-->

Kronik Toggle

Pemimpin Uighur Kecam Pameran Buku Frankfurt

Frankfurt – Pemimpin Uighur dari pengasingan, Rebiya Kadeer mengkritik tajam Pameran Buku Frankfurt karena mengundang China sebagai tamu tahun ini. Rebiya mengatakan seharusnya tidak usah diundang mengingat buruknya catatan Hak Asasi Manusia (HAM) di China.

“Tidak benar untuk menyambut suatu negara, di mana eksekusi adalah peristiwa sehari-hari dan HAM diperlakukan dengan tidak hormat,” Kadeer, mantan pengusaha yang kini memimpin kelompok pengasingan Kongres Uighur Sedunia, katanya di pameran buku pada hari Minggu (18/10), hari terakhir pameran.

“Sebelum Olimpiade, dunia berpendapat China akan dipaksa untuk lebih menghormati HAM ketika dunia mengalihkan perhatian pada pertandingan di China,” kata Kadeer, dengan ciri khas rambut beruban panjang dikepang dan mengenakan topi tradisional Uighur segi empat.

Amnesty International dalam laporan tahun lalu mengkritik China karena gagal menepati janji yang dibuat untuk meningkatkan HAM sesuai komitmen sebagai tuan rumah Olimpiade pada tahun 2008.

“Sebagai pelajaran dari peristiwa itu, pameran buku mengundang China sebagai tamu … tapi apa yang terjadi pada tanggal 5 Juli menunjukkan bagaimana China memperlakukan HAM dan warganya,” kata Kadeer, mengacu pada kerusuhan kekerasan pada bulan Juli yang mengguncang wilayah China Barat laut Xinjiang, rumah bagi Muslim Uighur.

Sama dengan Tibet, Xinjiang merupakan salah satu daerah yang paling sensitif secara politis di China dan di kedua tempat pemerintah telah berupaya untuk mempertahankan cengkeramannya dengan mengendalikan kehidupan beragama dan budaya, sementara menjanjikan pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran.

Penyelenggara pameran buku mempertahankan pilihan kontroversialnya.

“Kami mengutuk pelanggaran HAM dan kebebasan berbicara,” kata Direktur pameran Juergen Boos. “Tidak berbicara tentang subyek yang tidak menyenangkan tidak banyak membantu di masa lalu, kita harus terbuka dan menghadapinya,” tambahnya.

Pameran terbesar ini, sering menghadirkan kontroversi. Tahun lalu tamu negara, Turki, juga datang di bawah kecaman karena membatasi kebebasan berbicara.

“Pameran buku menyediakan platform budaya untuk berdiskusi dengan aturan-aturan yang jelas. Tapi bukan PBB,” kata Boos, menambahkan. “Tema kita adalah kesusastraan. Kita dapat menarik perhatian pada konflik-konflik, tetapi kita tidak dapat memecahkannya.”

Sekitar 7.000 peserta pameran dari 100 negara datang ke Frankfurt tahun ini, kira-kira sama seperti tahun lalu.

Tamu tahun depan adalah Argentina.

* Diunduh dari portal erabaru.net edisi 20 Oktober 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan