-->

Kronik Toggle

Diluncurkan: Oeroeg, karya sastrawan Hindia-Belanda, Hella S. Haasse

Terjemahan bahasa Indonesia roman: Oeroeg karya sastrawan Hindia-Belanda, Hella S. Haasse, diluncurkan. Masih relevan dibaca sampai kini.

“…Oeroeg mengusulkan kami berenang di sungai yang mengalir dengan bunyi menarik dan menggemeriik melalui bebatuan. Sungai itu setengah tersembunyi di bawah semak-semak yang merunduk. Kami melempar pakaian-pakaian sehingga menumpuk di antara semak-semak itu, lalu turun ke air yang segar dan sebening kaca..”

Itulah kenangan bahagia masa kecil tokoh Aku tatkala sehari-hari keluyuran bersama temannya yang bernama Oeroeg. Tokoh Aku adalah anak seorang administrateur Belanda, seorang pengurus perkebunan di zaman Hindia-Belanda. Sedangkan Oeroeg adalah pribumi, anak sulung dari mandor ayah si aku.

Novel berlatar Sukabumi zaman kolonial karya penulis roman Belanda, Hella S. Haasse, tersebut diterbitkan pertama kali pada 1948 dalam bahasa Belanda. Tahun ini, buku tersebut dicetak kembali oleh Gramedia dengan kemasan sampul berbeda dan dialihbahasakan ke bahasa Indonesia.

Hella Serafia Haasse, 91 tahun, sang penulis, sayang tak sempat menghadiri peluncuran kembali buku tuanya itu di Eramus, Senin lalu . Helena kelahiran Batavia–sekarang Jakarta–pada 2 Februari 1918. Ibunya adalah seorang pianis bernama Katherina Diehm-Winzenhohler dan ayahnya seorang inspektur keuangan pemerintahan kolonial Belanda bernama Willem Hendrik Haasse. Lewat pekerjaan ayahnya, kehidupan di Indonesia pernah dirasakan Hella.

Peluncuran buku ini merupakan bagian dari kampanye Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia dalam rangka The Netherland Read, hingga 20 November 2009. Kampanye buku-buku Belanda ini telah berlangsung sejak 2006, dengan debut perdana memperkenalkan buku Double Play karya Frank Martinus Arion.

Oeroeg, novel berisi 144 halaman, bercerita tentang persahabatan dua anak lelaki yang berbeda strata sosial di zaman kolonial. Ceritanya mengambil latar belakang kehidupan masyarakat di perkebunan Kebon Jati, jauh di pedalaman Pegunungan Priangan, Sukabumi, Jawa Barat. Percakapan mereka sehari-hari dalam bahasa Sunda. Haasse menempatkan dirinya sebagai orang pertama dalam dalam cerita, yakni Aku.

Dari sampul, kita sudah bisa menangkap bahwa isi novel bakal bercerita tentang soal perbedaan sosial itu. Cover bergambar dua anak lelaki berdiri di bawah deras hujan, yang satu lengkap bersepatu, berambut terang, dan mengenakan payung. Sedangkan di sebelahnya bisa dipastikan bahwa itu adalah Oeroeg, anak inlander yang bertelanjang dada dan kaki, berambut gelap, serta berlindung di bawah daun pisang. Di halaman enam novel tersebut, perbedaan sudah dihadirkan. Disebutkan bahwa Oeroeg adalah anak inlander, pribumi.

Lalu jurang sosial itu semakin diruncingkan Haasse antara pekerjaan ayah Aku dengan ayah Oeroeg, antara tuan dan mandor. Haasse pun mengisahkan bahwa Oeroeg bisa ber sekolah tinggi hingga MULO, sistem pendidikan kolonial setara dengan SMA, atas balasan terhadap jasa ayah Oeroeg yang meninggal karena menyelamatkan anak seorang tuan Belanda.

“Ini bukan kesalahan dan kekeliruan Haasse, tapi anggap saja sebuah kejujuran,” ujar Putu Oka Sukanta, sastrawan yang menjadi pembicara dalam peluncuran dan diskusi buku tersebut di Erasmus Huis kemarin. Menurut Oka, ada celah yang dilupakan Haasse. “Kenapa Haasse tidak menguak perubahan watak Oeroeg saat bangkitnya gerakan pemuda mahasiswa yang melawan penjajahan kala itu,” ujar Oka. Tapi Putu mengakui bahwa cara tutur Haasse secara enak mampu mengajak pembacanya menyelami situasi Indonesia zaman itu. “Haasse menulis cerita ini dengan mengalir,” katanya.

Akan halnya Radhar Panca Dahana, pembicara lain dalam diskusi, yang mengatakan setelah membaca kisah Aku dan Oeroeg, ia merasakan perbedaan ras sosial yang diceritakan Hella S. Haasse itu kerap masih terasa di kehidupan sehari-hari saat ini. “Meski ini fiksi, Oeroeg menjadi bagian perjalanan dari bangsa kita,” kata Radhar. AGUSLIA

* Dinukil dari Harian Koran Tempo Edisi 7 Oktober 2009

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan