-->

Kronik Toggle

71 Kios Buku di Senen Dibongkar

PENGGUSURAN PKL
71 Kios Buku di Senen Dibongkar
Sabtu, 28 November 2009 | 03:04 WIB
Jakarta, Kompas – Sebanyak 71 kios majalah dan buku di Terminal Senen dibongkar paksa, Kamis (26/11). Pedagang menyesalkan tindakan aparat keamanan yang membongkar lapak sebelum pemilik mengosongkan isinya. Selain itu, pembongkaran dilakukan saat hujan sehingga sebagian buku rusak.
”Kami menyayangkan tindakan aparat yang tidak memberikan toleransi. Kalau kami diberi waktu dua jam saja, buku bisa kami pindahkan dan lapak kami bongkar sehingga kerugian bisa diminimalkan,” tutur Situmorang, salah satu pedagang buku.
Dia mengaku sudah mendapatkan surat pemberitahuan agar pedagang mengosongkan lapak sejak sepekan lalu. Namun, dia tidak menyangka ada pembongkaran paksa yang menyebabkan rusaknya barang dagangan. Pembongkaran dilaksanakan saat sebagian kios masih tutup. Situmorang mengatakan, pemilik kios banyak yang datang agak siang karena saat itu hari hujan.
Camat Senen Hidayatullah mengatakan telah mengingatkan pemilik lapak agar membongkar lapaknya. Namun, peringatan tidak diindahkan sehingga kios dibongkar paksa.
”Kami sudah aspiratif dan mengabulkan permintaan pedagang untuk berjualan hingga Oktober. Namun, hingga sekarang mereka belum mengosongkan lokasi,” ujar Hidayatullah.
Pembongkaran dilakukan karena kios telah menyita badan terminal sehingga mengganggu arus kendaraan yang akan masuk. Selain itu, keberadaan kios membuat terminal kumuh dan semrawut.
Hidayatullah mengatakan, kios di sisi selatan Terminal Senen merupakan penampungan sementara. Sesuai kesepakatan, PKL sudah harus keluar dari Terminal akhir Juli 2009 dan disediakan penampungan di lantai IV Pertokoan Senen Blok I. Pihaknya mengakomodasi permintaan pedagang agar diperkenankan tetap berjualan hingga Oktober karena bulan Agustus dan September merupakan puncak pembelian buku seiring dengan tahun ajaran baru.
Padahal, pedagang telah membayar pajak tahunan dan bulanan. ”Setahun, kami memperpanjang izin berjualan membayar Rp 300.000 ke pemerintah. Selain itu, ada pula kutipan per bulan sebesar Rp 30.000,” ucap Sinurat, salah satu pedagang. (ART)

JAKARTA — Sebanyak 71 kios majalah dan buku di Terminal Senen dibongkar paksa, Kamis (26/11). Pedagang menyesalkan tindakan aparat keamanan yang membongkar lapak sebelum pemilik mengosongkan isinya. Selain itu, pembongkaran dilakukan saat hujan sehingga sebagian buku rusak.

”Kami menyayangkan tindakan aparat yang tidak memberikan toleransi. Kalau kami diberi waktu dua jam saja, buku bisa kami pindahkan dan lapak kami bongkar sehingga kerugian bisa diminimalkan,” tutur Situmorang, salah satu pedagang buku.

Dia mengaku sudah mendapatkan surat pemberitahuan agar pedagang mengosongkan lapak sejak sepekan lalu. Namun, dia tidak menyangka ada pembongkaran paksa yang menyebabkan rusaknya barang dagangan. Pembongkaran dilaksanakan saat sebagian kios masih tutup. Situmorang mengatakan, pemilik kios banyak yang datang agak siang karena saat itu hari hujan.

Camat Senen Hidayatullah mengatakan telah mengingatkan pemilik lapak agar membongkar lapaknya. Namun, peringatan tidak diindahkan sehingga kios dibongkar paksa.

”Kami sudah aspiratif dan mengabulkan permintaan pedagang untuk berjualan hingga Oktober. Namun, hingga sekarang mereka belum mengosongkan lokasi,” ujar Hidayatullah.

Pembongkaran dilakukan karena kios telah menyita badan terminal sehingga mengganggu arus kendaraan yang akan masuk. Selain itu, keberadaan kios membuat terminal kumuh dan semrawut.

Hidayatullah mengatakan, kios di sisi selatan Terminal Senen merupakan penampungan sementara. Sesuai kesepakatan, PKL sudah harus keluar dari Terminal akhir Juli 2009 dan disediakan penampungan di lantai IV Pertokoan Senen Blok I. Pihaknya mengakomodasi permintaan pedagang agar diperkenankan tetap berjualan hingga Oktober karena bulan Agustus dan September merupakan puncak pembelian buku seiring dengan tahun ajaran baru.

Padahal, pedagang telah membayar pajak tahunan dan bulanan. ”Setahun, kami memperpanjang izin berjualan membayar Rp 300.000 ke pemerintah. Selain itu, ada pula kutipan per bulan sebesar Rp 30.000,” ucap Sinurat, salah satu pedagang.

* Dikronik dari Harian Kompas Edisi Sabtu, 28 November 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan