daerah balai kota surabaya yang tidak dimiliki oleh tempat lain, jadi ciri khas yang tidak dimiliki di tempat lain selain di daerah balai kota surabaya…
THX b4…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan