-->

Resensi Toggle

Seorang Jerman, Westerling, dan Kronik Indonesia

Oleh: Sri Pudyastuti Baumeister

Bekas direktur perusahaan telekomunikasi Jerman mengisahkan kronik pengalamannya selama di Indonesia. Kocak, terang, dan mengangkat fakta-fakta yang jarang diketahui.

Tampaknya tak satu pun orang Indonesia yang akan melupakan nama Raymond Westerling, komandan pasukan khusus Belanda yang membantai sekitar 40 ribu warga Sulawesi Selatan selama 1946-1947. Namun, Horst H. Geerken, pengarang Jerman, mengungkap kembali fakta-fakta mengenai kapten bengis itu, khususnya kisah yang tak tersebut di buku-buku sejarah Indonesia.

Dalam bukunya, Der Ruf des Geckos, 18 erlebnisreiche Jahre in Indonesien (Panggilan Sang Tokek: Pengalaman Mengesankan Selama 18 Tahun Tinggal di Indonesia), yang baru diterbikan bulan ini, Horst menyebut Westerling sebagai “iblis Belanda yang pantas menyandang tudingan penjahat perang”.

Westerling, kata Horst, tak cuma menginstruksikan tembak tengkuk (sebuah metode cepat dan mematikan untuk membunuh), tetapi juga penggal kepala. “Ratusan karung sarat penggalan kepala dilarung ke laut untuk menghilangkan identitas,” tulis pengarang kelahiran Stuttgart, Jerman, pada 1933 itu.

Rentetan kekejaman yang ditunjukkan pemerintah kolonial Belanda terhadap bangsa Indonesia dikritik Horst sebagai sikap ular bermuka dua. “Belanda mengutuk serangan Nazi ke negaranya pada Perang Dunia, tetapi di saat yang sama menjalankan ‘aksi tentara Nazi’ di Indonesia, menjalankan kerja paksa dan pembunuhan massal,” kata Horst kepada Tempo di rumahnya di Bonn, dua pekan lalu.

Jerman menutup seluruh kamp konsentrasi Nazi sesudah Perang Dunia II usai, tetapi Belanda malah membuka banyak kamp konsentrasi baru di Irian Jaya, Sumatera dan pulau-pulau lainnya dua tahun setelah Indonesia merdeka. Para simpatisan yang ikut dalam perang kemerdekaan Indonesia dijebloskan, disiksa dan dibunuh di situ.

Horst tidak sedang berupaya menulis sejarah sebagai seorang sejarawan, tapi fakta-fakta yang gamblang digelar di dalam buku setebal 436 halaman itu mengungkap banyak hal yang jarang diketahui orang. Di Belanda majalah berita VRIJ Nederland menyebutnya sebagai “Buku yang layak dibaca oleh mereka yang mendambakan fakta yang dilakukan bangsa ini (Belanda).” Harian lokal General Anteiger dan Blickpunkt sama-sama menyebut buku ini sebagai “Buku bernilai dengan uraian yang luar biasa tentang perjalanan pembangunan negara muda menjadi negara industri modern.”

Sebagian besar kisah di buku itu ditulis Horst berdasarkan pengalamannya selama 18 tahun (1963-1981) tinggal di Indonesia. Bekas direktur perusahaan telekomunikasi Jerman, AEG Telefunken, cabang Indonesia itu menambahnya dengan riset puluhan buku dan media, seperti harian Frankfurter Algemeine Zeitung dan majalah der Spiegel edisi 1980-an danThe Strait Times edisi tahun 1946, serta wawancara terhadap beberapa veteran RI. Ia perlu tiga tahun untuk menggarap bukunya ini.

Selain kisah Westerling, Horst juga mengungkapkan kisah mencekam dan menegangkan di masa kritis pemerintahan Presiden Soekarno pada 1965. “Amerika Serikat dan Inggris, yang tidak suka dengan Soekarno karena hubungannya kelewat mesra dengan Rusia dan Republik Rakyat Cina, mendukung kudeta Soeharto dan pasukannya,” kata Horst, menganggap Indonesia sebagai tanah airnya yang kedua.

“Saya mendengar seluruh pembicaraan tentang sokongan senjata dari basis Amerika Serikat di Filipina ke Indonesia lewat saluran radio milik saya,” kata Horst, insiyur teknik elektro yang pernah membangun radar “sistem pembacaan dini pertahanan” di akhir 1950-an di Buffalo, Amerika Serikat, sebuah radar yang memberi peringatan dini jika ada serangan bom dan roket dari Uni Soviet ke Amerika dan Kanada. Dengan keahliannya bermain di saluran radio itulah, Horst bisa merekam banyak data keterlibatan Badan Intelijen Pusat (CIA) dalam peristiwa kudeta itu. Horst adalah orang pertama yang membangun saluran radio di Indonesia setelah 40 tahun dilarang keberadaannya oleh Belanda. Ia pula yang membangun stasiun dan studio RRI.

Horst mengaku mengenal Sukarno dengan baik. Seseorang yang, menurutnya, memang dilahirkan sebagai pemimpin. “Dia tahu bagaimana harus membela rakyatnya, dia juga tahu bagaimana mesti bersikap menghadapi lawan-lawannya,” kata Horst.

Di waktu senggang mereka bertemu menyalurkan hobi menyanyi. “Saya malu, Presiden Soekarno fasih menyanyikan lagu militer Jerman Ich habe einen Kameraden, sedang saya tidak,” kata Horst. Karena hubungan akrab itulah, Soekarno mengirim ajudannya untuk mengawal keluarga Horst melewati suasana menegangkan dan berbahaya selama kudeta.

Kronik sejarah itu ditulis Horst dengan gaya populer yang jelas, jernih dan kocak, tetapi serius mengungkap data dan fakta. Kekocakan muncul, misalkan, ketika membahas bahasa Indonesia, yang disebutnya gampang-gampang susah, yang bisa rancu artinya jika tidak jelas terdengar bagi pendatang baru.

Ia bercerita, seorang ekspatriat bertanya kepada gadis muda yang melamar jadi pembantu di rumahnya: “Apakah kau suatu hari mau punya anak?” Sang calon pembantu menjawab, “Kalau Tuhan mau.” Tapi huruf “h” tidak jelas terdengar, maka jadilah bunyinya, “Kalau tuan mau.” Atau ketika seorang nyonya bule menyuruh bujangnya membuka jendela. Tetapi, karena pengucapannya kagok, maka yang terdengar, “Tolong buka celana.” Sang pembantu jadi malu dan keluar dari pekerjaan itu.

“Saya beruntung mendapat kesempatan mukim di Indonesia,” ujar Horst. Pengalaman yang diperolehnya memberi warna yang berbeda dengan kehidupannya di Eropa. Kecintaannya pada alam dan masyarakat Indonesia itulah yang membuatnya terus memperpanjang kontrak kerjanya setiap tiga tahun sampai enam kali berturut-turut.

Dia menghabiskan hari-hari pensiunnya sejak berusia 50-an tahun di Bukit Cinta, Ubud, Bali, dengan menulis buku ini. Secara berkala ia masih menengok Indonesia. “Saya menikmati keindahan alam dan keramahtamahan masyarakat. Bahkan, saat saya berada di Jerman, saya bisa mencium harumnya rokok kretek dan kopi Indonesia,” ujar Horst.

Buku Horst yang diterbitkan penerbit besar Jerman BoD (Book on Demand) ini ternyata cukup laris di pasar. Cetakan pertamanya sebanyak seribu eksemplar beredar pada Juli lalu dalam versi paperback seharga € 24,90 atau sekitar Rp 375 ribu dan hardcover € 39,90 atau Rp 600 ribu. Pada September lalu cetakan kedua mulai beredar. Kini buku itu sedang dialihbahasakan ke bahasa Inggris.

Jika ia melanglang ke desa-desa bunyi tokek terdengar amat mengesankan. Konon bunyi tokek itu berarti pertanda keberuntungan. Horst mengaku mempercayai mitos itu. Itu sebabnya bukunya bejudul dan bergambar cecak besar itu. Ta

nda awal keberuntungan terlihat pada kelarisan bukunya. Meski begitu, “Saya cuma mendapat € 1,45 (Rp 20.600) per buku. Tetapi, saya bukan mencari uang. Yang penting saya bisa berbagi pengalaman dan saya puas dengan karya ini,” katanya.

Diunduh dari Ruang Baca Tempo edisi 26 Oktober 2009

books

Judul Der Ruf des Geckos: 18 erlebnisreiche Jahre in Indonesien
Penulis Horst H. Geerken
Edisi 2
Penerbit BoD – Books on Demand, 2009
ISBN 3839110408, 9783839110409
Tebal

Bahasa

436 halaman

Jerman

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan