-->

Lainnya Toggle

Ibu-Ibu Plaza de Mayo:Dirikan Universitas dan Toko Buku untuk Melawan Lupa

Mulai 1977 hingga kini, ibu-ibu Plaza de Mayo terus mencari kejelasan nasib anak-anak mereka yang diculik junta militer Argentina. Mereka juga berkeliling dunia untuk menyemangati yang bernasib serupa.

Midnight, our sons and daughters

Were cut down and taken from us

Hear their heartbeat… We hear their heartbeat

SEWAKTU akan menyanyikan lagu Mothers of the Disappeared di atas di sebuah konser, Bono -vokalis U2- menyatakan menulis lagu itu setelah bertemu dengan Comadres pada awal 1980-an. Comadres adalah sekumpulan ibu di El Salvador yang kehilangan anak-anak nya karena diculik rezim militer setempat yang berkuasa.

“Anak-anak para ibu itu diculik di malam hari dan setelah itu tak jelas lagi rimbanya,” kata Bono seperti dikutip sebuah situs fans U2.

Tapi, Bono juga tahu, Comadres mendapatkan semangat mencari kejelasan nasib buah hati mereka dari Argentina. Di negara itulah, sejak 30 April 1977 hingga kini, tiap Kamis sore sekelompok ibu berkumpul di Plaza de Mayo. Di tempat di depan Istana Casa Rosada di pusat Kota Buenos Aires itulah, dengan ciri khas tutup ke pala warna putih, para ibu tersebut terus menyuarakan tuntutan investigasi atas hilangnya anak-anak mereka selama era junta militer di bawah Jenderal Rafael Videla Redondo. Mereka tak pernah absen melakukan itu hingga kini! Kepada merekalah juga, Mothers of the Disappeared ditujukan.

Era junta militer Argentina tersebut berlangsung 1976-1983. Itulah yang kerap disebut era “Perang Kotor”. Militer mengakui sudah menculik sekitar 9 ribu warga sipil Argentina. Tapi, Asociacion Madres de Plaza de Mayo (nama Spanyol kelompok tersebut, Red) mengklaim bahwa jumlahnya tiga kali lipat lebih banyak dari itu.

Mereka rata-rata adalah anak-anak muda yang mendukung gerakan kiri. Umumnya, mereka diculik pada malam hari. Kabarnya, banyak di antara mereka yang kemudian dibuang ke laut setelah lebih dahulu tangan dan kakinya dipotong. Juga, identitasnya dihilangkan.

Sebuah laporan BBC menyatakan, hilangnya jejak para korban yang tak ada dokumentasinya sama sekali bukan tanpa alasan. Sejumlah analisis menyebutkan bahwa hal itu terkait dengan dukungan Amerika Serikat terhadap negara-negara Amerika Latin untuk memerangi ideologi kiri. Selain Argentina, AS mendukung rezim Agusto Pinochet di Cile dan beberapa negara lain dengan misi yang sama.

Tapi, para ibu Plaza de Mayo tak pernah menyerah. Dengan segala risiko, mereka terus berjuang melawan junta. Tak sedikit di antara mereka yang dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh. Misalnya, itu menimpa dua ibu yang menjadi pionir, Esther Careaga dan Maria Eugenia Bianco

Namun, begitu satu orang lenyap, yang lain segera muncul menggantikan. Dari awalnya dipelopori 14 ibu, kelompok tersebut tumbuh menjadi ratusan anggota. Dukungan untuk mereka juga datang dari berbagai penjuru. Mulai anak-anak muda yang terinspirasi revolusi ala Fidel Ramos di Cile sampai para cendekiawan.

Dengan bantuan dana dari para donatur, para ibu pemberani tersebut mendirikan universitas, toko buku, perpustakaan, dan pusat kebudayaan. Tujuannya satu, warga Argentina dan mereka yang berkuasa jangan sampai lupa.

“Yang mereka lakukan benar-benar bentuk transformasi total perpolitikan Argentina,” tandas Marguerite Guzman Bouvard, salah seorang cendekiawan pendukung kelompok itu, seperti dikutip Wikipedia.

Untuk menggalang dukungan sekaligus menyebarkan semangat, para ibu Plaza de Mayo juga kerap berkeliling dunia. Pada 16-22 April lalu, dua di antaranya mampir ke Indonesia, yaitu Lydia Taty Almeida dan Aurora Morea. Mereka berbagi pengalaman dengan keluarga korban penghilangan orang dengan sengaja yang tergabung dalam berbagai organisasi dan komunitas seperti Kontras, IKOHI, dan JSKK (Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan).

Menurut mereka, para ibu Plaza de Mayo tetap bersemangat meski sampai kini baru 44 kasus penghilangan paksa yang masuk sidang dan 526 menunggu sidang. “Kami terus berupaya untuk saling mengingatkan agar kekejaman itu tak sampai dilupakan dan jangan sampai terulang,” tegas Au rora Morea yang sudah berusia 84 ta hun dalam wawancara dengan majalah Tempo(cak/ttg)

Dinukil dari Rubrik Internasional Jawa Pos edisi 4 Oktober 2009 dengan judul asli “Ibu-Ibu Plaza de Mayo, 22 Tahun Perjuangkan Korban Perang Kotor: Dirikan Universitas dan Toko Buku untuk Melawan Lupa”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan