-->

Kronik Toggle

Buku Tepat, si Kecil Cerdas

BUKU adalah gudang ilmu. Untuk itu, kenalkan buku pada si buah hati sedini mungkin. Agar hasilnya maksimal, pilihlah buku yang sesuai dengan usia buah hati.

Hampir semua orang mengetahui manfaat sebuah buku. Selain sebagai sumber pengetahuan, buku juga membuat pikiran dan wawasan terbuka. Hal itu tidak saja berlaku bagi orang dewasa, anak-anak pun akan mendapatkan manfaat yang sama jika diajarkan membaca buku yang cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwanya. Banyak sekali jenis buku dijual di toko buku hingga kaki lima.

Beragam pilihan buku pun bisa didapat secara mudah. Namun, jangan sampai kemudahan dan semua fasilitas itu membuat anak-anak menjadi rusak karena membaca buku yang tidak sesuai usia. Jika itu terjadi, anak akan mengalami kecenderungan berfantasi seperti apa yang telah dibacanya.

Itu akan semakin buruk jika yang dibaca adalah buku-buku yang mengandung nilai kekerasan, pornografi, atau buku yang bernuansa menyesatkan. Misalnya kartun, tetapi dengan jalan cerita orang-orang dewasa.

Mengatasi masalah bacaan pada anak, memang tidak mudah, apalagi untuk mengawasinya. Bisa saja anak yang di rumah terlihat alim dan penurut, tetapi di lingkungan permainan atau di sekolah anak mendapatkan buku-buku yang tidak sesuai dengan usia.

Entah itu dibawakan teman-temannya, atau bisa pula dengan meminjamnya di penyewaan buku yang tidak membatasi apa yang boleh dibaca dan mana yang tidak. Peran orangtua sangat dibutuhkan untuk mengawasi buku yang dibaca anak-anaknya. Tanpa pengawasan, anak akan leluasa dan menganggap biasa untuk membaca buku orang dewasa, yang notabene tidak sesuai dengan usianya.

“Agar anak tidak menyimpang dari buku yang ingin dibacanya, diperlukan ketegasan orangtua. Tidak masalah menghukum anak jika ketahuan membaca bukubuku terlarang,” kata guru SDN Pisangan Jakarta, Wiwit Kartika, saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Agar anak tidak salah memilih, ada baiknya orangtua menyediakan buku di rumah. Atau jika tidak punya, ajaklah anak untuk meminjam buku di perpustakaan sekolah atau perpustakaan nasional.

Pada usia balita hingga SD, anak biasanya lebih menyukai komik karena mudah dicerna. Selain bergambar, cerita komik biasanya lebih sederhana. Kebanyakan orangtua lebih suka mengenalkan komik pada anak-anak untuk mendorong minat baca mereka, tetapi pilihlah buku cerita yang tidak mengajarkan kekerasan.

“Anak memang memiliki kebiasaan meniru apa yang didengar, dilihat, dan dirasa. Pilihlah buku yang tidak menuliskan kalimat-kalimat kasar,” kata pengajar berjilbab itu. Proses yang tidak kalah penting yang harus dilakukan orangtua adalah mengenalkan buku.

Proses pengenalan dilakukan secara bertahap. Misalnya memilih buku yang berisi nilai-nilai kebaikan dan keburukan yang digambarkan lewat tokoh binatang yang ada di dalamnya.

“Tokoh seperti itu bisa ditemukan secara mudah dalam cerita bergambar untuk anakanak balita,” kata dia.

Seiring dengan semakin bertambahnya usia anak, buku yang dijadikan bacaan juga bisa diganti dengan buku yang bercerita tentang tokoh-tokoh legendaris atau cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia.

“Cerita rakyat sangat cocok diberikan pada anak-anak SD. Namun, diselingi dengan buku-buku sejarah agar pengetahuan anak bertambah,” kata dia.

Lebih lanjut dikatakan pengajar berkulit sawo matang tersebut, anak usia SD sudah waktunya diajak untuk membaca buku nonfiksi yang sarat dengan fakta dan pengetahuan. Namun, tidak jarang anak tidak mau membaca buku tanpa gambar karena sulit mencernanya.

“Buku yang banyak tulisan memang mempunyai tantangan yang lebih tinggi untuk mencernanya, berikan pemahaman seperti itu pada anak,” tuturnya.

Sementara untuk usia SMP, anak sudah diizinkan membaca buku- buku remaja seperti buku petualangan dengan ratusan halaman, atau bisa pula buku yang mengajak anak untuk memecahkan sebuah misteri.

Buku seperti ini sangat bagus karena mereka akan berpikir untuk menyelesaikan masalah seperti yang ada di dalam buku yang dibacanya. Agar anak tidak kecanduan atau gemar komik, orangtua perlu mendampingi dan memberi masukan saat mereka memilih buku. Orangtua harus punya inisiatif untuk menemukan bahan bacaan buat anak.

Pilih yang ceritanya mengandung unsur pendidikan atau mendorong imajinasinya. Jika anak dipaksa untuk mengubah kebiasaannya secara cepat, misalnya dari komik, kemudian diberikan buku baru, bisa-bisa minat baca anak menjadi luntur.

“Mulailah secara bertahap.Terangkan pada mereka bahwa pengetahuan akan bertambah apabila mereka gemar membaca buku, bukan komik,” tambahnya lagi.

Beruntunglah anak-anak zaman sekarang. Mereka bisa dengan mudah mencari buku-buku yang mereka inginkan. Tak hanya mereka yang berkantong tebal. Mereka yang berkantong pas-pasan pun tetap bisa menikmati buku bacaan. Gratis malah. Salah satunya melalui program Mobil Pintar yang digagas Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono bersama dengan Solidaritas Istri Menteri Kabinet Bersatu.

Program berupa perpustakaan keliling ini sangat diminati oleh anak-anak Indonesia. Memang dibandingkan perpustakaan keliling, Mobil Pintar memiliki beberapa keunikan. Selain menyediakan buku,di perpustakaan keliling anak-anak juga dapat menikmati permainan-permainan dan tayangan edukatif yang disediakan, serta fasilitas komputer secara bersama-sama.

Selain itu, Mobil Pintar juga menyediakan tutor terlatih yang dapat membantu anak-anak belajar dan bermain. Ibu Ani berharap, Mobil Pintar, yang idenya berawal dari keluhan masyarakat yang ingin belajar namun tidak memiliki buku atau uang, dapat turut mencerdaskan anak-anak Indonesia sehingga cita-cita Indonesia yang lebih maju dan sejahtera dapat tercapai.(Bernadette Lilia Nova)

Dinukil dari Koran Sindo edisi 10 September 2009. Artikel ini juga dimuat di situs okezone.com

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan