-->

Kronik Toggle

Perpustakaan Sumbar Selamatkan Naskah Kuno Minangkabau

Padang, 9/9 (Antara/FINROLL News) – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat berusaha menyelamatkan berbagai naskah kuno Minangkabau yang masih berada di tangan masyarakat.

“Kita mengirim tim ke kabupaten/kota di Sumbar untuk mendata dan menyelamatkan naskah-naskah kuno,” kata Kepala Badan Perpustakaan dan Kearsipan Sumbar Eka Nuzla, di Padang, Rabu.

Dari 150 judul naskah kuno yang berhasil didata, 40 judul di antaranya sudah ada di Badan Perpustakaan dan Kearsipan Sumbar.

Di antara naskah kuno yang diselamatkan Badan Perpustakaan, yakni Peramalan dan Obat Tradisional Minangkabau, Min Mekkah Ila Mesir, Risal Mau`izat Al-Hasanah, dan Pedoman Umat Islam.

Menurut Eka, naskah-naskah kuno itu dialih media melalui digitalisasi. Kegiatan itu merupakan lanjutan kegiatan tahun 2008.

Pada 2009, kegiatan alih media naskah kuno diarahkan pada upaya mendigitalkan naskah kuno di Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Di Kabupaten Solok Selatan, kegiatan alih media naskah kuno dilakukan di tiga nagari, yakni Nagari Koto Baru, Nagari Luak Kapau, Bidar Alam.

Naskah kuno yang dialihmediakan di Kabupaten Solok Selatan, di antaranya Tarekat Saman, Kumpulan Doa dan Syair Tarekat, Zikir Tarekat Saman, Ilmu Ajaib dan Halus, dan Ilmu Segala Rahasia yang Ajaib-ajaib.

Eka mengungkapkan, Minangkabau selain dikenal dengan tradisi lisannya yang cukup kuat, juga memiliki tradisi penulisan naskah yang maju. Tradisi penulisan naskah ini sudah berlangsung lama.

Sebagai sebuah tradisi yang berlangsung lama, kata dia, tidak mengherankan jika tradisi pernaskahan di Minangkabau itu telah meninggalkan artefak budaya berupa naskah kuno dengan jumlah yang cukup banyak.

Naskah-naskah tulisan tangan (manuscript) mengandung teks tertulis mengenai berbagai pemikiran, pengetahuan, keislaman, sastra, pengobatan, serta perilaku masyarakat masa lalu.

Eka mengatakan, naskah-naskah kuno masih banyak tersebar di tangan masyarakat dengan kondisi beragam, dari kondisi naskah yang cukup baik (naskah dapat dibaca) hingga naskah dalam kondisi rusak, dengan kerusakan cukup parah.

Menurut dia, faktor kurangnya pengetahuan dan kesadaran pemilik naskah terhadap pentingnya naskah menjadi penyumbang kerusakan naskah.

“Naskah ada yang ditumpuk atau dimasukkan ke dalam karung, dipindahkan jauh dari tempat semula, dijual, atau bahkan ada yang dibuang serta dibakar,” katanya.

Diunduh dari media Antara yang disalin ulang Finrol News edisi 9 September 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan