-->

Lainnya Toggle

Proses Kreatif Novel Merjan-Merjan Jiwa

Oleh: Kurnia Effendi/

Apa sih yang dimaksud dengan menulis cepat? Secara sepintas kita membayangkan para jurnalis yang berbaku lekas menangkap isi pidato tokoh atau wawancara (jika tidak membawa alat perekam) lalu memindahkannya ke atas buku catatan dengan huruf steno. Namun, ada makna lain tentang menulis cepat, yakni menyelesaikan tulisan dalam kejaran tenggat (deadline).

Dan dalam pengertian kedua itulah saya menulis novel Merjan-Merjan Jiwa. Novel relijius yang dipesan oleh majalah Kartini itu harus selesai dalam waktu tertentu karena terkait dengan momentum penerbitan edisi Lebaran. Bukan persis di hari Lebaran, melainkan dua minggu sebelumnya, ketika Ramadhan masih berlangsung.

Saya tak mungkin menggerutu kepada sang pemesan karena sebetulnya sudah diberi waktu yang sangat longgar. Masalahnya, penulisan itu tertunda-tunda karena kepadatan agenda saya untuk menunaikan janji tulisan lain yang harus selesai lebih dulu. Bagaimana rasanya? Terus terang stress, under presser, yang diciptakan sendiri. Bahkan saya nyaris putus asa. Lalu apa yang membuat saya tak habis langkah atau berhenti dan menyerah?

Energi! Kekuatan tak tampak itu merupakan akumulasi niat baik, tanggung jawab, rasa malu, dan kepercayaan diri yang terus menggelora. Dalam tiga setengah minggu, novel setebal 300 halaman itu akhirnya selesai. Tiga malam di antara saya tidak tidur sama sekali. Dua hari saya mengambil cuti kantor. Dan di pelbagai tempat kegiatan saya membawa laptop demi menuntaskan utang komitmen itu.

Apakah saya mampu mengejar waktu itu? Apakah cerita yang sedang saya tulis ini masih cukup bermutu? Apakah jika saya takluk oleh situasi buntu akan masih dipercaya oleh majalah Kartini? Apakah hanya sampai di sini kekuatan saya dalam mengekspresikan diri?

Begitulah pertanyaan meneror batin sendiri. Kepercayaan yang sudah diletakkan di pundak saya tak boleh disia-siakan. Endang Werdiningsih, sebagai pemberi tugas bukanlah orang asing, melainkan senior saya yang saling mengenal baik. Artinya, alangkah malu (diri sendiri) dan memalukan (bagi Endang), jika saya melakukan wan prestasi. Harkat sebagai pengarang akan hancur, sementara kesalahan terletak pada diri saya.

Alhamdulillah itu semua dapat terlampaui dengan baik. Serasa seorang ibu yang melahirkan bayinya, serta-merta terlupa rasa sakit. Pada saat itu, setelah melanggar waktu beberapa hari, ketika novel saya berakhir dengan satu kata: selesai…lupa sudah rasa letih yang sekian minggu membebani. Energi baru kembali masuk, serupa Kristal hijau dari Planet Krypton yang memberikan kesegaran ke seluruh tubuh.

Itulah nikmatnya sebagai seorang penulis. Mungkin juga untuk para kreator lain: pelukis, pemusik, pencipta tari, arsitek. Proses penciptaan menjadi sangat penting karena akan menentukan rasa puas di ujungnya. Setiap usaha yang bukan instan, penuh daya juang, “berdarah-darah”,  akan mempersembahkan rasa hormat kepada sang pekerja kreatif. Itu sebabnya, apabila sebuah karya yang berproses melalui liku-liku yang panjang, apabila dicuri oleh seorang plagiat, akan menyemburatkan rasa berang.

Kembali kepada Merjan-Merjan Jiwa, setelah seluruh naskah secara lengkap dikirim ke redaksi Kartini, saya ingin istirahat dengan nyaman. Ternyata, di bilik jiwa yang positif, saya merasakan kebahagiaan telah “melahirkan anak”, namun di bilik yang negatif, saya merasa`sedang alergi oleh kata-kata.  Mual melihat deretan huruf di komputer. Baik mata dan perasaan ingin jeda dari rangkaian kalimat dan teks.

Baru kira-kira seminggu kemudian saya mulai rindu lagi dengan puisi, cerita pendek, dan esai. Saya selalu teringat pada hari-hari ketika mata perih karena menahan kantuk, tubuh bagai lolos dari belulang karena terlalu banyak duduk, dan konon teman-teman melihat saya lebih kurus dari biasanya. Saat siang, rasanya melayang-layang, kantuk menyerang, langkah begitu ringan dan selalu nyaris jatuh. Menjelang waktu habis, cerita masih jauh dari ending, aduh, rasanya mau menangis. Putus asa sesekali menyerbu. Namun kembali lagi saya teringat pada hal-hal yang akan mempermalukan diri sendiri.

Tidak boleh terjadi! Entah datang dari mana, energi terus terpompa, menyelamatkan perjalanan novel itu. Saya bersyukur, karena selama sekitar 25 hari tidak dihinggapi flu. Dengan kondisi siang malam terjaga alias kurang tidur, penyakit akan mudah singgah kapan saja. Tetapi pada dasarnya saya orang yang gampang makan dan minum, jadi tak pernah membiarkan tubuh saya merontah kekurangan isi. Komitmen terhadap janji memenangkan segala rasa lelah.

Dan ada satu pelajaran lagi dari sebuah proses, yakni tentang disiplin dan perencanaan yang matang. Sebelum menulis, kebetulan pihak Kartini meminta saya mengirimkan sinopsis. Ringkasan novel itulah yang menyelamatkan cerita tetap fokus pada jelujur kisah dan plot yang telah saya tetapkan. Kedisiplinan terhadap jam-jam menulis, di mana pun berada, merupakan tiang-tiang penyangga yang merawat lengkung durasi penciptaan tetap terjaga. Semangat ayo terus semangat, terasa seperti seruan para pemandu sorak yang bertingkah gila di sekitar kepala. Waktu melaju terus, dari subuh ke subuh. Dan…

Di pertengahan Ramadhan lalu, novel itu terbit, beredar bersama majalah Kartini edisi Lebaran. Rasa suka cita menggunung, karena bukan hanya novel itu selesai ditulis, namun juga beredar ke seluruh Indonesia. Tiras Kartini berapa? Sejumlah itulah novel saya terjual. Sejumlah itulah novel saya dibaca orang. Bisa disebut super best seller, mestinya. Klaim Kartini, tiras sebanyak 160 ribu. Katakan separuhnya saja yang terealisir, berapa eksemplar buku itu tersebar?

Ada cerita menarik di kantor saya. Loper koran dan majalah langganan kami yang melayani pelanggan di gedung 12 lantai itu, pada tanggal 3 September ‘menjerit’ kehabisan modal. Apa pasal? Biasanya ada 30 pelanggan Kartini saja yang harus dipenuhi kehadiran majalahnya. Oleh sebab novel saya akan menjadi bonus edisi Lebaran, pada hari Kamis yang memesan majalah Kartini  melonjak sampai 80 orang. Alhasil, tabungan sang loper itu harus dicairkan untuk belanja ke agen tempat ia mengambil koran dan majalah. Namun, tentu saja, ketika di akhir bulan semua membayar, tabungannya akan gemuk lagi.

Awalnya, novel Merjan-Merjan Jiwa itu saya tawarkan dengan judul Merjan-Merjan Kasih. Oleh alasan tertentu, pihak redaksi majalah Kartini mengubahnya (atas seizin saya) menjadi Merjan-Merjan Jiwa. Dan ternyata banyak pembaca suka dengan judul itu.

Nah, hal yang menarik setelah novel itu diterima oleh para pemesannya, teman-teman saya itu mengajukan pertanyaan: “Apa sih arti merjan?” Saya setengah terkejut, sebab kata “merjan” bukan kosa kata baru yang datang dari planet lain. Saya (yang mulai menulis selalu dari judul) sudah merencanakan judul itu sejak tahun 1984. Jauh nian. Kenapa sekarang banyak yang belum tahu artinya?

Merjan adalah butiran untuk tasbih atau rosario atau kalung… (*)

Diunduh dari kolom Kurnia Effendi di indonesiaenergywatch.com, 18 Oktober 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan