-->

Lainnya Toggle

Juragan Rokok pun Tahu Pentingnya Buku

::Oleh Diana AV Sasa::

Suatu hari, kamitua dan diplomat kawakan Indonesia, Haji Agus Salim, hadir dalam penobatan Elizabeth II sebagai Ratu Inggris di Istana Buckingham. Ia menghampiri Pangeran Philip seraya mengayun-ayunkan rokok kretek. Sang Pangeran terlihat penasaran dengan aroma kretek yang dihisap Salim.

“Paduka, adakah Paduka mengenali aroma rokok ini?” kata Salim. Setelah mencoba menghirup-hirup bau asap rokok kretek itu, Sang Pangeran mengaku asing dengan aroma itu. Sambil tersenyum, Salim lalu berkata, “Paduka, inilah sebabnya 300 atau 400 tahun yang lalu bangsa Paduka mengarungi lautan mendatangi (menjajah) negeri kami.”

Cerita Salim itu memberi sepotong gambaran bagaimana tembakau menjadi salah satu candu yang memandu galeon-galeon Negeri Utara menaklukan negeri-negeri di bawah angin, yakni Nusantara.

Dalam peta rempah, Nusantara memang salah satu penghasil tembakau dan cengkeh terbesar di dunia. Wajar kemudian industri rokok berdiri sangat suburnya. Bahkan dalam catatan tahun 2005, negara berhasil meraup cukai sebanyak 29 triliun dari rokok.

Kabar baiknya itu. Kabar buruknya: nyaris seluruh dokter di dunia ini jika ditanyakan soal rokok akan menyumpahinya habis-habisan. WHO bahkan harus mengeluarkan memo yang merindingkan bulu kuduk: jika tak serius dan keras mengatur peredaran rokok, satu milyar penduduk terancam mati di ujung batang candu ini.

Salah satu terdakwa utama dari semua “kejahatan” ini tentu saja juragan rokok. Nyaris semua dosa dan kutukan itu mesti dipundaki oleh mereka, walau mereka sudah menempelkan peringatan di setiap kemasan rokok: “Rokok dapat menimbulkan kanker, serangan jantung, impotensi, ganguan kehamilan dan janin”.

Mungkin dosa itu tak termaafkan sama sekali. Tapi ada seorang juragan rokok yang tahu bagaimana mengurangi bobot dosa sosial itu dengan jalan buku. Namanya George Arents. Ia kolektor ‘tembakau’ yang hidup di abad-19. Arents besar di lingkungan keluarga pengusaha rokok di New York. Ayahnya membangun bisnis rokok itu dari nol.

Arents ini punya hobi istimewa. Selain menjadi pemegang tali komando perusahaan rokok milik keluarganya, ia juga menaruh  minat yang begitu besar untuk mengoleksi segala hal tentang tembakau (rokok). Semuanya berawal ketika di  usianya yang ke-18, ia membeli selembar pamflet A Pinch of Snuff, seharga $2.25. Pamflet itu seperti magnet yang menuntunnya untuk mengumpulkan segala sesuatu yang ‘berbau’ tembakau.

Mula-mula Arents hanya mengumpulkan gambar, sketsa, pamflet-pamflet, atau pernik-pernik, yang terdapat dekorasi tembakau(rokok)nya. Kerap elemen tembakau itu hanya seupil; sekadar pelengkap dan bahkan nyaris terabaikan jika tak dipelototi dengan seksama.

Lantaran koleksi sudah membludak, terbersit di pikiran Arent bagaimana menyusun barang-barang itu. Apa hanya memajangnya begitu saja di rumah, menjualnya, atau dimusnahkan karena terlalu banyak dan tak terawat? Tapi Arents sadar bahwa sejarah itu penting. Dan tembakau adalah subjek pengubah sejarah dunia, sebagaimana dikatakan Agoes Salim di depan.

Mulailah Arents menekuni hobi baru: mencari dan mengoleksi buku-buku yang menceritakan hal-ihwal tembakau, prosedur menanam dan merawat tembakau, hingga buku yang membahas penjualannya.

Ia juga mengkliping ulasan di media cetak yang membahas manfaat maupun kerugian yang ditimbulkan tembakau. Termasuk berita ekonomi seputar perdagangan tembakau dan rokok. Tak ketinggalan dokumen-dokumen perusahaannya. Kliping itu disusunnya dengan rapi, diberi sampul, dan dijilid dalam beberapa volume.

Tak berhenti di situ saja. Untuk memperkaya koleksinya, Arents mulai menyusur manuskrip-manuskrip tua, jurnal-jurnal perdagangan dan kesehatan, lembaran-lembaran perusahaan, lukisan para pelukis besar, buku-buku satra, hingga lagu dan puisi yang di dalamya terdapat unsur tembakau (rokok).

Di antara koleksi Arents itu ada narasi berjudul Bapa Abraham karya William Faulkner yang mengisahkan seorang lelaki yang terus-menerus “mengunyah tembakau dengan perlahan dengan ketukan teratur, dan nyaris tak seorang pun melihat kelopak matanya mengatup”. Ia juga punya lukisan yang diyakini karya Vincent van Gogh yang menggambarkan sesosok lelaki tegap duduk sambil ngemut cerutu.

Manuskrip Oscar Wilde, The Importance of Being Earnest, masuk juga dalam daftar buruan Arent karena ada satu bagian dalam kitab itu mengisahkan tentang rokok. Selain itu juga ada secarik puisi di pengujung abad 16 karya Robert Devereux, seorang pangeran dari Essex, yang menyelipkan sepotong kalimat, ”Bukannya tembakau yang membuat otakku tolol.”

Buruan lain Arents adalah kartu rokok. Kartu ini biasanya diselipkan ke dalam bungkus rokok yang berguna sebagai pelindung dan sekaligus iklan. Biasanya dalam kartu itu berisi macam-macam soal dan berseri. Misalnya, ada seri “Kekuasaan dan Kekaguman” yang berisi aneka ilmu pengetahuan alam yang terdiri atas 250 jenis gambar.

Kartu-kartu itu oleh Arents ditempel dan disusun di atas kertas kosong dengan rapi. Kemudian setelah lengkap satu seri, dia lalu menjilidnya. Demikian pula yang dilakukan pada kertas rokok dan dokumen-dokumen perusahaan hingga menjadi ratusan jilid banyaknya.

Inilah keseluruhan daftar koleksi Arents dari sebuah kegilaan: 125 ribu jenis kertas rokok, ribuan buku tentang rokok, juga puluhan seri “kartu rokok”. Dari koleksi itu, Arents menjadi salah satu sejarawan terbesar dunia yang mengawetkan ingatan kita tentang sejarah panjang tembakau.

Hingga 1942, Arents pun memutuskan untuk menghibahkan seluruh koleksinya pada New York Public Library berikut seorang karyawan tetap, biaya perawatan koleksi, serta sumbangan untuk perbaikan perpustakaan. Arents ingin koleksinya bisa terawat sebagaimana dia memperlakukannya di rumah.

Inilah cara Arents menghela kutukan masyarakat. Dengan membuka lini sejarah tembakau dan menyokong dana perawatan perpustakaan, paling tidak masyarakat memiliki sangu pengetahuan tentang dunia tembakau dan seluruh entitas yang menyertainya. Termasuk industri yang menghelanya.

Di Indonesia, kita punya tujuh industri raksasa rokok. Sebut saja Gudang Garam di Kediri, Djarum di Kudus, Bentoel di Malang, serta Sampoerna di Surabaya. Industri terakhir ini bahkan memiliki museum sendiri di Surabaya yang bisa dikunjungi masyarakat. Tapi dalam museum itu tak satu pun lini kepustakaan yang mengulas lengkap sejarah panjang rempah dan tembakau di negeri bawah angin ini.

Memang, Djarum dan Sampoerna sudah punya lini untuk memberi beasiswa kepada pelajar yang berprestasi. Tapi kita masih menunggu industri-industri raksasa itu membenahi perpustakaan-perpustakaan kota yang dikelola secara serampangan dengan dana yang melas.

Dinukil dari Oase Kompas, rubrik Jeda, SENIN, 28 SEPTEMBER 2009 | 20:11 WIB

1 Comment

teguh budi - 02. Okt, 2009 -

kreatif juga dia….

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan