-->

Kronik Toggle

Parade Orasi RT-RW di Rumah Dunia

Hari Minggu nanti, kalender di dinding rumah atau kantor kita menunjuk ke angka 4 Oktober 2009. Itu tandanya Provinsi Banten berulangtahun yang kesembilan. Sudah besar Banten! Bukan lagi balita.

Sudah mampukan Banten berjalan? Sudah jadi anak kecil yang cerdas dan menynnakankah? Atau Banten ibarat anak kecil kurang gizi, yang hanya mengkonsumsi nasi aking, padahal di sekelilingnya persawhan menghampar denan wangi bunga padinya? Lantas dengan cara apakah kita merayakannya? Bersyukurkah kita dengan perjalanan Sembilan tahun Banten sebagai provinsi?

REFLEKSI

Beragam acara digelar warga Banten dalam rangka mensyukuri nikmat ini. Rumah Dunia pun tidak tinggal diam. Kegiatan merayakan ulang tahun kesembilan Banten sebagai provinsi digelar pada 3 dan 4 Oktober. “Judul kegiatannya ‘Banten Songo’, sudah sempurnakah dirimu untuk diriku,” jelas Ibnu Adam Aviciena, sebagai Ketua Pelaksana.. Penamaan “Banten Songo”. Karena Banten tidak bisa lepas dari sejarah wali songo, dimana Banten diislamkan oleh Sunan Gunung Djati, salah seorang wali songo. Sedangkan penyertaan “Sudah Sempurnakah Dirimu Pada Diriku?”, ini adalah bagian dari introspeksi diri, apakah Banten sebagai provinsi sudah membawa kesejaheraan atau tidak bagi rakyatnya.

Bekerjasama dengan Marqueen, Jakarta, acara BANTEN SONGO dimulai sejak Sabtu, 3 Oktober 2009, pukul 20.00 – 23.00 WIB berupa “Refleksi Banten Songo”; yaitu  parade  orasi  ketua RT/RW se-Banten. Kata Ibnu Adam Aviciena, Ketua Pelaksana,  “Ini baru pertama kali di dunia, lho! Para RW dan RT berorasi! Mereka akan menyampaikan buah pikirannya tentang Banten yang sudah berumur Sembilan tahun! Sembilan RT dari Ciloang, Kubil, Tegal Duren, Kesuren, Penancangan, Waringin Kurung, kampong Nyimas Ropoh Pandeglang siap berorasi.” Lewat BANTEN SONGO ini, kita memberi kesempatan kepada para pejabat paling bawah di pemerintahan untuk mengungkapkan isi hati atau uneg-unegnya.

Selain parade orasi, ada parade pembacaan puisi tentang Banten oleh 9 penyair Banten. “Kita akan melihat, sudah sepka apa para penyair Banten melihat realitas yang terhampar di depan Banten. Setelah para RW dan RT, kKita akan melihat sebuah perspektif  lain dari para penyair,”  Gola Gong, penasehat BANTEN SONGO nimbrung. Malam mingguan itu juga dibumbui pentas musik Ki Amuk pimpinan Firman Venayaksa, Marawis, dan Orasi tentang “Posisi Pemuda di Banten Masa Depan” oleh Ahmad Subadri, anggota DPD RI dari Provinsi Banten.

Puncak malam mingguan adalah pemutaran film documenter “Makodim”, yang sudah rata dan kini berganti Serang Mal. Film documenter “Makodim” ini karya Lawang Bagja, relawan Rumah Dunia, yang kini bekerja di Ruwais, Dubai. “Pemutaran film ini untuk refleksi kita, bahwa perjalanan sembilan tahun Banten sudah memakan korban, yaitu sejarah. Ingat, bangsa yang besar harus menghargai sejarah!” tegas Lawang Bagja lewat tele confrence Rumah Dunia – Dubai. “Gedung Makodim itu benda cagar budaya, yang dilindungi undang-undang. Semoga dengan memutar film ini, kita bisa merefleksikan diri kita, bahwa sebetulnya kita belum merdeka dari kebodohan!”

LOMBA

Keesokan harinya, setelah kepala kita diajak merenungkan hal-hal lalu dan nanti, hari Minggu (4/10) giliran aneka lomba kreativitas digelar. Kata Firman Venayaksa, Presiden Rumah Dunia, “Lomba ini mengarah ke target Rumah Dunia, yaitu ‘Mencerdaskan dan Membentuk Generasi Baru’ di Banten.”

Jenis-jenis lomba kreativitas berupa menggambar untuk SD, menulis puisi tingkat SMP, menulis cerpen SMA, menulis Essay Perguruan Tinggi, orasi untuk SMA dan perguruan tinggi, membuat karikatur, dan lomba musik anak jalanan. Semua jenis lomba diadakan di Rumah Dunia. Semua peserta dengan kategori di atas  mendaftar secara gratis. Tidak ada pungutan biaya! Justru hadiah disediakan untuk semua jenis lomba. “Alhamdulillah, kami mendapatkan dukungan sponsor dari Riska Ruswandi di Bogor lewat perusahaan Marqueen,” Firman mnjelaskan denan suka-cita. Hadiahnya untuk semua ktegori sama, yaitu juara I uang sebesar Rp. 250.000,-, juara II Rp. 150.000,-, juara III Rp. 100.000,-

Selain aneka lomba kreativitas, ada menu tambahan berupa bedah buku “Misionarisme di Banten” (Penerbit Bantenologi, 2009) karya Mufti Ali, Phd. Pada pukul 14.00 WIB. “Mengisi otak tetap perlu, yaitu diskusi buku!” Ibnu mengakhiri percakapan. (*).

Diunduh dari media online Kompas Edisi 3 Oktober 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan