-->

Literasi dari Sewon Toggle

Setumpuk Buku dari Empat Penerbit

Indonesia Buku kembali dapat buntelan. Dari empat penerbit. Bukunya besar2. Gagah-gagah. Ada juga yang sederhana, tapi dibuat dengan komitmen dan perjuangan besar. Sementara menunggu satu per satu untuk dibaca dan ditandai pokok-pokok saripatinya.

Biasanya, kalau tim internal Indonesia Buku kelebihan beban kedatangan buku, buku itu dilimpahkan kepada tetangganya yang juga teman sepermainannya: gengster resensi buku yang berada di KUTUB Selatan Yogyakarta. Kami menyebut pesantren mereka sebagai pesantren buku di mana pekerjaan utama santrinya adalah meresensi buku. Meresensi merupakan ibadah utama buat mereka, tentu saja selain zikiran saban magrib hingga isya.

Datanglah ke pesantren itu jam 10 malam ke atas, dan kamu lihat banyak sekali santri tidur di hall pondok. Mereka tak sedang tidur biasa, melainkan antri komputer untuk mengetik resensi buku yang sudah dicorat-coret di atas kertas.

Ngelantur. Inilah buku2 yang datang ke Indonesia Buku dalam satu bulan terakhir ini.

Dari OMBAK (Jogja): Ada dua buku sejarah. Tentang sejarah kota. Yang pertama, Ruang Publik, Identitas dan memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto karya Abidin Kusno. Yang kedua, Dua Kota Tiga Zaman: Surabaya dan Malang sejak Kolonial sampai Kemerdekaan karya Purnawan Basundoro. Dua buku yang menarik bukan? Terimakasih Mas Nursam dan staf di kantor Ombak.

Dari SERAMBI (Jogja): Nah ini dia yang ditunggu-tunggu: Midnight’s Children/Anak-Anak Tengah Malam karya Salman Rushdie. Buku yang menarik dan mendapatkan berderet penghargaan. Selain novel Chinua Achebe (Fall Thing Apart/Segalanya Berantakan), novel ini menjadi karya penting dalam kajian pascakolonial. Terimakasih Mas Anton Kurnia dan staf bagian promosi Serambi yang sudah berpayah2 menyampul dan mengantar buku ini ke kantor pos terdekat.

Dari Redline Publishing (Jakarta): Dapat dua buku. Satu, Buffett: The Making of an American Capitalist karya Roger Lowenstein. Ini buku perjalanan seorang manusia kaya-raya di dunia. Dua, The Swordless Samurai: Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI karya Kitami Masao. Teman sekantor yang seniman-designer sampul buku sangat fanatik dengan dunia samurai Jepang. Barangkali buku ini akan berjodoh dengannya dgn imbalan: komentar!!! Terimakasih Mas Haikal atas kebaikan hatinya mengirimkan buku ini.

Dari TANDABACA (Jogja): Ini penerbit yang hanya beberapa tombak dari kantor. Dalam selingkupan Alun-Alun Kidul Jogja, Indonesia Buku berada di barat dan TANDABACA ada di timur. Jadi, dengan sepeda “BMX” saya menjemput satu buku, tapi malah dapat dua adiknya. Ketiganya adalah buah dari usaha TANDABACA melatih anak-anak kampung untuk menuliskan sejarah kampungnya dari persprektif mereka sendiri usai didudukkan gempa 26 Mei 2006. Satu, Ada Pelangi di Ketangi. Dua, Belajar Mengenal Bencana (komik strip ala sidikasi Komik Daging Tumbuh, lha yang melatih mbahe Eko Nugroho dari Daging Tumbuh). Tiga, Kita dan Bencana (cerita bergambar juga). Terimakasih Mas Mumu dan Mas Febri di kantor Tandabaca yang mungil tapi memanjang dengan halaman yang bisa bermain takraw di sana. (Muhidin M Dahlan)

5 Comments

ArtFolder - 21. Okt, 2009 -

mulai mengerti dikit: kalo ada buku baru terbit berarti wajib setor ya ke ormas IBOEKOE

IBOEKOE - 22. Okt, 2009 -

Nggak wajib-wajib amat. Tapi Par-tai Buku ini akan menyalurkannya lagi ke CDB-CDB Par-tai Buku yang berada pelosok desa. Setelah Par-tai Buku membacanya tentu saja. CDB2 mana saja? Ini dia: CDB Gelaran Pacitan (di atas gunung bercadas 1.080 m), CDB Dusun Jambu, Kediri, CDB Perdikan Mangir (Jogja), CDB Gunung Kidul

* CDB (Centra Dukuh Buku)

Indie Book Corner - 28. Okt, 2009 -

Wah..luar biasa usaha Iboekoe untuk memajukan perbukuan nasional..
ayo berbareng bergerak, berkawan dan melawan!
😀

IBOEKOE - 28. Okt, 2009 -

Hiks, kami ini genealoginya cuma tukang kronik. Kerani nama bekennya. Jadi gini2 aja…. Merekam terus2an, tapi sesekali nembak ke beberapa arah. Tapi nggak keseringan. terimakasih atas perhatiannya.

bambang haryanto - 02. Nov, 2009 -

Alangkah baiknya bila hal itu jadi “wajib” dan Ibuku harus meresponsnya dengan merubah policy blog ini, yang tak hanya mengurusi konten tetapi memodifikasi konteks, Sehingga situs ini akan jadi komunitas buku yang lebih hidup.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan