-->

Tokoh Toggle

Umberto Eco: Di era fotokopi dan rimba informasi internet, praktikkan gaya membaca "penyusutan"

Perbincangan tentang Informasi (Wawancara Patrick Coppock dengan Umberto Eco)

Umberto Eco, seorang perokok berat yang ramah, menerima saya di kantornya yang kecil, sibuk, berantakan, tetapi menyenangkan, di Institut Kajian Komunikasi, Universitas Bologna. Sebuah jendela membuka ke arah sebuah balkon sempit. Dari sana sebuah taman terhampar di depan bangunan-bangunan kantor dan perpustakaan institut ini. Dinding-dinding ruangan dilapisi jajaran rak yang dipenuhi buku; sebuah sofa di salah satu sisi ruangan dipenuhi tumpukan kertas, buku-buku, sebuah meja tulis tersembunyi di bawah tumpukan buku dan kertas yang lebih banyak lagi. Di salah satu sudut ruangan terdapat sebuah IBM 486 [catatan: wawancara ini dilakukan pada 1995] dilengkapi Windows, pada layar tampak sebuah artikel atau buku baru yang tengah dikerjakan. Eco mempersilahkan saya duduk pada sebuah kursi di depan mejanya.

Saya mengajukan sebuah daftar isu yang mungkin bisa kami diskusikan, dan ternyata ia punya gagasan yang juga sudah ada di pikiran saya: teknologi komputer, komunitas Internet, dan proses perubahan kebudayaan. Saya mulai dengan pertanyaan:

Profesor Eco, Anda seorang pujangga, penulis, filsuf, sejarawan. Di atas meja di samping Anda ada sebuah komputer. Sebagai penulis dan peneliti sastra, apakah teknologi komputer modern sungguh-sungguh fungsional bagi Anda?

(Sekilas Eco memandang ke komputer, tersenyum, lalu mengangguk penuh pertimbangan) Ya, tetapi kadang-kadang komputer juga memberikan dampak yang melumpuhkan. Saya akan memberi Anda sebuah contoh: saya pernah diundang oleh Universitas Yerusalem untuk sebuah simposium yang bertema gambaran Yerusalem dan kuil sepanjang zaman. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan dengan topik ini.

Lantas saya berkata pada diri sendiri, baiklah, saya harus mulai dengan sesuatu dari awal Abad Pertengahan; disertasi tentang Thomas Aquinas.

(Ia menunjuk ke rak penuh buku di sebelah kiri saya) Di sini saya punya seluruh karya Thomas Aquinas dengan sebuah indeks yang cukup baik, dan saya melihatnya untuk mencari tahu berapa kali dia mengutip Yerusalem dan mencoba mencari kejelasan tentang alasan dia menggunakan gambaran Yerusalem. Sekarang, kalau saja saya hanya memiliki buku-buku ini–indeks itu adalah sebuah indeks yang cukup baik, yang hanya memfokuskan pada pendekatan-pendekatan yang terbesar, yang lebih intensif tentang kata ‘Yerusalem’–saya akan menemukan katakanlah 10 atau 15 lema ‘Yerusalem’ yang bisa saya periksa. Celakanya sekarang saya sudah punya hiperteks Aquinas… (Ia melihat lagi ke arah komputer di sudut ruangan…) dan di sana saya menemukan, saya tak ingat angka persisnya, tapi sekitar 11.000 lema atau lebih…

Ya ampun!

Pada titik itu saya menyerah!

Ya, itu bahan yang kelewat banyak untuk ditangani dalam satu waktu.

Mustahil bekerja dengan 11.000 rujukan. Terlalu berlebihan.

Jadi, dengan kata lain, sistem yang Anda pakai tak “tersaring” dengan cukup baik?

Saya tak bisa menangani pemindaian 11.000 lema. Kini, dengan usia dan keterbatasan-keterbatasan tradisional saya, mungkin saya akan menangani sesuatu yang lebih masuk akal tentang topik itu.

Itu karena manusia mencari dengan sebentuk perasaan, jalan intuitif, sementara komputer mengerjakannya dengan sangat mekanis dan sekedar mencomot semua hal?

Teori saya adalah tak ada perbedaan antara New York Times edisi Minggu dengan Pravda di masa lalu. New York Times edisi minggu dengan 600 atau 700 halaman hanyalah berisi berita-berita lama yang dikumpulkan jadi satu. Tetapi seminggu tidaklah cukup buat membaca satu edisi Minggu New York Times. Jadi, pada kenyataannya berita-berita di sana irelevan, atau imaterial, karena Anda tak bisa mendapatkannya. Lantas apa beda antara Pravda, yang sama sekali tak memuat berita, dengan New York Times yang memberi berita terlalu banyak? Dahulu, jika saya memerlukan sebuah bibliografi tentang Norwegia dan semiotika, saya pergi ke perpustakaan dan mungkin akan menemukan empat judul bacaan. Saya mencatat dan menemukan referensi bibliografis lainnya. Kini dengan Internet saya bisa mendapatkan 10.000 judul. Pada titik ini saya tak berdaya. Lebih baik saya memilih topik lain.

Informasi berlebih dan kelewat ekstrim. Jadi masalah utamanya ada pada seleksi yang non-intuitif atas informasi?

Ya, kita telah menjadi pencari informasi yang eksesif. Saya pikir ini ironis sekaligus paradoksikal, hal yang pernah terjadi dengan bahan-bahan fotokopian (Xerox copies).

(Eco mengambil setumpuk kertas dari atas meja dan mengipas-ipaskannya) Suatu kali saya ke perpustakaan dan mencatat. Saya bekerja keras, tetapi di akhir pekerjaan saya menghasilkan kurang lebih 30 berkas saja tentang satu subjek khusus. Kini, kalau saya ke perpustakaan–biasanya terjadi ketika saya ke perpustakaan-perpustakaan Amerika–saya menemukan banyak hal yang tinggal saya xerox, xerox, dan xerox untuk mendapatkannya. Ketika sampai di rumah dengan semua bahan itu, saya tak pernah membacanya. Sama sekali!

Kelihatannya Anda selalu tak pernah punya waktu? Anda tahu bahan-bahan itu ada di sana, Anda merasa tak yakin, dan maka Anda tak membacanya.

Tepat sekali…

Dengan begitu menurut Anda memfotokopi (Xeroxing) bisa melumpuhkan aktivitas membaca? Apakah itu bahaya yang lain lagi?

Tentu… Itu adalah bahaya yang seringkali sangat nyata.

Ya, kalau begitu, apa pendapat Anda soal gagasan tapis informasi pribadi (personal information filters), gagasan bahwa Anda bisa membuat sebuah profil pribadi, dan sebuah sistem akan melakukan pencarian di Internet atas dasar profil itu?

Inilah yang saya sebut dengan seni penyusutan (the art of decimation)…

Penyusutan?

Penyusutan. Anda hanya membunuh satu dari sepuluh orang…

Jumlah buku yang benar-benar berhubungan dengan bidang saya–tak usah membicarakan buku-buku lain yang saya terima tiap minggu–sudah berlebih, menghabiskan waktu membaca saya…

Kapabilitas Anda, kapasitas?

…Kapabilitas saya adalah waktu. Jika Anda punya pengalaman khusus bahwa Anda mampu… maka Anda bisa membuat sebuah penyusutan yang sangat acak. Tentang subjek ini atau itu umpamanya, mungkin akan ada tak lebih dari sepuluh kemungkinan gagasan baru. Tapi kasus semacam itu sangat jarang.

Dan Anda membuat hipotesis kerja berdasarkan hal-hal seperti ini?

Jadi… jika saya hanya membaca satu dari sepuluh buku, mungkin akan ada sebuah gagasan yang bisa saya temukan di sana, dan jika tak ada di sana, saya akan beralih ke kelompok sepuluh berikutnya yang saya ambil. Tapi ini merupakan hal yang sangat acak.

Tetapi ini juga sungguh-sungguh berdasar pada pengalaman Anda, kan?

Oh, tentu. Ini acak, tetapi berdasar pada pengalaman. (Ia mengambil sebuah buku dari mejanya dan mulai memperhatikannya) Baik, sekarang saya bisa membuka halaman pertama buku ini, melihat ringkasan, melihat bibliografi, dan untuk mencari tahu apakah penulisnya bisa dipercaya atau tidak; apakah ada sesuatu yang baru atau tidak. Dan karena pengalaman saya panjang, penyusutan saya menjadi terarah. Saya merasakan bahwa lebih baik saya membaca buku ini, dan bukan buku yang itu, dan seterusnya.

Jadi Anda bisa mengenali kebaruan, atau inovasi?

Saya sedang berusaha, sedang berusaha. Tentu saya bisa salah, tapi jika hari ini saya membuat kesalahan, mungkin saya tak akan melakukannya lagi besok. Mungkin saya memilih tidak menghargai beberapa buku atau yang lain dan mungkin itu sebuah kesalahan, tetapi minggu depan saya akan melihat buku lain, dan begitu seterusnya. Tetapi seorang mahasiswa berumur 20 tahun, atau bahkan 30 tahun, belum memiliki kemampuan menyaring seperti ini. Kita harus menemukan sebuah praktik, sebuah teori. Sebuah praktik atau latihan penyusutan.

Baik, lantas bagaimana kami bisa melakukannya?

(Eco menegakkan badannya dari sandaran kursi) Well, itu masih harus diciptakan. Harus ada beberapa aturan. Ada beberapa aturan mendasar, umpamanya: mengontrol tahun terbit bibliografi. Jika Anda sedang mengkerjakan sebuah subjek khusus mungkin Anda akan banyak menemukan referensi dari 1993 dan 1994. Tetapi dalam hubungannya dengan pencarian subjek lain, hanya merujuk pada terbitan dari 1993 dan 1994 tidaklah baik, Anda harus mencari terbitan yang lebih lama.

Ya, benar.

Jadi kalau Anda membaca buku tentang [Immanuel] Kant dan Anda hanya punya bibliografi dari tahun 1990-an maka ini harus dicurigai. Si penulis pasti bekerja berdasar sumber-sumber sekunder. Jika Anda membaca sebuah buku tentang hiperteks dan Anda menemukan bibliografi tua maka ini harus dicurigai, karena setiap hari selalu ada saja hal baru tentang topik ini. Itu bisa jadi hal pertama dari aturan-aturan mendasar yang bisa Anda pakai untuk memisah-misahkan berbagai hal.

Jika Anda membaca sebuah buku Amerika tentang subjek tertentu dan Anda hanya menemukan bibliografi Inggris dan Amerika, ini harus dicurigai. Si penulis seharusnya lebih mempunyai…

…Pandangan yang lebih luas?

…Ya, pandangan yang lebih luas. Tetapi jika itu adalah sebuah buku tentang filsafat analitis dan hanya ada bibliografi Inggris, mungkin memang tidak diperlukan sebuah bibliografi berbahasa Polandia. Jadi semuanya tergantung pada pokok masalahnya. Sungguh-sungguh mendesak bagi kita untuk menciptakan aturan-aturan penyusutan; mungkin aturan-aturan yang fleksibel, yang berubah dari ranah ke ranah.

Masa depan justru akan menjadi lebih buruk ketimbang sekarang, dan kita bisa mencapai sebuah tingkat di mana informasi berlebih (over-information) dan sensor akan saling mengidentifikasi […]

Yang menjadi perhatian saya adalah kualitas informasi yang bisa kita peroleh lewat Internet. Anda tahu, di Cyberspace, atau apapun nama lainnya; Jalan Raya Informasi (the Information Superhighway) menurut saya-saya tak tahu apa pendapat Anda-sekarang ini hanya ada sedikit orang yang punya akses memadai, kemampuan memadai, untuk meletakkan informasi di sana. Dan inilah masalahnya. Karena orang yang mampu meletakkan informasi di sana adalah orang yang memilih apa yang bisa dibaca oleh orang lain. Bukankah begitu?

(Eco diam beberapa saat) Ya, saya lihat Anda punya banyak pertanyaan di makalah-makalah tentang semua teknologi baru ini yang Anda berikan kepada saya beberapa hari lalu. Saya merasa perlu memberi sebuah pernyataan formal: bahwa saya sungguh-sungguh tertarik dengan semua hal yang tengah berlangsung. Saya berusaha menyediakan seluruh layanan Internet di sini, di institut saya, dan mendorong anak-anak muda bekerja ke arah perkembangan baru ini. Saya kira di masa depan Internet akan menjadi sangat penting, bahkan untuk politik. Saya ingin membuat beberapa seminar khusus tentang perkembangan baru ini dalam kurikulum kajian komunikasi. Secara pribadi, saya tak menggunakan teknologi-teknologi baru ini. Alasannya sangat sederhana. Pada usia saya, pertama-tama, katakan saja, pada tingkat ‘penglihatan’ saya, masalahnya adalah menghindari pesan.

Benarkah?

Saya malah bisa musnah oleh banyaknya pesan. Masalah saya bukanlah menjawab telepon; masalah saya adalah memusnahkan faksimile; memusnahkan faksimile yang tak diminta, segera setelah ia sampai. Bahkan jika, misalnya dalam waktu dekat, akhirnya saya punya account email, masalah saya adalah bagaimana caranya agar tidak menerima segala pesan. Sebab jika ada informasi yang memang harus sampai kepada saya, maka ia pasti akan sampai. Pasti ada cara di mana saya bisa mendapatkan informasi itu.

Ada beberapa orang di dunia ini yang bisa menemui saya dan berkata: lihat, kamu harus memperhatikan ini atau itu. Kini, ini menjadi masalah pribadi saya.

Karena kedudukan Anda?

Ya, bahkan juga berhubungan dengan, katakanlah, ideologi saya. Dulu, waktu masih muda, saya bilang bahwa setelah berumur 50 seorang kritisi atau sarjana tak perlu lagi memperhatikan gerakan garda depan, cukup menulis tentang tentang puisi-puisi Elizabethan.

…Menulis tentang masa lalu?

Ya, mengapa? Karena hari ini kebaruan datang begitu cepat dan hanya anak muda yang mampu menerima dan mencernanya, sementara orang tua lebih lambat melakukannya. Mengapa? Karena orang tua punya banyak pengalaman, tahu banyak hal, dan bisa menangani masalah-masalah yang lebih berat daripada anak muda yang belum cukup tahu bagaimana menanganinya.

Saya kira tentu saja karena wawasan mereka masih terbatas…

Ini adalah suatu aturan umum; bukan kebetulan jika karya penelitian saya terakhir yang dibukukan adalah tentang pencarian akan sebuah bahasa yang sempurna dan bukan tentang kecenderungan-kecenderungan terakhir semantik dan informatika. Karena orang yang lebih muda sangatlah segar dan bisa melihat apa-apa yang terjadi pada ranah-ranah ini. Secara pribadi saya lebih berpengalaman dan lebih baik dalam menangani materi klasik. Saya pikir saya bekerja mengikuti prinsip ini. Jelas saya tetap membuka mata; saya masih sangat menaruh perhatian pada semua hal itu. Meski begitu, saya tak pernah mencoba memahami dan menulis tentang musik pasca-rap. Saya lebih bisa membuat sebuah analisis yang baik tentang the Beatles, atau Johann Sebastian Bach. Dan itulah yang terjadi dengan semua teknologi baru. Sama dengan yang terjadi pada para olahragawan. Anda bisa menjadi seorang pemain sepak bola sampai berumur 30. Sesudah 30, Anda menjadi seorang pelatih.

Ya, betul sekali. Tetapi seorang pelatih tentu punya tanggungjawab untuk membuat dirinya tetap menaruh perhatian pada apa yang terjadi…?

Oh ya, tetap mengikuti informasi, tetapi ia tidak bertugas menendang bola tiap pagi.

Dan juga ada gagasan menjadi seorang fasilitator, ketimbang sekedar pengguna dalam pengertian konvensional: orang yang melihat kesempatan-kesempatan, dan membuatnya terbuka bagi orang lain dan hanya mengatakan ‘ya’…?

Ya, tapi generasi muda lah yang mesti membuat analisis-analisis baru. Mereka lebih fleksibel dan mereka lebih bebas dari pengalaman di masa lalu. Mereka tak punya risiko mengulangi skema yang sama; skema interpretatif. Mengapa saya harus membuat analisis tentang program-program [komputer] jika mereka bisa melakukannya lebih baik?

Profesor Eco, Anda adalah akademisi; seorang sarjana. Anda juga menulis buku-buku populer. Anda menulis, luar biasa sukses, untuk dua pembaca berbeda. Apakah Anda mengalami kesulitan dengan tabloidisasi karya-karya Anda, mengingat tabloid dan TV menampilkan genre dan norma-norma yang karakternya berbeda dengan dengan karya akademis?

Ada tiga masalah. Bukan satu, melainkan tiga. Pertama, sebuah pernyataan: saya menulis hal-hal akademis. Saya menulis di koran-katakanlah itu tabloid atau jurnalisme populer. Saya menulis novel-novel saya yang secara misterius menjadi sebuah sukses massal, tetapi diri saya sendiri mengangapnya sebagai novel-novel akademis. Novel-novel saya bukanlah kisah cinta atau semacamnya. Jadi, ada tiga masalah yang berbeda.

Kedua, masalah yang bisa dilihat dari sudut pandang produser dan sudut pandang penerima (receiver). Sebagai produser saya tak merasa kepribadian saya terbelah. Dalam seluruh hidup saya, banyak belajar tentang sesuatu membuat saya bisa menulis artikel yang semakin populer untuk menjelaskan fenomena media massa. Kenyataan bahwa Anda dipaksa melakukannya membuat saya membuat refleksi mingguan-saya menyebutnya refleksi-refleksi tak bertanggungjawab–refleksi-refleksi singkat (refleksi masak-dan-makan [cooked-and-eaten] atau cuci-dan-pakai [wash-and-wear]) tentang apa yang terjadi dari hari ke hari, yang membuat saya bisa mengumpulkan pengalaman; membuat saya menjadi selalu menaruh perhatian pada apa yang terjadi, dan lalu menggunakan bahan-bahan itu dalam bentuk yang lebih tertata atau lebih mendalam, atau secara lebih lengkap dan lebih kritis dalam buku-buku akademis saya.

Jadi bagi saya, ini semacam bentuk saling-bantu: aktivitas akademis membuat saya memiliki alat-alat buat memahami peristiwa-peristiwa; perhatian terus-menerus pada peristiwa sehari-hari membuat saya mempunyai bahan refleksi bagi karya-karya akademis saya. Demikian halnya dengan novel, saya tak merasa keterbelahan dalam diri saya. Saya merasa apa yang saya kerjakan di sisi kiri membuat saya bisa mengerjakan hal-hal di sisi kanan.

Perbedaan ada pada sudut pandang penerimaannya. Di sini ada masalah lain: fakta bahwa Anda telah diubah menjadi sebuah ikon. Mereka [pembaca] meminta Anda sesuatu yang Anda tak mau memberikannya…

Diubah menjadi sebuah ikon: maksud Anda menjadi seperti dewa?

Ya, dewa. Orang akan bertanya terus, “Apa pendapat Anda tentang…?” Mengapa saya harus berpikir tentang hal itu? Ini tak hanya terjadi pada saya. Saat ini, jurnalis-jurnalis Italia tiap hari menelpon para sarjana dan menanyakan hal-hal seperti: “Apa pendapat Anda tentang pernikahan si ratu ini atau itu?”, atau bahkan pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa bodoh seperti “Apa pendapat Anda tentang kematian Greta Garbo?”. Mengapa Anda mesti ditanyai hal-hal seperti ini, kan? Anda bisa menjawab dengan hal yang sudah umum seperti, “Ya, dia aktris besar, dan saya sangat terkejut dengan kematiannya,” atau, jika Anda mau lebih orisinal: “Oh, saya gembira sekali dengan kematian perempuan sundal itu saya membencinya…” Jelas bahwa Anda tak bisa menjawab selain dengan jawaban-jawaban formalitas. Ini bukan hanya pengalaman saya sendiri, setiap orang mengalaminya. Jadi Anda terus-menerus ditekan untuk melakukan semua hal. Itulah sebabnya tadi saya bilang bahwa saya tak mau menerima pesan, saya membaca faksimile, dan saya tak menjawab telepon.

Jadi Anda tidak ikut forum-forum elektronik, atau ambil bagian dalam kelompok-kelompok diskusi online atau aktivitas-aktivitas lain komunitas Internet?

Tidak, hingga sekarang. Ini juga masalah lain lagi, ini bukan hanya masalah tekanan. Saya akan mencobanya dalam kulian beberapa bulan ke depan. Tapi hanya untuk membuat survei singkat, mulai mengumpulkan beberapa gagasan. Mungkin akan ada sesuatu yang ingin saya coba; saya kira ada jaringan kolektor buku-buku tua, yang mungkin berguna karena Anda bisa bertanya koleksi yang dimiliki orang lain seperti: “Saya menemukan sebuah edisi tahun 1643; saya ingin tahu kalau-kalau ada edisi sebelumnya.” Baik saya akan mencobanya.

Saya kira salah satu hal yang paling menarik tentang Internet adalah bahwa Anda bisa melihat ke dalamnya sebagai sebuah “komunitas”. Saya mencatat Anda mengatakan di makalah yang Anda berikan ke saya–dari konferensi San Marino–bahwa Anda kurang begitu yakin apakah kita benar-benar bisa menciptakan komunitas atau Desa Global (Global Village)…. Sebenarnya saya punya beberapa pengalaman positif. Jika Anda menemukan komunitas yang tepat, umpamanya saja saluran diskusi PEIRCE-L, di mana saya menjadi salah satu anggotanya: saya kira ini komunitas yang sangat baik, sebab Anda punya semacam kontrol atas kualitas, karena orang-orang yang “datang ke sana” hanya datang karena ketertarikan khusus mereka…

Tahun lalu saya menerbitkan tiga buku. Saya juga berkewajiban membaca setumpuk dan setumpuk disertasi dan makalah dari mahasiswa saya. Jadi tentu saja saat ini saya tak punya waktu untuk main-main dengan Internet. Mungkin enam bulan lagi, manakala saya sudah menyelesaikan banyak hal, saya akan melakukannya. Baik, ini hanya masalah praktis. Kita kembali ke soal ikon: satu-satunya hal yang mesti dilakukan adalah melawan ikonisasi ini-Anda bisa saja menjawab tidak, tidak, tidak. Tetapi masalahnya kini ada pada dimensi-dimensi tak terkontrol dari kerajaan media massa, sebab kini bukan hanya pernyataan-pernyataan Anda yang bisa membuat berita, tapi juga sikap diam Anda.

Ya…

Saya selalu mengutip cerita ini, sebab ini tipikal. […] Suatu hari, seperti biasa, setelah menyelesaikan kelas saya pada jam 7 malam, bersama asisten dan para mahasiswa kami pergi ke bar buat ngobrol sampai jam 8 malam dan sesudah itu baru saya pulang ke rumah bersama beberapa orang yang masih ingin melanjutkan ngobrol dengan saya. Kami melintasi Piazza Verdi di Bologna, di mana terdapat Opera House. Yang saya tak tahu adalah bahwa pada malam itu ada sebuah pertunjukan penting. Well, saya tak tahu tentangnya, tentu saja saya tak tahu semua hal.

Lalu kami melewati taman dan saya pulang ke rumah untuk melakukan sesuatu, nonton televisi, atau… entahlah. Hari berikutnya, headline di surat kabar adalah: “Umberto Eco tak menghadiri pertunjukan itu!” Ini sama sekali bukan berita, sebab biasanya saya memang tak menghadiri acara-acara semacam itu. Jadi, itu bukan sebuah berita, tetapi mungkin mereka tak punya hal yang lebih baik buat dibicarakan, maka ketakhadiran saya menjadi sebuah….

Tanda?

…Ya, tanda. Pada titik ini tak ada yang bisa Anda lakukan kecuali melupakan kecelakaan-kecelakaan semacam ini […]

Kita punya impian dan visi tentang Internet sebagai seuatu yang sangat terbuka, dan ia tengah menciptakan sebuah masyarakat tanpa pusat, ia akan ambil peranan dalam perkembangan masyarakat-masyarakat tanpa pusat; sebuah demokratisasi global; apakah menurut Anda hal ini mungkin?

Ya, tapi sekali lagi kita kembali ke masalah penyusutan. Seorang mahasiswa saya yang menghabiskan banyak waktu di Internet–dan ia sangat tertarik dengan Internet, tetapi juga sangat tertarik pada Peirce–menyelediki jaringan Peircean di Internet. Ia mengirim pesan-pesan, dan ia mendapat banyak jawaban. Suatu kali ia mulai bercakap dengan seseorang. Dan ia mengatakan pada saya, “Semalam saya mendapat jawaban dari seorang teman-kita sebut saja Smith-yang menurut saya tampak aneh dan bodoh”. Lalu saya bilang, “Kamu keliru, Smith adalah seorang peneliti Peirce paling besar. Mungkin kamu tak tahu karena ia memang sangat jarang menulis. Ia seorang banyak bekerja di universitas, tetapi punya pikiran cemerlang”. Jadi ia telah mengabaikan pesan-pesan Smith, mungkin saja karena ia tak suka dengan 10 baris pertama pesannya, atau mungkin juga karena Smith memang keliru dalam hal yang mereka bicarakan. Entahlah. Ia seharusnya menanggapi Smith secara serius, tapi ia tidak tahu. Smith hanyalah salah satu dari ratusan orang yang kini tengah mendiskusikan Peirce di Internet. Sekali lagi: apa kriterinya dan siapa pembuatnya, yang membuat Anda bisa memilih Smith? Itu tak bisa kita dapatkan dari Internet.

Kriterianya tak bisa didapat dari Internet?

Tidak. Anda mau mencari sesuatu, katakanlah jurnal Versus, di mana seseorang mengatakan bahwa pendapat Smith sangatlah penting. Jadi, sekali lagi, jika tak punya tapis, Anda tak punya dasar untuk mengerti bahwa Smith mesti diperlakukan secara serius. Itulah risikonya.

Tetapi di sisi lain, Anda adalah seorang partisipan dari salah satu komunitas virtual–kita namai saja komunitas–semacam kelompok-kelompok diskusi di mana Anda bisa kritis pada diri Anda, di mana Anda sedikit tahu tentang ranah ini…?

Tentu saja, dan Anda bisa mendapati bahwa Brown, yang sama sekali tak dikenal, bisa menjadi kelihatan sedemikian cerdas. Meski ada juga aspek-aspek positifnya, tetapi masih ada risiko bahwa jika dalam satu waktu ada seratus orang yang mendiskusikan Peirce, pilihan Anda atas Brown, seperti hanya pengabaian Anda atas Smith, benar-benar bersifat acak.

Begitu menurut Anda?

Anda tak mungkin membaca seratus pesan dalam semalam dan menyimak dengan kritis untuk menyimpulkan bahwa Brown adalah yang terbaik. Brown hanyalah salah seorang yang Anda jumpai. Jadi jika Anda tak punya sandi (code) yang ada di baliknya, sekurang-kurangnya sebagai tapis yang pertama, fakta bahwa Smith terkenal seharusnya tak menghentikan Anda untuk lebih memilih Brown. Ini terjadi tiap hari ketika Anda membuka sebuah jurnal. Di sana ada artikel dari seseorang yang tak Anda kenal. Anda mulai membaca dan bilang… baiklah, ini bagus. Sepanjang hidup saya, saya telah membuat penelitian-penelitian menarik dengan membaca artikel-artikel dari para sarjana yang tak terkenal, dan saya telah menyelidiki bahwa mereka hebat. Dan mungkin di kemudian hari saya baru tahu kalau mereka terkenal: kalau demikian hal ini adalah kelalaian saya dan karena tak tahu nama mereka. Jadi selalu mungkin untuk membuat penelitian acak, tetapi tapis tetap merupakan hal yang penting.

Lagi-lagi ini soal komunitas…?

Bisa juga ada tapis internal. Anda bisa memperhatikan seratus pesan tentang Peirce dan menemui bahwa setiap pesan selalu mengutip Smith. Pada saat seperti itu Anda berpikir bahwa Smith mungkin adalah seorang yang… penting, atau seorang yang katakan saja dikutip oleh semua orang. Tapi, OK, sekali lagi seni menyaring dan memilih ini menjadi sebuah seni yang rumit.

Tetapi ada dua hal yang bekerja di sini, bukankah begitu? Ada sifat komunitas: komunitas khusus, orang-orang dengan nilai-nilai dan tujuan yang sama. Di sisi lain ada soal kepercayaan: bahwa di “ruang” itu orang bisa berbicara, dan bahwa di sana ada mekanisme yang bisa menyingkirkan hal-hal yang tak ada kaitannya [dengan komunitas itu]. Saya pikir ini adalah dua hal yang paling menarik, tetapi juga ada hal yang paling sulit: bagaimana Anda bisa menemukan komunitas yang tepat? Di UseNet saja ada lebih dari 3.000 News groups.

Saya tak mengatakan bahwa Internet adalah, atau akan menjadi sebuah, pengalaman negatif. Sebaliknya, saya justru mengatakan bahwa ini akan menjadi sebuah tantangan besar. Sekali kita memasukinya, saya berusaha mengisolasi jebakan-jebakan yang muncul; aspek-aspek negatif yang mungkin muncul. Saya berupaya memusatkan perhatian pada aspek-aspek kritis dari pengalaman positif. Saya kira ini adalah peran yang harus saya ambil sebagai seorang kritikus media. Saya yakin bahwa jika suatu saat nanti Kenyataan Maya (Virtual Reality) telah sempurna dikembangkan dan dipraktikkan maka ia akan menjadi sangat penting bagi sejumlah besar penelitian ilmiah, tetapi saya juga mengingatkan bahwa Kenyataan Maya hanya akan menjadi hiburan bagi orang-orang yang kesepian, ia akan menjadi bentuk baru masturbasi teknologis. Jadi kita harus menyadari kedua konsekuensi itu.

Ya, ya. Saya kira ini masalah yang sungguh-sungguh nyata, tetapi lagi-lagi ini soal hidup sendirian versus komunitas, iya kan?

Kesepian adalah masalah besar….

Ada komunitas, tetapi ini hanyalah komunitas maya (virtual community). Benar bahwa seniman besar tinggal di tempat terpencil dan menulis karya-karyanya ke seluruh penjuru dunia dan mereka menciptakan komunitas maya.

Kant melakukannya, ia seorang pujangga besar…?

Ya, itulah Kant. Tetapi saya tengah berpikir tentang seorang penyair besar seperti Leopradi. Ia sakit, bongkok. Tertekan. Dan tinggal di desa. Satu atau dua kali ia pergi ke Roma. Saya tak ingat persis seberapa sering, yang jelas ia sangat jarang melakukannya. OK, hal seperti ini selalu mungkin. Tetapi masih banyak lagi Leopardi lain, Anda bisa menyebutkan banyak orang lain yang hidup dalam isolasi, dengan berbagai bentuk penyakit kejiwaan. Salah satu masalah besar dewasa ini adalah menurunnya, atau malah tidak adanya, komunitas-komunitas tatap-muka (face-to-face communities).

Saya selalu menceritakan kisah Bosco–San Giovanni Bosco. Pendeta dari Ordo Salesian yang hidup pada abad ke-19 ini punya gagasan untuk menyelesaikan masalah anak-anak muda yang sejak usia dini telah bekerja di pabrik-pabrik, sehingga mereka terpisah dengan keluarganya. Ia menciptakan oratorium, yaitu sebuah komunitas, di mana anak-anak muda pekerja ini bisa bermain dan berdiskusi. Dan untuk mereka yang tidak bekerja, ia menyelenggarakan tipografi, aktivitas-aktivitas di mana mereka bisa ambil bagian. Jadi Bosco menghubungkan masalah keputusasaan dan kesepian dalam masyarakat industrial dengan kemungkinan orang-orang untuk saling bertemu, dan juga untuk melaksanakan tugas-tugas religius. Ini sebuah penemuan sosial yang luar biasa.

Yang saya kira buruk sekarang ini–baik di dunia Katolik maupun di dunia bekas Komunis atau Progresif–adalah tidak adanya seorang don Bosco baru. Tak ada San Giovanni Bosco baru di abad ini yang mampu membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi terciptanya komunitas. Begitulah, maka kita punya remaja bersenjata yang membunuhi orang-orang di Central Park. Kita selalu saja bermasalah dengan anak muda…

Benar, patologi-patologi ini…

Demikian halnya dengan orang dewasa dan orang tua yang merasa kesepian. Apakah televisi adalah jawaban buat kesepian ini? Bukan, televisi hanya bisa mengurangi kesepian. Duduk di depan televisi dengan sebotol bir bukanlah solusi.

Bagi sebagian orang, ini sesuatu yang tak terelakkan. Dulu saya punya bibi yang sudah tua, yang terpaksa menghabiskan hari di rumah, karena ia tak mampu berjalan, dan baginya televisi adalah anugerah dari surga. Baginya, televisi adalah satu-satunya kemungkinan untuk berhubungan dengan dunia. Tapi bagi orang normal, ini tidak berlaku. Bisakah komunitas maya baru seperti yang kita punyai di Internet melakukan hal yang sama? Tentu saja! Ia memberi kesempatan kepada orang yang tinggal di Barat untuk berhubungan dengan orang lain, dengan tetap berada di tempat tinggalnya. Apakah ini adalah pengganti hubungan tatap-muka dan komunitas? Tidak! Jadi fungsi sosial yang nyata dari, katakanlah, Internet, harus menjadi titik awal dalam menciptakan hubungan, dan kemudian menciptakan…

Tempat buat bertatap-muka…

Ya, komunitas-komunitas lokal. Manakala Internet–melalui komunitas-komunitas maya–benar-benar bisa menjadi jalan untuk mewujudkan komunitas-komunitas tatap-muka, barulah ia akan menjadi alat perubahan sosial yang penting […]

UMBERTO ECO adalah profesor semiotika dan filsafat pada Universitas Bologna, Italia. Ia juga seorang penulis esai koran, novel, dan buku anak-anak. Karya-karya akademisnya yang terpenting antara lain Semiotics and the Philosophy of Language, The Role of the Reader, A Theory of Semiotics, dan Art and Beauty in the Middle Ages. Dua novelnya yang masyur adalah The Name of the Rose dan Foucault’s Pendulum.

PATRICK COPPOCK adalah seorang munsyi dan ahli semiotika. Ia tinggal di Bologna, Italia, mengajar teknik dan teori komunikasi massa di Universitas ReggioEmilia. Ia mempelajari filsafat Charles Sanders Peirce sejak 1980, di mana ia mulai bergabung dengan the Peirce Telecommunity. Kini ia tengah mengamati kemungkinan perubahan norma-norma penulisan akademis dan komunikasi di tengah meningkatnya penggunaan media elektronika baru. Selama bertahun-tahun ia juga bekerja di bidang bahasa isyarat dan pendidikan bagi kaum tuna rungu.

Versi utuh berbahasa Inggris wawancara ini, “A Conversation on Information”, bisa diunduh di situs web Umberto Eco (klik di sini). Versi bahasa Indonesia ini diterjemahkan dan disunting oleh ANTARIKSA; bisa diakses di situs web KUNCI Cultural Studies (klik di sini).

Foto: http://rawkcarpark.files.wordpress.com/2007/12/407_24_umeco.jpg

4 Comments

KejarSetoran - 12. Okt, 2009 -

panjang jg terjemahannya..bookmark dulu

IBOEKOE - 12. Okt, 2009 -

Terseok2 bacanya ya… Tapi memang ini bukan khas tulisan untuk internet yang ringkas-ringkas. Dari bentuk tulisannya saja yang panjang, Eco sudah ingin melawan konvensi (di internet). Hiks….

KejarSetoran - 12. Okt, 2009 -

penasaran trik Eco utk menyaring informasi. kalo eco tau ttg rss feed, plurk, bisa banjir informasi

budiman - 29. Okt, 2009 -

Visi Eco tentang hal ini tidaklah baru, tapi memang realitas sosial sedang didefinsikan kembali oleh habit kita bersama arus informasi.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan