-->

Lainnya Toggle

Responsi Visual atas Teks

Oleh Afnan Malay

Perangkap fungsionalisasi rezim teks seper ti itu serta-merta ditanggalkan. Pihak galeri dan kurator tidak ingin mengambil otoritas rezim teks. Otoritas kurator sekadar memilih kan puisi dan cerpen untuk divisualisasikan.

Utan Kayu Literary Biennale 2009 di meriah kan dengan pameran 16 karya perupa muda dari Jogjakarta, Bandung, Semarang, dan Malang. Hanya Dadang Rukmana dan Putut Wahyu Widodo yang sudah berusia kepala empat. Para perupa itu diberi ruang partisipasi dalam pesta literer kali ini. Karya-karya dwimatra dan trimatra yang dipamerkan pada 15-30 Oktober di Galeri Salihara, Jakarta, tersebut merupakan bentuk visual atas tekstual (puisi dan cerpen) yang disodorkan ke pada para perupa. Menarik menandai upaya responsi visual terhadap puisi dan prosa yang diberi tajuk Traversing (Merandai) ini.

Saya punya argumen untuk menyebut apa yang dikerjakan para perupa layak disebut responsi daripada interpretasi. Responsi adalah kategori untuk menemukan posisi netra litas perupa di hadapan -karya sastra- penyair dan cerpenis. Pada pameran tersebut, hadir nya rezim teks terhindarkan secara sengaja. Sebab, para pencipta teks, dalam hal ini penyair dan cerpenis, tidak ditempatkan sebagai juragan yang harus diladeni. Misalnya pengabdian vignet, ilustrasi, atau lukisan yang di jadikan resume visual atas puisi-cer pen-cer bung-novellete yang kita temui dalam rubrik budaya di media massa. Begitu pula lukisan-lu kisan penghias sampul buku (puisi-cerpen-novel).

Dalam dua kasus tersebut, kehadiran rezim teks itu jelas diperankan oleh redaktur pada media massa dan bagian artistik pada penerbitan buku. Kemungkinan rezim teks terbentuk disebabkan karya visual dalam konteks media massa dan buku bersifat fungsional. Fungsionalisasi tersebut berupa rezim teks, menundukkan perupa agar visualisasi yang dikerjakan menemukan konteksnya. Karena itu, semakin tingkat presisi visual dianggap mendekati maksud yang disampaikan teks puisi maupun teks cerpen, visualisasi tersebut menjadi berhasil.

Perangkap fungsionalisasi rezim teks seperti itu serta-merta ditanggalkan. Pihak galeri dan kurator tidak ingin mengambil otoritas rezim teks. Otoritas kurator sekadar memilih kan puisi dan cerpen untuk divisualisasikan. Selebihnya, para perupa dibiarkan sebebas mungkin melakukan responsi visual. Res ponsi tersebut setidaknya menemukan format berupa konstruksi teks, derivasi teks, variasi teks, bahkan alienasi teks.

Untuk sekadar menyebut beberapa contoh, mi salnya, konstruksi teks divisualisasikan Dadang Rukmana, Bayu Yuliansyah, dan Wedhar Riyadi. Derivasi teks dikerjakan Faisal Habibi, Endang Lestari, dan Dona Pra wira Arisuta. Variasi teks tampak pada visual Terra Bajraghosa dan Rifqi Sukma. Dan, alienasi teks menggoda Hayatudin serta David Armi Putra.

Pada konstruksi teks, visualisasi merupakan res ponsi perupa untuk memindahkan realitas teks ke dalam bahasa rupa. Dadang Rukmana memvisualisasikan Obituari Pelukis Salim (Warih Wisatsana) dan Meditasi Kelelawar (A. Muttaqin). Wedhar Riyadi mendeskripsikan puisi M. Aan Manssur (Pagi Ini). Bahasa rupa Dadang dan Wedhar cenderung verbal. Obituari Pelukis Salimmemperlihatkan malaikat simbol penjemput kematian dan tangan Salim. Lalu, Dadang dalamMeditasi Kelelawar menggambarkan aktivitas orang salat (bentuk meditasi) dan hitam (simbolisa si kelelawar). Drawing Wedar memvisuali sasikan peristiwa-peristiwa (orang bertopi, tidur di trotoar, pahlawan dalam film kartun) yang hadir dalam puisi Aan.

Responsi verbal dapat ditekan (lebih implisit) Bayu Yuliansyah. Realitas puisi Agus R. Sarjono (Permisi) tidak sekadar dipindahkan ke dalam bahasa rupa. Bayu berhasil melakukan rekonstruksi. Visualisasi sebatang rokok yang terbakar merepresentasikan peta kekerasan yang masif.

Derivasi teks merupakan pengerjaan visual atas teks yang dihadapi untuk membuatnya menjadi sesuatu yang baru. Tetapi, tetap saja bersandar pada dimaksud. Sandaran itu dihadirkan Faisal Habibi melalui cermin (me rujuk puisi Sapardi Djoko Damono, Bayangkan Seandainya), Dona Prawira Arisuta melalui rambut (merujuk puisi Ahda Imran, Di Pintu Angindan di Delta Sungai). Endang Lestari merekam puisi Makrifat Mawar (A. Muttaqin). Bahasa rupa Endang mengandalkan bahan baku keramik. Visualisasi setaman mawar (tidak merah penuh gelora) serta yang tumbuh dalam perut buah labu menjadikan karya Endang sungguh menemukan mawar yang berada pada tahap makrifat.

Terra dan Rifqi menemukan variasi teks. Pada Terra, variasi itu menonjol dikerjakan padaDinding Mawar (Yanusa Nugroho) daripada Notre Dame karya Warih Wiratsana. Alih-alih ”menerjemahkan” teks Yanusa ke dalam kanvas, Terra menciptakan variasi daripada sepenuhnya melakukan pengkhianatan atas teks: masih ada mawar yang divisualkan dan dinding disulap menjadi figur robot. Sampun Dalu, puisi Timur Sunar Suprabana, betul-betul varian baru dalam bahasa visual Rifqi. Bahkan, Sampun Dalu (Sudah Malam) tidak hadir hitam, tetapi putih.

Responsi yang progresif tampak pada bahasa visual Hayatudin (merujuk Menonton Wayang, puisi Jimmy Maruli Alfian) adalah alienasi. Hayatudin membangun gedung-gedung pencakar langit (kontras dengan dunia wayang nun di pedalaman). Kanvas bagian bawah dalam sepuluh bentuk kotak kecil-kecil menampilkan fragmen kehidupan manusia (laksana wayang?). Begitu pun alienasi teks yang dilakukan David Armi Putra atas puisi Munajat Apel Merah karya A. Mutttaqin. Bahkan, puluhan apel disulap David dari hewan laut umang-umang (kepompong) yang diberi sedikit aksen merah pada sudut-sudutnya.

Keseluruhan karya para perupa yang dipamerkan merupakan responsi atas teks-teks yang berada pada wilayah kognisi: implikasi visualnya tentu beragam. Kebebasan perupa dimungkinkan karena rezim teks tidak berlaku. Selain itu, tidak seperti pada media massa dan sampul buku, teks-teks sastra itu tidak hadir (meruang dan mewaktu) secara bersamaan. Pesan dari responsi visual atas tekstual itu jelas, dikerjakan atau tidak, kreatornya tumbuh berdampingan maupun berimpitan sekalipun forumnya sendiri-sendiri. (Afnan Malay, pemerhati seni rupa, tinggal di Jogjakarta)

* Dinukil dari  “Ruang Putih” Harian Jawa Pos edisi 18 Oktober 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan