-->

Penerbit Toggle

Serambi: Buah Buku Kontroversial

Sepanjang pekan silam, tidak ada kegiatan yang lebih mengasyikkan bagi Qamaruddin SF selain membolak-balik halaman majalah dan koran. Matanya mencari-cari halaman hiburan. Hanya satu yang ingin ia baca: resensi film Da Vinci Code.

Laiknya jutaan orang yang menunggu-nunggu film itu sejak lama, Kepala Redaksi Penerbit Serambi Ilmu Semesta itu juga penasaran seperti apa karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa gambar dari sebuah buku fenomenal itu.

“Malam ini kami ramai-ramai akan nonton filmnya,” kata laki-laki berkacamata minus ini, di kantornya, di kawasan Kemang Timur, Jakarta Selatan.

“Mereka yang sudah menonton bilang sangat kecewa karena filmnya cuma kayak begitu,” katanya diiringi tawa rekan-rekan yang duduk di dekatnya.

Direktur Serambi, Husni Syawie, yang kebetulan sudah menonton ikut menimpali. “Banyak yang kecewa karena film itu tidak sesuai ekspektasi.”

Heboh pembicaraan film yang dibintangi Tom Hank dan Audrey Tatou itu terus berlangsung sampai sejam kemudian. Obrolan mereka diselingi tawa terbahak- bahak di siang yang panas itu. Soal otak yang tersesat karena percakapan super cepat dalam adegan film, minus panduan teks. Soal umpatan kekecewaan pada tokoh dan cara sang sutradara yang terlalu taat alur.

“Mungkin biar tidak pusing, mau tidak mau harus baca dulu bukunya,” kata Husnie enteng.

Di luar simpang-siur pendapat mengenai film besutan sutradara Ron Howard itu, Serambi agaknya menjadi pihak yang paling diuntungkan. Maklum saja, penerbit yang berkibar dengan moto “hanya menerbitkan buku” itu memegang hak penerjemahan buku karya Dan Brown ini ke dalam bahasa Indonesia.

Sejak diterbitkan di Indonesia pada tahun silam, hingga kini novel yang menelanjangi rahasia paling rapat dalam sejarah agama Kristiani itu sudah cetak ulang lebih 20 kali. Cetak terakhir, awal bulan ini diluncurkan dalam jumlah 20 ribu kopi.

“Dengan edisi sampul khusus bergambar wajah tokoh utama film,” kata Qamaruddin.

Tidak itu saja, untuk memikat pembaca, Serambi juga menerbitkan edisi khusus dengan halaman penuh gambar, beberapa bulan silam.

Inilah berkah tidak terbendung dari karya kontroversi ini. Serambi layak bersyukur mengingat banyak sekali penerbit yang menitikkan air liur untuk menerjemahkan novel itu.

“Kami memang berbekal usaha sungguh-sungguh saat mengejar novel ini,” kata Qamaruddin. “Hanya dalam hitungan beberapa bulan setelah pembicaraan awal, kami berhasil mendapat hak penerjemahan,” kata Husnie.

Saat menerbitkan novel yang menjelajahi labirin teka-teki cawan suci (holy grail) ini, Serambi baru setahun membuka lini baru Gita Cerita Utama, khusus untuk karya-karya fiksi. Bisa dimaklumi jika keberhasilan beroleh hak terjemahan Da Vinci Code merupakan hal mencengangkan. “Waktu itu banyak yang tidak percaya kami yang menerjemahkannya. Banyak yang bilang, bukannya jatuh ke penerbit besar?” kata Husnie.

Berdiri lima tahun silam, Serambi awalnya hanya berkiprah di lahan buku-buku Islam. Bidang yang dibahas pun terbatas hanya kajian-kajian Islam. Tapi lama-kelamaan mereka berpikir, bermain di lahan yang sempit dengan petarung sedemikian banyak, membikin sukar untuk bernapas.

“Kami akhirnya meluaskan cakupan hingga ke buku umum. Lini pendidikan, psikologi keluarga, dan fiksi adalah contohnya,” kata Qamaruddin.

Khusus untuk lini agama Islam, belakangan juga diperluas tidak hanya sebatas kajian agama Islam. Menurut Husnie, tema ini sudah makin jenuh dan kurang menarik setelah meletusnya tragedi 11 September 1999. “Kajian buku agama di Barat kurang menarik dan cenderung reaksioner,” katanya.

Untuk menghilangkan kejenuhan, Serambi kemudian memecah lini kajian agama menjadi dua. Gemala Ilmu dan Hikmah Islam. Kedua lini ini menerbitkan buku-buku tentang berbagai aspek Islam dan umat Islam karya pemikir Islam kontemporer, muslim dan nonmuslim.

Lini ini menelurkan banyak karya besar yang menjadi pembicaraan dunia. Ada karya laris milik Karen Amstrong Berperang Demi Tuhan, Ibrahim Sang Sahabat Tuhan karya Dr. Jerald F. Dirks, dan Perang Salib dalam Pandangan Islam.

Kajian kristologi termasuk yang banyak diminati pula. Ada Selamatkan Yesus dari Umat Kristen dan The Muslim Jesus yang jadi pembicaraan luas. “Untuk buku-buku bertema ini, kami memilih mereka yang berkompeten untuk menerjemahkan dan memberi kata pengantar,” kata Qamaruddin.

Perang Salib terhitung fenomenal. Saat diluncurkan beberapa bulan silam, hanya dalam hitungan sepekan, buku itu langsung cetak ulang.

Ada pula lini Pustaka Islam Klasik, yang menerbitkan bukubuku tentang beragam aspek Islam dan umat Islam yang ditulis oleh ulama sebelum abad XII Hijriah. Di lini klasik ini sejumlah karya berar bermunculan. Syeh Siti Jenar dan Sunan Kali Jaga misalnya, termasuk karya laris. Bahkan, ada penerbit luar yang sedang menjajaki kemungkinan penerjemahannya ke dalam bahasa Inggris.

Lini fiksi termasuk yang paling banyak menyumbang untung bagi Serambi. Di lini inilah bertebaran novel-novel laris. Selain serial thriller karya Dan Brown (Da Vinci, Malaikat Iblis, dan akhir pekan silam The Fortress), ada pula tetralogi novel sejarah karya Tariq Ali, novelis dan pemikir Islam kontemporer dari Asia.

Kitab Salahuddin dan Perempuan Batu adalah dua di antara karyanya yang berkilau.

Husnie mengakui saat ini pihaknya lebih banyak menerbitkan karya terjemahan. Bukan karena tidak berpihak pada karya lokal, namun karena persoalan teknis. “Selama ini karya terjemahan cenderung lebih cepat pengerjaannya,” katanya.
Selain karena proses mendapatkan hak terjemahan yang cepat, Serambi bertindak cepat sejak awal proses. “Begitu kami mendapat kabar bahwa satu buku sedang laris dan jadi pembicaraan, kami segera mengontak rekan-rekan di dalam dan luar negeri untuk memperoleh masukan dan membaca reading copy- nya,” kata Qamaruddin. Reading copy adalah bahan yang dipinjamkan penerbit asli untuk dibaca dan dipertimbangkan.

Sejak persiapan hingga penerjemahan, Serambi lebih banyak mengandalkan tenaga lepasan. “Ada sekitar 80-an penerjemah lepas yang siap bekerja,” kata Imam, salah satu anggota tim penerjemah di Serambi.

Persiapan untuk penerbitan karya asli jauh lebih lama. Pemilihan karya termasuk yang paling merepotkan. Menurut Qamaruddin, banyak karya asli yang masuk, namun tidak memenuhi persyaratan yang mereka tetapkan. “Banyak sekali yang masih berupa draft, jadi sukar bagi kami untuk mempertimbangkannya,” kata Qamaruddin.

Meski demikian, Serambi bertekat untuk serius menggarap tema lokal. “Buktinya serial walisongo termasuk laris,” kata Husnie. “Jadi tidak benar Serambi hanya serius menggarap karya-karya terjemahan.”

Di usia yang masih balita, penerbit —yang juga menyediakan satu bagian dari gedung berlantai duanya untuk menjadi toko buku—ini punya banyak cara kreatif menggarap pasar yang terbatas. “Kami sedang menyiapkan ruang untuk tempat berkumpulnya komunitas buku Serambi,” kata Qamaruddin.

“Di dunia yang bergerak sangat cepat dan penuh persaingan ini, orang harus pintar-pintar mencari celah,” katanya.

* Dinukil dari Suplemen Ruang Baca Harian Koran Tempo Edisi 28 Mei 2006

2 Comments

rahmat heldy hs - 13. Des, 2009 -

minta email serambi dong…. mau ngirim karya nih… bisa kan?

IBOEKOE - 13. Des, 2009 -

silakan dikunjungi http://www.serambi.co.id. semoga naskah bukunya bisa diterima ya.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan