-->

Kronik Toggle

Pemkot Surabaya Bagi 100 Ribu Buku untuk PAUD dan SD

Pemerintah Kota Surabaya terus berupaya meningkatkan minat baca anak-anak sejak usia dini. Dinas Arsip dan Perpustakaan (DAP) pada 13 Oktober menyiapkan 10 ribu buku yang akan dibagikan kepada 300 penyelenggara pendidikan anak usia dini (PAUD) dan 300 sekolah dasar (SD).

Buku-buku tersebut terdiri atas berbagai jenis, mulai buku fiksi, penunjang pendidikan dasar, agama, bahasa, dan keterampilan. Buku-buku itu akan diserahkan pada 15 Oktober saat acara kampanye gemar membaca yang digelar pemkot.

Buku-buku itu pada Selasa menumpuk di ruang Kabid Akuisisi Deposit dan Pengolah di lantai dua Kantor DAP. Beberapa pegawai terlihat sibuk memilah buku yang akan dibagikan. Buku itu dibagikan kepada pemenang lomba perpustakaan sekolah dan taman bacaan yang berlangsung sejak Agustus lalu. ”Ini buku bacaan, bukan buku wajib,” kata Kepala DAP Arini Pakistyaningsih di kantornya (13/10).

Dia menambahkan, bantuan tersebut merupakan salah satu upaya pemkot merangsang minat baca warga. Selama ini tidak banyak warga yang meluangkan waktu untuk membaca. Perpustakaan Besar Rungkut dan 20 sudut baca balai RW rata-rata hanya dikunjungi 300 ribu orang per tahun. ”Tidak sampai sepuluh persen. Budaya baca benar-benar lemah,” kata perempuan berjilbab itu.

Keluhan masyarakat akan mahalnya harga buku sebenarnya sudah dijawab dengan menambah koleksi buku di perpustakaan umum.”Minimnya pengunjung itu juga karena mereka tidak pernah dilatih cinta membaca sejak kecil,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Perda No 5 Tahun 2009 yang mewajibkan mal dan pabrik memiliki sudut baca menjadi ujung tombak baru dalam meningkatkan ruang baca publik. DAP juga berencana menambah 153 tempat baca di balai RW untuk mendekatkan buku ke masyarakat. ”Ini agar membaca bisa menjadi kebutuhan,” harapnya.

Arini juga meminta pemkot memberikan dukungan dengan tidak sekadar membangun sarana fisik kota. Pemkot juga harus membantu mencerdaskan warga dengan pengadaan buku-buku dan taman baca. ”Fisik kota yang bagus harus didukung kemampuan warga yang cerdas,” tegasnya.

Sementara itu, penulis Lan Fang yang juga wakil ketua forum baca tulis mengungkapkan, kegiatan tersebut bisa menjadi awal yang baik bagi pertumbuhan minat baca. Sasaran pembagian buku ke PAUD dan SD dirasa tepat. Sebab, kemampuan membaca tidak tumbuh secara alami, tetapi harus dibentuk melalui kebiasaan. ”Membaca adalah proses internal exercising,” jelasnya.

* Dikronik dari harian Jawa Pos Edisi 14 Oktober 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan