-->

Resensi Toggle

Perantauan Sebagai Inspirasi Novel

negeri 5 menara::Oleh: Oktamanjaya Wiguna::

Orang berilmu dan beradab tak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, maka engkau akan menemukan pengganti dari kerabat dan sahabatmu. Bersakit-sakitnya, maka manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Sebagaimana kata mutiara Imam Syafii itu, betapapun melelahkannya, petualangan atau perantauan bisa membuahkan pengalaman yang membangkitkan inspirasi. Dan bagi ketiga penulis–A. Fuadi, Nugraha Wasistha, dan Muhammad Najib–petualangan menginspirasi mereka untuk menulis novel.

Dari tanah kelahirannya di Bayur, Sumatera Barat, Ahmad Fuadi merantau ke Jawa untuk meneruskan pendidikan di Pondok Modern Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, lantas melanjutkan kuliah ke Washington dan London. Ia menuangkan pengalaman itu dalam novelnya, Negeri 5 Menara, yang jalan ceritanya mirip pengalamannya.

Lewat tokoh Alif Fikri dan lima sahabatnya yang nyantri di Pondok Madani, Fuadi mengisahkan seluk-beluk kehidupan pesantren, yang niscaya asing bagi mereka yang tak pernah mengalaminya. Sepintas, jalan ceritanya mengingatkan kita pada kisah Harry Potter, namun bukan masuk sekolah sihir, melainkan pesantren.

Novel ini memang tanpa sihir atau misteri. Fuadi semata mengisahkan semangat dan pengalaman unik tokoh-tokohnya, yang berupaya maju dalam pendidikan yang inspiratif. Dengan kelucuan yang terasa wajar dan penuh kepolosan khas anak-anak, sesekali ceritanya mengundang tawa.

Dari gaya berceritanya, terkesan Fuadi cukup menguasai bahasa dan kata, sehingga diksinya mantap dan kosakatanya kaya. Deskripsi yang mendetail–namun tak berlebihan–bertaburan dalam novel ini, sehingga membuat dunia Alif terasa begitu hidup.

Dengan pengalaman yang mirip, Muhammad Najib memberikan atmosfer berbeda. Ketua Hubungan Luar Negeri Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menuangkan saripati pengalamannya melanglang buana ke 30 negara dalam novelnya, Safari.

Novel yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Republika ini mengisahkan Jamal bin Mujahid alias Amal, yang mengambil kuliah di Jerman dan perjalanannya ke berbagai negara, mulai Turki hingga Amerika Serikat. Sosok Najib sebagai pengurus organisasi Islam mempengaruhi tema cerita, sehingga novel ini “terpeleset” pada diskusi serius tentang problema dunia Islam. Halaman demi halaman dipenuhi perdebatan dan tukar pikiran Jamal dengan mahasiswa dan aktivis Islam di berbagai negara.

Hal itu membuat novel ini cenderung kaku, karena tak meluangkan bagi adegan yang deskriptif. Untunglah, Najib menyelipkan kisah asmara dan gambaran karakter Jamal yang terbuka, sehingga novel ini masih memiliki drama yang sempat mengundang rasa penasaran. Cuma sayang, penyuntingan novel ini kurang bersih sehingga terdapat beberapa kesalahan yang mengganggu keasyikan membaca.

Sementara kedua penulis tersebut mendasarkan cerita pada perantauan di dunia nyata, novel Saharakarya Nugraha Wasistha lahir dari petualangannya di dunia imajinasi. Ia mempertemukan tiga tokoh kisah 1.001 Malam, yakni Aladin, Ali Baba, dan Sinbad, dalam satu cerita. Ia menawarkan versinya mengenai kisah legendaris itu, bahkan “mempertemukan” mereka dengan beberapa tokoh dari kisah lainnya.

Ia juga menginterpretasi ulang kisah 1.001 Malam, terutama terhadap versi Walt Disney, yang melepaskan tokoh Aladin dari tradisi dan budaya Islam tempat cerita itu tumbuh. Ia seolah ingin meluruskan bahwa kisah yang berlangsung di Persia (kini Iran) itu sebagai “kisah dakwah”. Sehingga Sinbad, misalnya, ia ceritakan bukan sekadar sebagai pelaut gagah perkasa yang mengarungi samudra dan menghajar monster, melainkan juga sebagai mubalig.

Nugraha, yang berlatar belakang pendidikan desain visual dan lebih sering membuat komik, sangat piawai bermain dengan kata. Ia membangun cerita yang penuh adegan laga, dan mengisahkannya dengan gaya bahasa yang lincah, sehingga ia terkesan memiliki kekayaan repertoire yang beragam sebagai referensi.

Itu terutama terlihat pada berbagai analogi yang ia comot dari berbagai bacaan. Sebut saja saat ia menggambarkan tawa seorang bajak laut yang ia deskripsikan “sedikit mendengus seperti babi hutan Galia”–yang niscaya familiar bagi mereka yang telah membaca komik Asterix.

Setelah dunia perbukuan dibombardir oleh kisah-kisah fiksi Islami yang mengekor Ayat-ayat Cinta, kini lahir novel-novel yang memberi warna berbeda: bahwa kisah cinta, betapapun menjual, tema cerita berupa komedi dan aksi, bahkan diskusi pun, bisa sama menariknya.(Oktamanjaya Wiguna)

Negeri 5 Menara, Pengarang: A. Fuadi Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Juli 2009 Tebal: xvi + 416 halaman

Sahara,Pengarang: Nugraha Wasistha Penerbit: Serambi, Jakarta, Agustus 2009 Tebal: 335 halaman

Safari , Pengarang: Muhammad Najib Penerbit: Ufuk Press, Jakarta, April 2009 Tebal: 348 halaman

Diunduh dari Media Online Tempo Interaktif Edisi 4 Oktober 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan