-->

Lainnya Toggle

Karya-karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo

Karya-karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo
Penyusun/Penyunting: Iswara N Raditya | Muhidin M Dahlan
Cetakan I: Desember 2008
Penerbit: IBOEKOE
Tebal: 1060 hlm
Ukuran: 15 x 24 cm (hard cover)
ISBN: 978-979-15093-9-8
Harga: Rp 400.000

Cover_Tirto Adhi Soerjo_NEWTirto Adhi Soerjo, bapak dari bapak bangsa Indonesia, sang dinamo pergerakan nasional, perintis penyadaran bangsa agar bergegas bangun dari tidur untuk menanggalkan nasib sebagai bangsa yang terprentah.

Ironisnya, kiprah penting dan menentukan Tirto itu nyaris tanpa riuh, hanya lamat-lamat terdengar. Dan sejauh ini, Pramoedya Ananta Toer adalah satu-satunya orang yang dengan serius mengulas sosok seorang Tirto Adhi Soerjo.

Berpengharapan melanjutkan tradisi Pram, buku ini mencoba menggali lebih dalam tentang Sang Pemula itu; lebih khusus menggelar karya-karya yang pernah ditulis Tirto Adhi Soerjo, dinukil langsung dari suratkabarnya: Pembrita Betawi, Soenda Berita, Medan Prijaji, Soeloeh Keadilan, serta Potri Hindia.

Kurun edar koran-koran yang memuat seabrek tulisan Tirto Adhi Soerjo ini—setelah melalui proses pengetikan ulang dengan penyesesuaian ejaan demi memudahkan pembaca dan dituangkan kembali dalam bentuk buku ini—berkisar antara tahun 1902 – 1909.

Menyusuri seluruh tulisanTirto, tahulah kita ia adalah seorang pribadi yang kompleks. Ia adalah seorang jurnalis terlatih dan penulis yang tajam tanpa basa-basi. Melalui tulisan-tulisannya tak jarang Tirto membikin takut para pejabat yang berkelakuan tak patut. Dari pejabat rendahan di daerah hingga Gubernur Jenderal di pusat pemerintahan pernah merasakan nyerinya sabetan pena Tirto yang bertuah itu.

Selain kesohor sebagai jurnalis dan pejuang pers, Tirto ternyata juga dedengkot kebangkitan bangsa Indonesia lewat gerakan perhimpunan. Organisasi priyayi yang didirikan Tirto pada tahun 1906 bahkan dua langkah lebih dahulu dari Boedi Oetomo (BO).

Tapi beruntung BO memperoleh momentum yang tepat dan nasib yang mujur. Dalam garis baku sejarah pergerkan nasional indonesia, BO lantas didaulat sebagai organisasi kebangsaan yang pertama.

Tirto juga seorang pencatat yang tekun. Ia melakoni peran sebagai seorang kronikus yang mencatat pelbagai peristiwa yang terjadi dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat.
Catatan harian Tirto ini menjadi harta karun yang tak ternilai harganya karena kala itu tak banyak orang yang mau meluangkan waktu untuk melakukan pekerjaan yang sering dianggap remeh.

Tulisan-tulisa Tirto menjamah nyaris segala tema kehidupan; politik, sosial, budaya, agama, pendidikan, hukum, ekonomi, juga kedokteran. Bidang yang terkhir ini tak lepas dari karir pendidikan Tirto yang sempat mengenyam bangku sekolah dokter bumiputera terkemuka kendati tak sampai lulus. Dia juga prigel menulis sastra. Sederat cerita fiksi dan semifiksi pernah ditulisnya, mulai dari cerita pendek, cerita bersambung, bahkan cerita pewayangan.

Dalam praksis politik, Tirto mempraktikkan strategi politik dua kaki (kooperatif dan nonkooperatif); dengan korannya ia bisa galak dengan feodalisme dan kolonialisme. Namun di sisi lain ia juga bisa intim dengan Gubernur jenderal dan aparaturnya sebelum ia kena vonis sebagai Pribumi yang paling berbahaya bagi politik Hindia jika dibiarkan terus bebas.

————————————

BUKU INI DICETAK TERBATAS. TERTARIK? BEGINI CARA PEMESANANNYA:

  1. Bagi yang tinggal di Jogjakarta bisa datang sendiri ke kios buku Gelaran Ibuku yang beralamat sama dengan Indonesia Buku.
  2. Bagi yang memesan via ponsel 0888-6854-721 (MBAK NURUL HIDAYAH) dan/atau surel (iboekoe@gmail.com), mohon menyebutkan judul dan jumlah eksemplar yang diinginkan. Buku langsung dikirim ke alamat pemesan jika pembayaran sudah ditransfer ke rekening Indonesia Buku.
  3. Rekening I:BOEKOE: BCA 4450813791 atau BNI 0116544928 atas nama Nurul Hidayah.

3 Comments

Saut Situmorang - 19. Okt, 2009 -

Rasanya di abad 21 ini kita gak perlu lagi membikin mitos-mitos yang gak kontekstual dengan realitas historis suku-suku yang membentuk “Indonesia” ini kan, seperti kutipan iklan di bawah. Bangsa Batak aja baru dijajah Belanda Kimaknya itu di tahun 1907. Tirto Adhi Soerjo mungkin relevan bagi konteks Pulau Jawa doang. Kita harus mulai meninggalkan pembuatan klaim-klaim besar yang sifatnya asersif atas sejarah “Indonesia”.

“Tirto Adhi Soerjo, bapak dari bapak bangsa Indonesia, sang dinamo pergerakan nasional, perintis penyadaran bangsa agar bergegas bangun dari tidur untuk menanggalkan nasib sebagai bangsa yang terprentah.”

yusandi - 30. Jan, 2010 -

dan Tirto ini jarang sekali disinggung sebagai tokoh perintis kemerdekaan dengan Sarekat Dagang Islamiyah dan “Medan Prijaji”-nya–meski masih menggunakan kata “priyayi” karena ia memang anak Bupati Blora.
Angkat topi buat Sang Pemula ini!!!!

eko darmoko - 03. Mei, 2010 -

membicarakan indonesia; bingung di antara semak-semak belukar yang mengepungnya! dari dan bagaimana kita harus memetakan indonesia?

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan