-->

Lainnya Toggle

'Polusi Bahasa' pada Pameran Buku Frankfurt

Oleh: Huang Qin

China adalah tamu kehormatan Pameran Buku Frankfurt tahun ini, tapi sebagian besar diskusinya bukan mengenai penghormatan terhadap rezim saat ini.

Diselenggarakan dari 14-18 Oktober, acara itu memamerkan sastra China, seni, dan penerbitan, termasuk analisa tentang bahasa China modern.

The Epoch Times mengundang para pakar dan akademisi untuk membahas masalah ini dan mengadakan serangkaian seminar untuk mengeksplorasi masalah ini. Satu seminar berjudul “Sastra China di bawah Kediktatoran,” adalah dibawakan oleh penyair dalam pengasingan Bei Ling, sarjana sosial Jerman Zhong Weiguang, dan direktur Independent Chinese Pen Center di Switzerland Chen Maiping.

Para pembicara mendiskusikan apa yang telah diistilahkan sebagai “polusi” terhadap bahasa China oleh Partai Komunis Cina.

“Polusi bahasa ini lebih serius daripada pencemaran lingkungan di China,” kata Gao Xingjian, yang merupakan mantan pemenang Penghargaan Nobel untuk Sastra. “Ketika saya menulis, saya tidak berani memegang pena – saat saya tidak percaya beberapa dari kata-kata yang keluar dari itu,” katanya.

Chen Maiping dari Swiss menjelaskan bahwa ketika dia memulai majalah “Today” selama kampanye 4 Juni pada tahun 1989, dia menerbitkan sebuah drama yang ditulis oleh Gao dan sebagai akibatnya membuat dirinya sendiri mendapatkan masalah.

“Kami menggunakan kata-kata seperti ‘orang’ dan ‘demokrasi,’ dan begitu juga Partai Komunis China (PKC). Kami telah menggunakan kata-kata ini sejak kami masih muda. Konstitusi China mengatakan kebebasan berbicara, kebebasan berserikat dan kebebasan publikasi, dan pada suatu saat kami benar-benar mempercayai itu semua. Namun, ketika kita menulis tentang mereka sekarang, saya menemukan bahwa saya sebenarnya tidak benar-benar memahami makna mereka yang sesungguhnya.” kata Chen.

Chen berpendapat bahwa polusi bahasa telah menyebabkan “lebih dari 50 persen surat kabar dan majalah yang diterbitkan di China menjadi sampah.”

Gao Xingjian mengatakan “Nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar telah hilang dalam masyarakat China hari ini dengan cara yang bahkan kita tidak menyadarinya. Tampaknya untuk China, penghormatan hanya perlu diberikan kepada pejabat yang lebih tinggi.”

Namun bahasa China, sebagai bahasa ibu mereka, masih dekat dengan para penulis.

“Meskipun kami tidak mempunyai rumah, selama kami menggunakan bahasa China untuk menulis, kami memiliki rumah kami sendiri,” kata Gao.

Chen Maiping beranggapan bahwa tugas para penulis China bukan hanya terbatas pada penegakan kebebasan berbicara. Dia menegaskan bahwa bahkan setelah diberikan kebebasan berbicara, para penulis masih harus memperhatikan cara mereka menulis.

“Sekarang kita harus menawarkan racun bahasa China dan membuatnya menjadi lebih bersih. Kita harus menyingkirkan polusi PKC terhadap bahasa China dan memurnikannya.” katanya. (EpochTimes/khl)

Diunduh dari Erabaru.net Edisi 27 Nopember 2009

1 Comment

Fahri - 31. Okt, 2009 -

Para pejabat resmi China pede banget dengan apa yang mereka sebut “mengekspor” pemikiran budaya ke luar negeri. Sebabnya, perhatian dunia kini tertuju kepada China setelah dunia dihantam krisis finansial. Tahun ini Frankfurt Book Fair mengundang China sebagai tamu kehormatannya, tapi majalah Der Spiegel menyebutnya “tamu tak diundang.” — http://www.beritamusi.com/berita/2009-10/serangan-balik-budaya-china/

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan