-->

Suplemen Toggle

Obed Bima: Jangan Hanya Baca, Tapi Berbuat!

Biasanya, mereka memandang remeh mata kuliah Sosiologi Seni. Aku sebagai dosen muda, tentu saja tak mau dianggap remeh. Pertemuan pertama, mereka kuberi tugas untuk membaca artikel pop art dan buku Arnold Houser sebagai bahan diskusi pertemuan selanjutnya. Pertemuan kedua, langsung kulempar pertanyaan:

Siapa yang sudah baca bukunya Arnold?

Hanya lima orang yang mengangkat tangan. Tiba-tiba aku ingat jurus seorang dosenku di UGM, Kris Budiman. Kucoba jurus itu.

OK, yang sudah baca tetap disini, yang belum baca silahkan membaca di luar

Tak kusangka, seluruh penghuni kelas berhamburan keluar, termasuk yang tadi angkat tangan dan mengaku telah membaca. Maka tinggallah aku termangu di dalam kelas.

Memprihatinkan, padahal perpustakaan di kampus ini sungguh megah. Tata ruang, pelayanan dan koleksinya akan membuat setiap pecinta buku betah berlama-lama di dalamnya.

Perilaku pengunjung perpustakaan UK Petra memang berbeda dengan perpustakaan ISI tempat aku dulu belajar. Di ISI mahasiswa ke perpustakaan semata untuk urusan baca pinjam buku. Meskipun kondisi perpustakaan kurang nyaman dan koleksinya kurang terawat. Di Petra, mahasiswa datang ke perpustakaan tidak hanya untuk urusan buku, tetapi juga  untuk ngobrol atau diskusi. Kondisinya memang mendukung untuk itu. Perpustakaan Petra sangat artistik dan tertata apik seperti sebuah mall.

Aku sendiri sering ke perpustakaan itu juga untuk ngobrol daripada sekedar pinjam-baca buku. Bagiku, refleksi paska membaca sebuah buku adalah hal yang lebih penting. Aku menceritakan ulang apa yang aku baca ke orang lain. Dari sini kemudian lahir ide-ide baru.

Dari forum inilah aku memperkenalkan media lain untuk melukis, yaitu tembok. Terinspirasi gerakan Samuel Indratma di Jogja sekira tahun 2002, aku bersama Budi Prasetyadi, kawan pergerakanku serta beberapa mahasiswa membuat program melukis tembok kota.  Program bertajuk AYO REK! Muralisasi Kota Surabaya 2006 itu ingin mewujudkan Surabaya tidak hanya bersih dan hijau, tetapi juga artistik. Kota ini mesti nampak humanis, tidak kaku oleh angkuhnya mall, kemacetan kendaraan bermotor, serta kebisingan visual media yang membawa pesan komersial. Mahasiswaku mendapat ruang berekspresi melalui mural.

Menyadari pentingnya buku, aku selalu menugaskan mahasiswaku untuk membaca buku dan banyak melihat katalog pameran. Itu penting untuk memperkaya referensi dan meningkatkan kualitas karya mereka. Aku pernah menugaskan mereka menulis resensi suatu bab mengenai Senirupa dalam buku Lekra Tak Membakar Buku. Ternyata mereka bisa, dan hasilnya lumayan bagus. Mereka hanya perlu didorong untuk mendekati buku.

Buku bagiku adalah suatu kemewahan. Aku tahu aku miskin. dengan membaca aku merasa mewah karena bisa tahu pikiran orang lain. Ketika aku tak mampu mambeli suatu barang, tapi aku menemukan buku yang isinya bagus dan bermanfaat bagiku, maka itu suatu kemewahan tersendiri bagiku.

Kemewahan dan buku memiliki sejarah khusus bagiku. Pernah suatu kali, aku berhenti pada satu buku visual di Gramedia Jogja saat sedang obral. Harganya 75 ribu. Ada 2 pilihan, jika kuambil buku itu, konsekuensinya aku mesti tak makan di kantin beberapa hari. Tapi jika tak kuambil, bila ada teman lain yang melihat, pasti akan dipungutnya karena buku itu cukup bagus dan murah dari pada harga aslinya. Akhirnya buku itu kubeli dengan resiko kehilangan uang makan.

Kakak laki-lakiku adalah orang yang berjasa mengenalkanku pada buku bacaan. Dia suka sekali pada fiksi ilmiah, terobsesi pada UFO, dan aku dibujuknya untuk pula percaya. Kuturuti saja untuk membaca beberapa komiknya tentang UFO. Jujur saja, ketertarikanku lebih pada visual buku itu daripada ceritanya.

Ayahku juga berjasa mengenalkanku pada buku-buku cerita Balai Pustaka. Beliau seorang guru SD. Semasa itu pemerintah masih sering mengirim buku bantuan inpres ke sekolah-sekolah. Buku-buku itu sering dibawa ayah pulang kerumah dan aku melahapnya dengan rakus. Tak kuingat lagi judul-judulnya, tapi kurang lebih seputaran cerita legenda, cerita rakyat, dan petualangan anak-anak seperti Lima Sekawan-nya Enid Blyton.

Kebiasaan membaca itu terbawa hingga aku di perguruan tinggi. Karena aku mengalami masa riuhnya politik 1998, maka aku pun saat itu menyukai buku-buku sosial politik. Baru setelah beberapa tahun berlalu, aku mulai beralih ke buku senirupa. Sempat juga aku menyukai novel sastra macam tulisan Ayu Utami. Dan Supernova-nya Dee adalah novel terakhir yang kubaca.

Kini aku hidup dengan seorang istri yang juga mencintai buku. Kami berangan-angan jika nanti kami punya rumah sendiri, salah satu ruangannya haruslah ruang baca dengan buku sebagai kepalanya. Syukurlah, anakku tampaknya akan mengikuti jejak ayah ibunya.

Dari semua buku yang pernah aku baca, lima buku yang berkesan buatku adalah (1) Melukis itu Menulis (AD.Pirous), (2) Lifestyles (David Chaney), karena sekarang aku lagi menekuni masalah komodifikasi aku lagi suka juga buku Cannibal Culture:Art, Appropriation & the Commodification of Difference (Deborah Root), kemudian (3) Palu Arit di Ladang Tebu (Hermawan Sulistyo), (4) Kreativitas dan Humanitas (Primadi Tabrani), (5) Hegemoni Antonio Gramsci (Andi Arief dan Nezar Patria). Buku terakhir ini merubah pandanganku tentang intelektual organik. Menjadi intelektual  itu tidak cukup tanpa kita berbuat sesuatu. (Diana AV Sasa)

Biodata

Nama                         : Obed Bima Wicandra

Tempat tanggal lahir: Kediri, 25 Januari 1977

Alamat           : Jl Siwalankerto 2B no 14 Surabaya

Telp                : 08585 110 2332

Email             : obedbima@yahoo.com

Pendidikan   : S1, DKV,  Institut Seni Indonesia, Yogyakarta( 1995-2001)

S2, Kajian Budaya dan Media, Universitas Gajah Mada,                                                         Yogyakarta(belum tamat)

Aktivitas        :  Pendiri komunitas Tiadaruang

Dosen Desain Komunikasi Visual UK Petra Surabaya

Karya Mural:

2009 Play Hard Study Hard mural di bekas MitraNet Petra, Bernafas dengan Asap Viaduk Gubeng Ketabang Kali bersama Denis Brun, seniman Prancis, Kabar Burung Mahotsawa Salaksa Karya II Jagir Sidosermo 8, 2008 Cinca Indownesya Dinoyo 2007 Proklamasi Hati mural project, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, Playstaytune Jogja Bienale IX, Jogja National Museum, 2006 Untuk Lingkungan yang Lebih Baik-mural project, Siwalankerto, Surabaya2005 Apa Kabar Calon Walikota Hari Ini? Street Art Project, Surabaya, Solidarity and Peace-Mural Project Surabaya,Dari Kami untuk Surabaya-Baliho mengelilingi Balai Kota Surabaya

1 Comment

risa - 25. Jan, 2013 -

selamat malam pak
saya mau bertanya, kira-kira judul buku yang sesuai utk menjelaskan kondisi mural di jaman orde baru apa ya pak?
terimakasih

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan