-->

Kronik Toggle

Yusnia Ali Alatas: Buku Jadi Juru Damai

Menyebut kata buku selalu menorehkan kesan mendalam dalam diri Yusnia Ali Alatas. Ia dan suaminya, Ali Alatas (almarhum)–mantan Menteri Luar Negeri dan salah seorang diplomat terpenting Indonesia–menempatkan buku menjadi benda berharga sepanjang pernikahan mereka.

“Bapak dan buku seperti dua sisi mata uang, saling bertautan. Buku merupakan warisan terpenting bagi kami, istri, anak, dan para cucu,” kata Yusnia, yang ditemui pekan lalu di sebuah acara peragaan busana di Jakarta.

Hari itu Yusnia ditemani saudara kembarnya duduk bersama para istri duta besar negara sahabat. Mengenakan blus sutra panjang bermotif bunga-bunga dan sarung hitam, penampilan wanita paruh baya itu masih menawan.

Ia sangat antusias ketika menceritakan rasa bangga dan gembiranya saat Departemen Luar Negeri (Deplu) memberikan penghargaan istimewa kepada sang suami dengan menabalkan namanya untuk perpustakaan di kantor itu, yakni Perpustakaan Ali Alatas. Perpustakaan yang diresmikan pada Senin lalu itu, menurut Yusnia, “Berisi koleksi ribuan buku penting dari Deplu dan sumbangan pribadi Bapak.”

Yusnia menuturkan, buku pula yang sering menjadi mediator atau juru damai antara ia dan sang suami kala berselisih pendapat. Cara romantis ini dinilai Yusnia tak ada bandingannya. Selalu menerbitkan rasa sayang dan jatuh cinta lagi ketika ia mendapat kiriman buku dari Ali Alatas sehabis berselisih paham.

“Lucu, romantis, tapi sangat berkesan. Kata Bapak, buku bukan hanya jendela dunia, sumber ilmu, tapi juga perekat cinta dan sayang,” tuturnya.

Di rumah, ia mengisahkan, anak-anaknya paham bahwa sang ayah sangat suka buku dan membaca. “Semoga perpustakaan tersebut menjadi gudang ilmu bagi generasi penerus seperti harapan Bapak,” dia melanjutkan sambil mengembangkan senyuman indah.

Diunduh dari media online Tempo Interaktif edisi 23 oktober 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan