-->

Lainnya Toggle

Pikirkan Ulang untuk Apa Kamu Menulis

Sigit Kurniawan“Menulis adalah satu-satunya tempat aku bisa menjadi diriku sendiri dan tidak merasa dihakimi. Aku senang berada di sana.” (Terry McMillan)

Ada satu pengalaman yang memotivasi saya untuk tidak berhenti menulis. Ternyata menulis bukan sekadar media terapi, kendaraan untuk bernarsis ria, tapi menyimpan misi kemanusiaan. Dari pengalaman itulah, saya mengerti apa hakikat dari menulis. Di sini ini, saya ingin berbagi kepada para sahabat semua yang nota bene memilih jalan kepenulisan sebagai bagian dari hidup. Tulisan ini pernah saya posting di weblog pribadi saya “Musafir Muda”, KoKi edisi Juni 2008, maupun Kompasiana. Ada sedikit editing sana-sini. Semoga tulisan ini menjadi camilan bergizi pengisi jeda para sahabat semua di tengah kesibukan masing-masing.

Kisah ini saya masukkan dalam ‘rak’ cerita-cerita memilukan dalam ‘lemari’ hidup saya. Pojok jalan Sang Timur, depan sebuah gereja dan warung nasi Padang, sekarang tampak lengang. Sepi. Sosok lelaki umur 35 tahunan itu tidak menampakkan batang hidungnya di sana. Sudah dua bulan, sosok itu raib abadi alias mati. Maskun, nama lelaki itu. Ia mati lantaran ginjalnya aus, tak berfungsi lagi. Tapi, bayangannya masih saja berseliweran di benak saya. Berkali-kali ia menyap saya bila melintas di depannya dengan sepeda motor, “Mas, mampir.” Membangkitkan rasa bersalah.

Ingin saya hindari pojok jalan itu. Rasanya jalan itu berubah menjadi monumen kesedihan abadi. Di sanalah, tiap sore, Maskun nongkrong bersama tukang tempe goreng sambil menjaga rental play station, sumber rezeki satu-satunya.

Saya mengenal Maskun sudah lama. Tapi tidak begitu intensif. Ia seorang aktivis di Forum Kemanusiaan (FK), sebuah komunitas orang muda yang peduli pada pendidikan anak-anak miskin. Markas FK berderet dengan rumah Maskun. Tidak jauh dari gereja di bilangan Jakarta Barat. Kantor FK dan rumah Maskun tidak pernah sepi oleh anak-anak Kampung Satelit. Entah belajar, membaca buku, maupun main games. Kampung Satelit adalah satu wajah kemiskinan di ibukota dan rentan terkena gusuran.

Sapaan Maskun sering saya anggap sepi. Hanya lambaian tangan, sapaan singkat, maupun bunyi klakson motor. Sepotong obrolan pun tidak pernah kugelar. Tapi, pojok jalan itu kini menggelisahkan saya. Membuat hati saya gemetar. “Apakah saya turut membunuhnya?” kata suara dalam batin. Pertanyaan itu terus meneror saya.

Sebulan sebelum kematiannya, saya mendapat kabar bahwa Maskun masuk rumah sakit. Kabar itu saya peroleh dari seorang sahabat. Gadis berjilbab ini memberi tahu kalau Maskun terancam dipulangkan dari rumah sakit karena kekurangan biaya. Padahal sakitnya lumayan parah. Gadis itu meminta saya menolong maskun. Ia meminta saya menulis tentang sakitnya Maskun di mingguan gereja. Di mingguan itu, ada rubrik kasih yang diperuntukkan mereka yang membutuhkan bantuan dana dan moral.

Saya bukan penulis profesional. Saya hanya sukarelawan yang ingin membantu media kecil itu. Meski masih penulis ingusan, tulisan saya tidak jelek-jelek amat. Di media itu, saya dipasrahi mengelola rubrik kasih tersebut. Dari sinilah, saya sadar ternyata menulis ada gunanya bagi hidup orang lain.

Foto: Sigit Kurniawan Saya pernah menulis tentang hidup Rendie, bocah kecil asal Kepa Duri yang sekarat. Rendie terkena infeksi di bagian perut akibat keserempet bus di daerah Kota. Lukanya membusuk. Belatung pun menari-nari di atasnya. Kemiskinan memaksa keluarga Rendie angkat tangan memberi pengobatan yang layak. Ayahnya hanya seorang penjaga listrik di sebuah sekolah negeri. Ibunya sedang mengalami gangguan mental. Namun tulisan ini rupanya menggugah pembaca. Bantuan pun mengalir. Rendie pun dirawat di RS Graha Medika Kebon Jeruk (saat ini berganti nama RS Siloam). Tidak lama, ia pun bisa bersekolah lagi.

Ada Rendie, ada juga Iwan Firman. Iwan adalah seorang korban kerusuhan Mei 1998. Tubuhnya cacat akibat dibakar dengan bensin di Cempaka Putih. Ia kehilangan banyak hal. Termasuk istri yang akhirnya menceraikannya lantaran kondisi buruknya. Lagi-lagi, tulisan ini mampu menggugah pembaca. Seorang ibu muda menelepon media kecil ini. Ia ingin bertemu dengan Iwan dan menyerahkan sedekah.

Ada lagi sosok Frederick. Bayi laki-laki ini lahir dengan kelainan jantung. Orangtuanya ketar-ketir akan nasib jabang bayi ini. Pengobatan tentu mahal. Apalagi kalau harus merogoh kocek terlalu dalam. Saya bersyukur tulisan ini masih mendatangkan berkah. Banyak dermawan menyisihkan sebagian uangnya untuk operasi Frederick sampai sembuh. Ada juga sosok Sin An, lelaki muda yang menderita kelainan ginjal. Tulisan saya pun turut menggugah orang menolong lelaki yang masih punya masa depan panjang itu. Semua itu saya syukuri.

Tapi, lain cerita dengan Maskun. Awalnya saya semangat sekali ingin menulis tentang sakitnya. Entah kenapa, saya saat itu sedang mempunyai hubungan kurang harmonis dengan orang-orang di gereja. Saya merasa sepi dan menjadi orang asing di negeri sendiri. Tulisan-tulisan saya yang bernada kritik internal justru membuat banyak orang mencibir saya. Mungkin ini hanya perasaan saya saja. Saya memutuskan berhenti sejenak menjadi voluntir media kecil itu. Ini berlangsung berminggu-minggu.

Sampai akhirnya di suatu malam, pukul 23.50 ponsel saya berbunyi. Menggugah kesadaran dan kenyamanan diri yang nyaris lelap. “Mas, mas temannya Maskun, ya. Ini saya, adik Maskun. Cuma mau mengabarkan, Maskun baru saja meninggal. Minta tolong untuk meneruskan kabar ini pada teman-teman yang lain. Terimakasih.” Demikian bunyi suara parau dari ponsel saya.

Sontak saya kaget. Tidak percaya. Kesedihan dan kekecewaan dengan cepat menyapu keheningan dan kenyamanan malam itu. Tiba-tiba saya ingat pada janji saya menulis tentang sakitnya. Saya lupa. Benar-benar lupa. Dan saat itu sudah terlambat. Rasa bersalah benar-benar menggantung di hati saya. Saya berupaya keras menenangkan diri.

Untuk memastikan, saya menelepon balik. Suara yang sama muncul. Maskun meninggal di rumahnya. Lalu saya bertanya mengapa suara itu tahu nomer telepon saya. Ia menjawab ia melihatnya di buku telepon Maskun. Lebih membuat saya terperangah ketika ia mengatakan bahwa saya satu-satunya teman yang pertama kali dihubungi dan ia memintsaya mengabari yang lain. Saya merasa Maskun sendirilah yang memilihkan nomer saya. Ia seolah mau menagih janji saya. Rasa bersalah saya bertambah besar. Pertanyaan itu datang lagi. Apakah saya ikut membunuhnya?

Saya mulai bermonolog. Saya sadar dan mengsayai saya telah teledor. Saya terlalu terbawa emosi sehingga saya lupa segalanya. Lupa memujudkan janji saya menulis untuknya. Ia sudah terlanjur pergi karena tak kuasa menahan sakitnya. Saya pun mulai berandai-andai. Andai saya tidak lupa menulis, mungkin para donatur akan berdatangan. Ia akan sembuh seperti orang-orang yang pernah saya tulis di rubrik kasih itu. Mungkin ia tidak perlu mundur dari rumah sakit. Mungkin ia akan segera sembuh lalu nongkrong lagi di pojok jalan itu, ditemani tukang tempe goreng, dan menyap saya bila saya lewat. Saya tidak mau pongah. Saya hanya mau jujur bahwa saya sungguh tersayat menerima realitas ini. Saat saya melupakannya, penyakit itu sedang menggerogoti raganya. Dan saya sendiri merasa seolah telah mempercepat kematiannya.

Seandainya saya menulisnya sekarang, jelas tidak ada gunanya. Kata-kata saya tidak bakalan membangkitkannya dari liang kubur. Kalimat saya juga tidak akan mampu menghapus nama yang terpatri di batu nisannya. Semua tinggal sejarah. Sejarah penyesalan. Saya pun angkat tangan. Saya bukan Tuhan, penguasa kehidupan dan kematian. Saya akui saya salah.

Saya belajar banyak dari kematian sahabatku ini. Saya jadi teringat kata-kata Andre Malaraux, seorang penulis Prancis. Ia pernah berujar, “Manusia baru benar-benar dilahirkan saat berdiam diri di depan sebuah mayat dan bertanya mengapa?” Ini juga menjadi pertanyaan saya. Mungkin saya baru saja dilahirkan dan Maskun adalah bidan untuk kelahiran saya. Saya lahir dengan kesadaran baru bahwa menulis adalah bekerja untuk kehidupan. Menulis itu pekerjaan mulia.

Sebagai bentuk penghormatan dan pengenangan pada sahabat tercinta saya ini, saya bagikan cerita ini pada para sahabat blogger yang mencintai kegiatan menulis. Menulis adalah kegiatan berbagi. Berbagi pengharapan. Berbagi motivasi hidup.

Sementara itu, pojok jalan itu masih tampak lengang. Sepi. Basah oleh air hujan yang masih doyan mengguyur…

Sigit Kurniawan, pengelola situs jurnalisme warga katakataku.com. Tulisan ini diunduh dari situs itu dengan judul awal: “Apakah Aku Turut Membunuhnya?” Klik di sini

Sumber foto di sini

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan