-->

Kronik Toggle

Saat Jubah Buku adalah Seni

Poster-poster tergantung di dinding kain yang memanjang. Di bawahnya ada meja kecil, tempat meletakkan buku. Poster yang tergantung itu adalah perbesaran dari sampul buku yang diletakkan di bawahnya.

Sebanyak 33 sampul buku hasil kompetisi Desain Buku Belanda Terbaik 2008 dipamerkan di Erasmus Huis, Jakarta. Pameran ini berlangsung mulai 8 Oktober hingga 12 November.

Pengunjung pameran tidak hanya bisa menikmati desain sampul saja, tapi juga dapat membuka isi buku yang dipajang.

Di Belanda, kompetisi desain buku dimulai sejak 1926 dan dilaksanakan setiap tahun. Kompetisi ini memilih desain buku yang menonjol dalam teknik cetak, gambar, dan teknik produksi grafisnya.

Lihat saja misalnya sampul buku berjudul This is The FlowThe Museum as a Space for Ideas dengan desainer Mevis dan Van Deursen. Buku dengan kategori publikasi minat khusus terbaik 2008 ini seakan mencuri pandang.

Buku ini berisi kumpulan esai dan perbincangan mengenai redefinisi dan penghargaan kembali terhadap museum. Isi bukunya sangat teoretis. Buku-buku demikian, apabila tidak ditampilkan dengan cover yang menarik, tentunya tak akan dijamah orang.

Pada ranah inilah Mevis dan Van Deursen berhasil membuat cover yang unik. Cover dibikin dengan tampilan foto robek wajah wanita berpandangan kosong.

Lain lagi dengan desain buku berjudul Nieuwe Veters, Verzamelde Gedichten 1979-2006 (Tali-tali Sepatu Baru, Kumpulan Sajak-sajak 1979-2006) karya Robert Anker. Kulit buku dengan kata-kata hanya dilatari bidang putih, tak ada apa pun lagi.

Buku yang didesain oleh Maarten Evenhuis itu sangat simpel. Maarten beranggapan  puisi yang baik tidak membutuhkan cover dengan ornamen gegap-gempita, yang  menjadikan kesan penuh. Betapapun demikian, ia sadar bahwa menampilkan bidang putih bisa berkesan monoton.

Lalu apa yang ia lakukan untuk menghindari kemonotonan itu? Judul-judul puisi maupun catatan kaki ditampilkan dengan pilihan huruf sans serif. Spasi dijaga hemat. Adapun huruf-huruf pada kulit sampul diulang pada sampul biru di lembar halaman. Warna biru itu kembali muncul dalam pita pembatas, benang jilid, dan punggung buku.

Kompetisi tahunan ini diselenggarakan oleh De Beste Verzorgde Boeken (Desain Buku Belanda Terbaik), yaitu yayasan yang terdiri atas organisasi pemasaran buku, desainer, dan industri grafis. Penjurian dilakukan oleh beberapa juri. Mereka datang dari kalangan desainer grafis, penerbit, maupun konsultan seni dan desain.

Total buku yang didaftarkan untuk kompetisi tahun lalu sebanyak 112 buah buku. Dengan proses penjurian yang berlapis-lapis, terpilihlah 33 buku yang terindah. Setiap anggota juri harus mempertahankan pendapatnya di hadapan juri lain ketika menilai buku tersebut.

Menurut pendapat beberapa juri, buku yang dipilih harus memiliki kualitas yang luar biasa. Bahkan dewan juri berpendapat bahwa isi buku sebetulnya bukan titik tolak dari pembuatan sebuah buku, melainkan justru sebagai titik akhirnya. Selain itu, bentuk buku bukanlah jubah bagi isi, melainkan menjadi tulang punggung dan kerangkanya.

Dalam pameran tersebut juga disajikan karya desain buku Joost Grootens, yang dikenal sebagai desainer khusus desain buku-buku arsitektur, urbanisme, dan seni. Spesialisasinya adalah desain buku-buku atlas dan peta. Grootens tidak menganut gaya khusus tertentu. Justru desain-desainnya berdasarkan bentuk grafisi teks, peta, fotografi, dan info grafik.

Dalam buku Vinex Atlas, Grootens misalnya mampu menempatkan komposisi gambar dan huruf yang tidak berdesakan. Grooten berhasil memberi kesan yang jelas tentang visi para planolog dalam atlas tersebut.

Petinggi penerbit Erlangga, Dharma Hutauruk, pada diskusi panel mengatakan cover buku menjadi bagian yang sangat penting dalam proses penjualan buku. “Cover merupakan informasi pertama yang diterima calon pembaca,” ujarnya. Menurut Dharma, tampilan buku memang sebuah karya seni yang memadukan isi, gaya penulisan, ukuran buku, perwajahan, dan penataan aneka komponen.

Sementara itu, Ketua Yayasan De Beste Verzorgde Boeken Henk Kraima mengatakan semua orang di negaranya bisa menjadi penerbit buku. “Setiap penerbit di Belanda selalu menghargai desain.”

Ismi Wahid

Diunduh dari Media online tempointeraktif edisi16 Oktober 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan